BULLYING SASARAN EMPUK PARA PELAJAR

Diterbitkan oleh Saiful pada Sabtu, 28 November 2015 10:21 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.028 kali ditampilkan

Moral anak Indonesia memang perlu di lakukan revolusi mental. Sebab pada usia dini anak Indonesia yang mana sebagai kaum pelajar khususnya sudah mulai melakukan tindakan penyimpangan di tengah berjalannya sebuah pendidikan. Untuk itu peran dan pengawasan orangtua serta guru-guru maupun dilingkungan sekolah sangat diperlukan, sebab kepribadian seorang anak terbentuk dari lingkungan keluarga terlebih dahulu.

 

 

            Istilah bullying memang sering kita dengar. Baik itu di lingkungan masyarakat, pendidikan, media massa serta media cetak. Bullying sebagai suatu tindakan yang mengganggu orang lain, bisa secara fisik, verbal, atau emosional. Bullying sering kali terlihat sebagai perilaku pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik ataupun psikologis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih ”lemah” oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih ”kuat”. Sebab bullying sudah terjadi dan menjamur dimana-mana. Banyak kaum pelajar yang tumbang dan berguguran akibat bullying yang dialami mereka saat menuntut ilmu.  Untuk itu banyak anak-anak yang takut untuk pergi kesekolah bukan karena takut dengan gurunya melainkan takut dengan teman sebayanya yang menindasnya secara fisik.


            Banyak faktor-faktor yang mendorong mengapa anak melakukan bullying terhadap teman sebayanya. Pada umumnya anak melakukan bullying karena merasa terhina, dendam, merasa terancam, tertekan dan lain sebagainya. Untuk itu mereka melampiaskan semua perasaan itu terhadap teman sebayanya, sehingga teman sebayanya tersebut mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan yang kerap bersasaran terhadap fisik. Oleh sebab itu perlu pengawasan dari orang tua maupun guru dilingkungan sekolah.


            Dihina, diteror melalui surat, difitnah, pemberian julukan nama yang aneh-aneh juga merupakan kasus bullying secara verbal. Ancaman-ancaman inilah yang menjadi ketakutan dalam kalangan pelajar, sebab hal inilah yang menjadi pendirian tidak kokoh atau down. Sehingga menjadi lemah dan sering ditindas seenaknya dengan anak yang memiliki kekuasaan khususnya dikelas.


            Yang lebih memilukan lagi terdengar sebuah kabar beberapa bulan yang lalu, bahwa anak berumur 5 th membakar teman sepermainannya hanya karena dendam sesaat yang mana korban tidak mengajak sipelaku main bersama sehingga terjadilah insiden memilukan ini. kejadian-kejadian ini juga dipengaruhi oleh film-film yang anak tonton. Banyak film film yang tidak bermoral yang mengandung kekerasan yang ditonton anak-anak sehingga, mereka mencoba melakukan hal tersebut seakan-akan mereka seperti actor difilm-film. Untuk itu perlu pengawasan orang tua dalam menunjukan sebuah tontonan kepada sang anak. Dalam memilih sebuah Kartun juga menjadi pengaruh dalam membentuk kepribadian anak. Sebab masih banyak kartun-kartun yang ditayang yang mengandung kekerasan sehingga Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memblokir film-film yang mengandung kekerasan bahkan pornografi.


            Setidaknya pendidikan moral selalu diajarkan kepada anak sejak dini baik itu dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Sebab hal itulah yang menjadi pembentukan kepribadian seorang anak. Menurut UU no 35 tahun 2014 perlakuan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak akan dipidana selama 3 tahun 6 bulan dan didenda sebesar 72 juta rupiah. Tetapi yang menjadi masalahnya adalah pelaku yang melanggar peraturan terebut adalah anak-anak yang dibawah umur artinya anak-anak yang baru beranjak remaja. Sebab anak-anak yang dibawah umur tidak  bisa dipidana dan dibawa kejalur hukum. Hal inilah yang menjadi hukum di Indonesia masih dikatakan lemah sebab adanya peraturan-peraturan yang belum sepenuhnya tepat dalam pengimplementasinya.


Untuk itu adapun saran saya dalm mengatasi bullying terhadap anak adalah:

1.      Hendaknya pihak sekolah membuat program pengajaran keterampilan sosial, problemsolving, manajemen konflik, dan pendidikan karakter aerta mengenalkan pendidikan moral.


2.      Hendaknya guru memantau perubahan sikap dan tingkah laku siswa di dalam maupun di luar kelas; dan perlu kerjasama yang harmonis antara guru BK, guru-guru mata pelajaran, serta staf dan karyawan sekolah.

3.      Sebaiknya orang tua menjalin kerjasama dengan pihak sekolah untuk tercapainya tujuan pendidikan secara maksimal tanpa adanya tindakan bullying antar pelajar di sekolah.

 

            Dengan begitu pengawasan yang dilakukan orangtua maupun guru di lingkungan sekolah dapat dijangkau. Untuk itu insyaAllah pelajar-pelajar Indonesia bebas dari bullying.