Harga Kedelai Mengancam Ketahanan Pangan Indonesia

Diterbitkan oleh pada Selasa, 22 Desember 2015 08:18 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.037 kali ditampilkan

Lonjakan harga kedelai saat ini mengancam ketahanan pangan di Indonesia yang akan berakibat buruk bagi masyarakat Indonesia, apabila masyarakat ketergantungan terhadap harga kedelai impor yang bebas bea masuk. Masalah ini merupakan masalah yang sangat serius dan bisa sangat mengancam gizi anak-anak bangsa. Maka judul ini saya ambil atas dasar tuntutan dosen dalam memenuhi syarat mata kuliah Sistem Ekonomi Indonesia dan menurut saya masalah ini menarik untuk dibahas.

 

 

 

 

 Saya berharap pembahasan ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan terutama dari pihak media surat kabar () untuk dapat menerbitkan Artikel saya ini, selain itu semua pihak yang ingin mengetahui lebih jelas masalah kedelai meningkat. Dan agar pembaca dapat mencermati dan memberi pemikiran bagaimana cara untuk mengantisipasi masalah kenaikan harga kedelai terhadap kerapuhan ketahanan pangan dapat kita hindari. Semoga pembahasan ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Sumber di dalam pembahasan saya ini, saya dapatkan melalui media internet, dan saya mengambil inti dari masalah ini. Baiklah untuk tidak memperpanjang penulisan saya langsung saja ke pembahasan dari judul diatas.

Indonesia adalah negara yang mempunyai banyak sumber bahan makanan protein misalnya kedelai yang merupakan komoditas pangan yang strategis, sehingga upaya berswasembada tidak hanya untuk pangan saja, akan tetapi dapat mendukung agroindustri dan menghemat devisa dan mengurangi ketergantungan impor.      

Pemerintah sebaiknya dapat mengambil langkah yang serius agar kenaikan harga kedelai ini tidak menyebabkan ketergantungan terhadap bahan pangan impor. Pemerintah dapat menggunakan cara berswasembada dengan menghemat devisa, karena jika harga dunia melonjak akibat stok turun dan jumlah kebutuhan manusia relative lebih besar dibanding jumlah produksinya dan diperparah dengan masuknya kedelai impor dari AS yang bebas bea masuk, maka petani di Indonesia tidak mampu bersaing. Kenaikan kedelai juga akan mengakibatkan jumlah masyarakat akan mengalami gizi buruk, terlebih lagi bagi masyarakat tidak mampu, Dan jika dibiarkan dalam jangka panjang Indonesia akan menghasilkan negara yang pertumbuhan fisik dan kecerdasannya memburuk.

Para  petani dan masyarakat sangat ketergantungan kedelai import, karena kedelai import mempunyai kualitas kedelai yang lebih baik dibandingkan kualitas kedelai lokal. Selain itu produksi kedelai lokal mulai berkurang, akibatnya harga pasaran tidak seimbang dengan biaya produksi. Menurut guru besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, prpof Dr. Ir. Sunarto, MS, berkurangnya pasokan kedelai lokal karena akibat menurunnya minat petani menanam kedelai. “Petani enggan menanam kedelai karena tidak termotivasi harga, hanya menjadi tanaman samben saja”ujarnya.

Tahun ini, berdasarkan Angka Ramalan I dari Badan Pusat Statistik (BPS) produksi kedelai mencapai 998 ribu ton, naik 5% dibanding tahun lalu. Namun, kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,3 juta ton, sehingga Indonesia masih harus mengimpor 1,4 juta ton kedelai tahun ini. Selain itu harga kedelai lokal di tingkat petani saat ini justru anjlok hingga di bawah Rp 6.000/kg. Sementara di sisi lain, harga kedelai impor justru melonjak sampai di atas Rp 7.000/kg hal ini menurut saya juga diakibatkan karena menguatnya nilai dolar Amerika Serikat (AS) hingga Rp 14.000. “Biaya yang dikeluarkan petani lokal untuk menanam kedelai mencapai Rp 7.000/kg, sementara harga jualnya saat ini di bawah Rp 6.000/kg”.

Ketergantungan Indonesia terhadap import kedelai semakin meningkat karena kualitas kedelai import yang jauh lebih baik dibandingkan kedelai local yang rasanya lebih enak dari kedelai import, namun kedelai lokal menurut beberapa pengrajin kedelai di Indonesia lebih cepat membusuk. Jika harga kedelai terus mengalami fluktuasi maka, Hal ini sangat membahayakan ketahanan pangan nasional. Peningkatkan produksi kedelai dalam negeri sangat penting karena harga kedelai sangat berpengaruh terhadap produk-produk yang memakai bahan dasar kedelai. Selain dari pada itu kualitas kedelai lokal juga harus ditingkatkan karena kebanyakan orang mengeluh dengan kualitas kedelai lokal yang katanya lebih keras di banding dengan kedelai impor yang lembut dan halus, hal ini juga membuat para pengrajin kedelai (Tahu dan Tempe) lebih memilih memakai kedelai impor dibanding kedelai lokal. Dan sebaiknya pemerintah dapat mengambil tindakan yang cepat dan tepat untuk masalah harga kedelai ini yang mengancam ketahanan pangan di Indonesia, bukan hanya mengancam ketahanan pangan Indonesia, masalah ini juga akan menimbulkan dampak perekonomian bagi Indonesia, sebab kenaikan harga kedelai yang sangat tinggi ini dan tidak sebanding dengan harga jual yang banyak membuat pengrajin kedelai gulung tikar. Namun masih juga ada beberapa pengrajin kedelai yang masih bertahan, namun dengan mengurangi ukuran dan disesuaikan dengan harga, dan masih ada juga pengrajin yang mencampur kedelai lokal dengan kedelai impor untuk meminimalisir biaya produksi.

 

 Dalam menanggapi hal ini ada baiknya pemerintah harus bisa mengambil kebijakan-kebijakan yang efektif dan efisien untuk para petani dan pengrajin kedelai, agar harga kedelai ini tidak terus mengalami fluktuasi dan pemerintah tidak hanya mengandalkan petanian import saja yang justru harganya lebih tinggi. Pemerintah juga harus menambah lahan yang menganggur untuk para petani maupun produsen tahu-tempe untuk mengoptimalkan swasembada pangan. Dengan begitu pemerintah dapat mengurangi import kedelai yang anggarannya bisa di manfaatkan untuk hal-hal lainnya, dan ketahanan pangan di Indonesia tidak lagi terancam karena dapat memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia.


*Mahasiswa STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang