Sanggar Seni Megad Syah Alam Gelar Pertunjukan Seni Bahasa dan Sastra Klasik

Diterbitkan oleh Saiful pada Senin, 11 Januari 2016 13:06 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 605 kali ditampilkan

LINGGA - Berangkat dari keinginan untuk menjaga, mengembangkan dan mengapresiasi khasanah bahasa melayu yang telah mendunia. Sanggar Seni Megad Syah Alam gelar Malam Purnama Bahasa, sebuah pertunjukkan yang berkonsep seni bahasa dan sastra klasik, di depan gedung musem baru Linggam Cahaya pada sabtu (9/1) malam.

 

Hasbi, salah satu penggiat sanggar Megad Syah Alam menjelaskan Malam Purnama Bahasa ini mengusung semangat khasanah bahasa. Bahwa di Daik Lingga khasanah pantun, syair, maupun Tabek, serta sejumlah khasanah bahasa lainnya masih berjalan sehari-hari ditengah masyarakat.

"Pertunjukkan ini digelar selama dua hari, yakni pada tanggal 9-10 Januari. Beberapa pertunjukkan dilakukan oleh sejumlah pelaku kesenian di Lingga," ujar Hasbi.

Dikatakan Hasbi, sejumlah apresiasi terhadap bahasa ini, juga dibarengi dengan khasanah apresiasi kedalam bentuk karya musik. Seperti yang diusung oleh Megad Syah Alam menampilkan kesebian musik bertajuk syair musik kedalam musik.

Para pelaku seni sastra klasik ini juga, kata Hasbi diantaranya mengundang pelaku yang masih menyimpan, menggunakan syair maupun khasah yang lain. Seperti mak Itam dari Pancur, serta Lazuardi sebagai pengamat sejarah di Lingga serta pelaku-pelaku yang tidak disebutkan nama.

Bahkan pada Malam Purnama Bahasa juga menampilkan sejumlah  pendokumentasian terhadap khasanah bahasa di Lingga melalui video dokumenter.

"Kita mengapresiasi, bahwa kesenian apa pun tetap membawa bahasa. Nah dari bahasa yang menunjukkan akal budi kita berusaha untuk apresiasi,"terangnya.

Lebih lanjut, Hasbi mengatakan apresiasi malam purnama bahasa juga dengan tujuan untuk memberikan semangat bahasa bahwa sejauh ini bahasa Melayu yang sudah mendunia, maka di malam purnama bahasa kita apresiasi dengan tujuan untuk mengulang ingatan bahwa bahasa kita  tidak terlepas dari penutur, alam, maupun Sang Khalik.

"Khasanah-khasanah ini kita bawa ke panggung sebagai apresiasi terhadap manusia sebagai objek alak budi," terang Hasbi.