Pancasila Kunci Keutuhan Indonesia

Senin, 5 Oktober 2015 22:37 WIB
351x ditampilkan Nasional

Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa merupakan kunci untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman paham kekerasan dan terorisme, kata akademisi Universitas Indonesia Dr Muhammad Luthfi Zuhdi.

 

"Banyak negara yang iri dengan Indonesia karena stabilitasnya luar biasa, meski di dalam negeri masih banyak permasalahan. Itu semua kuncinya adalah Pancasila," kata Luthfi di Jakarta, Senin.

 

Ketua Kajian Timur Tengah dan Islam Pascasarjana UI itu mengatakan, di dalam Pancasila terdapat nilai-nilai luhur untuk mewujudkan kehidupan bernegara yang damai dan tenteram, 

 

Di antara nilai-nilai Pancasila itu adalah mendorong terwujudnya civil society yang kuat, dan hal itu antara lain diwakili oleh keberadaan ormas Islam Nadhlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

 

Ia optimistis bila NU dan Muhammadiyah tetap berada di jalur yang benar, maka para pelaku penyebar propaganda paham kekerasan dan terorisme akan kesulitan bergerak di Indonesia.

 

Civil society yang kuat juga bisa berperan sebagai penengah jika terjadi konflik antarkelompok yang memungkinkan untuk diselesaikan secara damai. 

 

Kondisi berbeda terjadi di Timur Tengah. Luthfi mencontohkan apa yang terjadi di Mesir. Ikhwanul Muslimin dan militer sama-sama keras dan tidak pernah menemui titik temu. Menurutnya, itu terjadi karena civil society-nya lemah. 

 

"Di sana ada Al Azhar, tapi itu tidak kuat menandingi kekuatan militer dan Ikhwanul Muslimin. Yang terjadi, siapa yang kuat, maka dia yang menguasai," kata Luthfi.

 

Luthi mengaku tengah meneliti tentang faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya tindak kekerasan. Ia berharap penelitian itu bisa memberikan langkah-langkah bagaimana masyarakat bisa menangkal masuknya paham kekerasan. 

 

Ia menilai apa yang telah dilakukan pemerintah, dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sudah cukup bagus. Namun, ada beberapa hal yang harus ditingkatkan, agar upaya-upaya itu bisa memberikan hasil maksimal.

 

Hal senada diungkapkan mantan anggota teroris yang kini justru menjadi aktivis antiterorisme, Ali Fauzi Manzi. Menurutnya, Indonesia memiliki senjata yang ampuh dalam menangkal terorisme, yaitu ideologi Pancasila dan toleransi antarumat beragama.

 

"Para pelaku kekerasan dan terorisme menyerang sasarannya melalui ideologi dan agama. Bila ideologi kita yaitu Pancasila dan pemahaman agama, terutama Islam, semakin kuat, otomatis propaganda-propaganda kekerasan, terutama ISIS, akan 'mental' (terpental) dengan sendirinya," kata dia.Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa merupakan kunci untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman paham kekerasan dan terorisme, kata akademisi Universitas Indonesia Dr Muhammad Luthfi Zuhdi.

 

"Banyak negara yang iri dengan Indonesia karena stabilitasnya luar biasa, meski di dalam negeri masih banyak permasalahan. Itu semua kuncinya adalah Pancasila," kata Luthfi di Jakarta, Senin.

 

Ketua Kajian Timur Tengah dan Islam Pascasarjana UI itu mengatakan, di dalam Pancasila terdapat nilai-nilai luhur untuk mewujudkan kehidupan bernegara yang damai dan tenteram, 

 

Di antara nilai-nilai Pancasila itu adalah mendorong terwujudnya civil society yang kuat, dan hal itu antara lain diwakili oleh keberadaan ormas Islam Nadhlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

 

Ia optimistis bila NU dan Muhammadiyah tetap berada di jalur yang benar, maka para pelaku penyebar propaganda paham kekerasan dan terorisme akan kesulitan bergerak di Indonesia.

 

Civil society yang kuat juga bisa berperan sebagai penengah jika terjadi konflik antarkelompok yang memungkinkan untuk diselesaikan secara damai. 

 

Kondisi berbeda terjadi di Timur Tengah. Luthfi mencontohkan apa yang terjadi di Mesir. Ikhwanul Muslimin dan militer sama-sama keras dan tidak pernah menemui titik temu. Menurutnya, itu terjadi karena civil society-nya lemah. 

 

"Di sana ada Al Azhar, tapi itu tidak kuat menandingi kekuatan militer dan Ikhwanul Muslimin. Yang terjadi, siapa yang kuat, maka dia yang menguasai," kata Luthfi.

 

Luthi mengaku tengah meneliti tentang faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya tindak kekerasan. Ia berharap penelitian itu bisa memberikan langkah-langkah bagaimana masyarakat bisa menangkal masuknya paham kekerasan. 

 

Ia menilai apa yang telah dilakukan pemerintah, dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sudah cukup bagus. Namun, ada beberapa hal yang harus ditingkatkan, agar upaya-upaya itu bisa memberikan hasil maksimal.

 

Hal senada diungkapkan mantan anggota teroris yang kini justru menjadi aktivis antiterorisme, Ali Fauzi Manzi. Menurutnya, Indonesia memiliki senjata yang ampuh dalam menangkal terorisme, yaitu ideologi Pancasila dan toleransi antarumat beragama.

 

"Para pelaku kekerasan dan terorisme menyerang sasarannya melalui ideologi dan agama. Bila ideologi kita yaitu Pancasila dan pemahaman agama, terutama Islam, semakin kuat, otomatis propaganda-propaganda kekerasan, terutama ISIS, akan 'mental' (terpental) dengan sendirinya," kata dia.


(ant)