Kapal Singapura Penolong Ekonomi Masyarakat Pesisir Lingga

Jumat, 9 Oktober 2015 15:37 WIB
1201x ditampilkan Lingga

LINGGA - Kabupaten Lingga yang tidak hanya memiliki keindahan alam yang eksotis, tetapi juga memiliki potensi ekonomi lainnya. Dikarenakan secara geografis lokasinya yang sangat strategis, 96 persennya adalah lautan dan hampir 95 persen masyarakatnya bernotabene nelayan. Sudah barang tentu hasil tangkapan ikan para nelayan melimpah ruah.

 

Posisi tersebut pun mendukung sehingga kapal-kapal besar, baik lokal maupun asing, yang berasal dari negara-negara di Asia Tenggara, yakni salah satunya Kapal Singapura dengan setia menunggu, menjemput dan menampung hasil dari tangkapan kapal-kapal para nelayan pesisir Lingga.

 

Tercatat dua kali dalam seminggu Kapal dari Singapura tersebut memasuki perairan Lingga untuk membeli ikan hidup dan hasil laut lainnya dari nelayan tangkap di Lingga. Transaksi jual-beli pun tidak terjadi di darat saja melainkan di atas kapal di tengah laut.

 

Jenis ikan yang di tampung kapal Singapura tersebut mulai dari ikan hidup dan ikan mati. Dari beragam jenisnya, mulai dari Bilis, Udang dan ikan kerapu.

 

Walaupun belum ada klarifikasi dan informasi resmi tentang legalitas perdagangan ikan ditengah laut di Lingga oleh pihak terkait, para pedagang , pengumpul atau tengkulak berdalih bahwa selama ini penampung dari Singapura tersebutlah yang menjadi penunjang kebutuhan ekonomi mereka. Hal ini dikarenakan pemerintah setempat sendiri belum bisa mengakomodir hasil laut dari tangkapan para nelayan pesisirnya.

 

Dengan alasan karakteristik Kepulauan Lingga, yang memiliki 604 pulau kecil, menjadi kendala pihak pemerintah daerah belum bisa mengakumulasi jumlah hasil tangkapan nelayan. Akibatnya, hasil tangkapan laut nelayan yang sebagian besar diekspor dan menjadi komoditi pasar Singapura, seperti di Desa Tajur Biru, Penaah dan Rejai, Kecamayan Senayang tidak memberikan timbal balik kepada daerah.

 

Dari Informasi yang dihimpun media ini, seperti di Desa Tajur Biru, Penaah dan Rejai, Kecamatan Senayang, menjadi lokasi transaksi. Hasil tangkapan nelayan tersebut kemudian diangkut kapal-kapal kayu dan di bawa ke Cakang, Batam, maupun langsung ke Singapura. Dalam seminggu, ada dua kali kapal yang datang mengangkut hasil tangkapan nelayan Lingga. Baik jenis ikan karang seperti kerapu hidup dan mati. Kegiatan ini terus berlangsung dan menjadi penopang kebutuhan ekonomi masyarakat pesisir Kabupaten Lingga.

 

Sementara itu pengakuan seorang warga Tajur Biru, dalam seminggu tak kurang dari 140 ton ikan diangkut ke Batam dan Singapura. Hasil tersebut tidak seluruhnya, sebab, Penaah dan Rejai juga memiliki penampung langsung yang juga memasarkan ikan tangkapan laut ke luar negeri.

 

Melihat permasalahan yang terjadi, seharusnya pemerintah daerah membuka mata selebar-lebarnya, dimana dalam hal pengawasan dan pendataan ikan hasil tangkapan nelayan sama sekali tidak ada, sudah seharusnya hal ini menjadi perhatian pemerintah daerah.

 

Pasalnya mengingat daerah Kabupaten Lingga, dengan luas wilayah 96 persen lautan dan hanya 4 persen daratan, sudah seharusnya Kabupaten Lingga, berjaya dari hasil laut. Namun yang terjadi saat ini kabupaten Lingga, malah tidak bisa menikmati hasilnya sedikitpun.