Membangun Dunia Pendidikan Bagi Anak Negeri
Ya, tentunya jika melihat dari segi ukuran kualitas dan kuantitas dunia pendidikan menjadi cermin kemajuan sebuah peradaban. Kita lihat misalnya negara-negara maju selalu menempatkan pendidikan sebagai prioritas nomor satu dalam pembangunan. Hal ini erat kaitannya dengan budaya riset untuk peningkatan kemajuan teknologi dalam menghadapi persaingan global. Lalu bagaimana dengan negara-negara berkembang? Khususnya Indonesia, hal ini sepertinya masih jauh panggang dari api.
Padahal, Negara Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alamnya. Tetapi hingga kini masalah pendidikan di Indonesia masih menjadi isu sentral yang selalu dibicarakan semua orang, baik yang bersentuhan langsung dengan urusan pendidikan maupun tidak. Hal ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan yang perlu dijawab.
Hal itu bisa terjadi karena dunia pendidikan masih terkendala dengan adanya tantangan-tantangan yang perlu dihadapi. Ini dilihat dengan adanya anggapan “orang miskin dilarang sekolah” begitu melekat di tengah masyarakat, karena rendahnya kesempatan memperoleh pendidikan bagi masyarakat golongan ekonomi lemah. Melihat kondisi pendidikan Indonesia yang memprihatinkan tersebut, Guru Besar Universitas Waseda Jepang Profesor Toshiko Kinosita pernah mengemukakan pendapat bahwa sumber daya manusia Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. Penyebabnya karena pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Tidak ditempatkannya pendidikan sebagai prioritas terpenting karena masyarakat Indonesia, mulai dari yang awam hingga politisi dan pejabat pemerintah, hanya berorientasi mengejar uang untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berfikir panjang (Drs Nurkolis MM dalam artikel “Pendidikan Sebagai Investasi Jangka Panjang” di homepage Pendidikan Network).
Yang diperlukan di Indonesia sekarang adalah pendidikan dasar dan bukan pendidikan yang canggih. Anggaran pendidikan nasional seharusnya diprioritaskan untuk mengentaskan pendidikan dasar 9 tahun dan bila perlu diperluas menjadi 12 tahun. Selain itu pendidikan dasar seharusnya “benar-benar” dibebaskan dari segala beban biaya. Dikatakan “benar-benar” karena selama ini wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah tidaklah gratis. Apabila semua anak usia pendidikan dasar sudah terlayani mendapatkan pendidikan tanpa dipungut biaya, barulah anggaran pendidikan dialokasikan untuk pendidikan tingkat selanjutnya.
Di samping itu juga, kita tidak hanya harus memperhatikan kepada kenaikkan anggaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun.
Dari hal di atas, kita perlu belajar dari Negara India. Mengapa begitu ??? Karena satu hal yang cukup dilirik di India adalah pendidikan. Salah satu rahasia perkembangan ekonomi yang pesat di negeri ini ialah ketekunan di bidang pendidikan.
Memang, tak mudah mengelola pendidikan di negeri yang dihuni oleh lebih dari 1 milyar orang ini. Dari segi kuantitas, mungkin masih ada problem aksesibilitas warga miskin yang jumlahnya lebih dari 30% dari total populasi.
Tapi, dari segi kualitas, agaknya kita perlu belajar lebih banyak. Sanat Kaul (2006) dalam working papernya menunjukkan bahwa India dikenal luas sebagai salah satu negara yang terkemuka dalam technical manpower.
Dengan begitu, perubahan menuju tatanan kehidupan yang lebih baik pun akan terwujud sesuai dengan apa yang direncanakan dan apa yang diharapkan. Semoga!!!

