Lima Objek Wisata Sejarah ini Wajib Dikunjungi Bila ke Kabupaten Lingga

Diterbitkan oleh pada Rabu, 27 Januari 2016 05:27 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 4.042 kali ditampilkan

LINGGA - Daik, ibukota Kabupaten Lingga merupakan salah satu daerah di wilayah Indonesia yang menyimpan banyak sejarah di nusantara ini. Mulai dari peninggalan masa kerajaan, sejarah, adat istiadat, kesenian daerah, tradisi hingga budaya yang hingga saat ini masih melekat dimasyarakatnya.

.

 

Dengan latar belakang sejarah kerajaan Melayu yang berpusat di Kota Daik sebagai Negara Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga dahulunya,  ibukota Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri ini menawarkan wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Berikut beberapa obyek wisata sejarah yang wajib dikunjungi saat berpelesir ke Daik, Kabupaten Lingga.

Situs Istana Damnah

Situs istana damnah ini merupakan jejak tapak sejarah kerajaan Lingga di masa silam, yang hingga kini masih bisa dinapaktilasikan. Meski yang tertinggal hanya reruntuhannya, situs ini tak bisa dipungkiri telah jadi bukti nyata sekaligus penguat fakta bahwa kerajaan Lingga tempo dulu pernah memasuki era kejayaan dan kegemilangan. Tak hanya wilayah cakupannya yang luas tetapi juga dari sisi budaya dan arsitekturnya.

Catatan yang ada menyebutkan, istana damnah ini dibangun pada tahun 1860 pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II (1857-1883). Fisik bangunannya berbentuk panggung dengan dua buah pintu masuk dan empat buah tiang penyangga yang terbuat dari beton. Di depan istana damnah ini ada bekas pondasi bangunan Balairung Seri yang dimasa silam, oleh kerajaan difungsikan sebagai tempat musyawarah dan pertemuan penting. Balairung Seri ini memiliki empat tangga utama yang berada disisi depan, samping kanan dan kiri serta satu lagi di bagian belakang.

Pada saat pusat kerajaan Riau-Lingga dipindahkan ke pulau penyengat pada tanun 1990 kota Daik mulai ditinggalkan. Istana Damnah yang megah juga ditinggal begitu saja tanpa penghuni dan akhirnya menjadi hutan belukar. Karena dibangun menggunakan bahan bangunan berupa kayu tropis, istana ini hancur. Yang tertinggal hanyalah sisa-sisa beton dan tiang dari semen yang terlihat kini.

Namun sebagai upaya untuk mengingat dan menjaga kelestariaannya, pemkab Lingga membangun replika istana damnah termasuk balairung seri yang tak jauh dari lokasi reruntuhannya. Saat ini replika istana damnah berikut balairung seri, difungsikan oleh pemerintah setempat sebagai tempat untuk menggelar pertemuan adat, menyambut tamu hingga menggelar pesta perkawinan adat melayu. Pada hari biasa, situs ini cukup ramai dikunjungi oleh warga, termasuk para pelancong. Selain itu sesekali juga disinggahi para sejarawan yang gemar meniliti sejarah.

Benteng Bukit Cening

Benteng Bukit Cening ini terdiri dari 19 meriam yang tersusun rapi diatas bantalan semen berukuran setengah meter. Sebagian menghadap keutara, sebagian lagi menghadap ke sisi timur. Kendati telah berumur ratusan tahun, kondisinya masih baik dan utuh. Sebagian diantarnya bahkan masih meninggalkan jejak berupa ukiran berwujud tulisan tahun pembuatan serta lambang pemilik dibagian pangkal batang meriamnya.

Benteng bukit cening sejak beberapa tahun belakangan telah menjadi salah satu situs sejarah penting yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Lingga. Terletak diatas bukit cukup tinggi dan berluas 32m x 30m, benteng ini secara administratif berada di kampung Seranggung, kecamatan Lingga. Posisinya sangat strategis, dari puncak bukit ini anda bisa menoropong kesegala penjuru lingga dengan mudah dan leluasa.

Literatur yang ada menyebut benteng ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah III pada tahun 1761 hingga 1812. Ke-19 meriam itu tidak semuanya memiliki ukuran dan bentuk yang sama. Meriam yang terpanjang berukuran 2,80 meter dengan diameter 12cm.

Oleh banyak kalangan, meriam tersebut kerap disebut dengan meriam Tupai Beradu. Penyebutan ini barangkali lebih karna bentuk gagang penyangganya yang menyerupai bentuk tupai. Meriam tersebut ditempatkan disisi paling tengah diapit oleh dua meriam berukuran lebih pendek yang dikenal sebagai meriam Mahkota Raja. Pembuatannya diperkirakan sekitar tahun 1797, sesuai dengan tahun yang tertera di pangkal meriamnya.

Sebagian meriam lainnya, ada yang bertuliskan VOC. Ada pula bertuliskan tahun 1783, ukurannya juga beragam tapu dipercaya merupakan buatan Belanda dan sebagian made in Portugis. Adapun soal penamaannya ahli sejarah lokal menyebutkan bahwa diantara meriam-meriam itu ada yang disebut dengan panggilan Meriam Puyuh Putih.

Terlepas dari talian sejarah, yang pasti kalau mengunjungi benteng ini anda akan dibuat kagum oleh keberadaan meriam-meriam yang hingga kini masih terjaga kelestariannya itu.

Museum Linggam Cahaya.

Kalau anda penyuka museum atau menggemari sejarah daerah, mengunjungi Museum Linggam Cahaya adalah pilihan yang tepat. Dari museum inilah, anda bakal memperoleh informasi aktual tentang perjalanan sejarah Kerajaan Lingga, melalui peninggalan benda-benda bersejarah yang masih tersimpan dan terjaga kelestariannya.

Berada di Kampung Damnah, Kota Daik, museum ini dibangun pada bulan agustus 2002, namun baru difungsikan sejak 11 Desember 2003. Tetapi saat ini museum yang lama pindah kebangunan yang lebih modern. Nama "Linggam Cahaya" sendiri bermakna suatu wilayah bebatuan yang memancarkan cahaya merah gemerlap jika dilihat dari kejauhan.

Sebagai satu-satunya museum di Kabupaten Lingga, koleksinya terbilang lengkap, dimana sebagian besar berasal dari sumbangan warga setempat. Berdasarkan kategorinya, ada sepuluh jenis benda cagar budaya yang tersimpan disana. Beberapa diantaranya adalah benda dari bahan kuningan. Yang termasuk kategori ini umumnya merupakan hasil produksi pada masa Sultan Muhammad Syah (1832-1841). Seperti paha (tempat meletakkan makanan atau lauk pauk), keto (tempat membuang ludah), tepak sirih, sanggan, sangku (tempat cuci tangan) embat-embat(tempat wewangian) dan lain sebagainya.

Lainnya adalah berbagai senjata untuk membela diri dan berburu, aneka pinggan dan mangkuk. Adapun bagi anda yang menyukai kain tenun, semisal kain telepok yang dibuat pada tahun 1700, cindai, mastuli, cekal dan gramsut. Kemudian melihat dari dekat kerangka gajah mina, sejenis satwa laut berkategori langka. Gajah mina ini ditemukan terdampar mati di Pantai Dungun pada tanggal 13 Januari 2005 dengan panjang pangkal ekor hingga ke kepalanya 12,4 meter dan memiliki gading sepanjang 2,4 meter.

Gambar pembesar era kejayaan masa kerajaan Melayu Lingga juga masih tersimpan baik di museum ini. Beberapa diantaranya gambar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II (1857-1883) yang dikenal sebagai sultan yang membuka tambang timah di Singkep. Gambar lain, yakni foto Sultan Abdurrahman Mua'zamsyah (1883-1911) serta Yam Tuan Muda Riau X Raja Muhammad Yusuf suami Tengku Embung Fatimah.

Kompleks Makam di Bukit Cengkeh

Kompleks Makam di Bukit Cengkeh merupakan satu diantara kompleks pemakaman para pembesar kerajaan Lingga yang berada di kota Daik. Di kompleks ini anda bisa melihat sekaligus menziarahi tiga makam sultan yang pernah berkuasa di Lingga tempo dulu. Ketiganya yakni makam Sultan Abdul Rahman Syah, Sultan Muhammad Syah II serta Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II.

Berbagai referensi menyebut bahwa, Sultan Abdul Rahman Syah berkuasa pada tahun 1812-1832. Ia adalah putra Sultan Mahmudsyah III yang merupakan Sultan Johor-Pahang-Riau-Lingga XVII (1812-1824) dan sultan Lingga Riau yang pertama (1824-1832).
Mangkat di Daik Lingga pada malam Senin 12 Rabiul Awal 1240 H (1832 M) dan bergelar "Mahrum Bukit Cengkeh".

Selain dikenal sangat alim dan giat menyebarkan agama islam pada masanya, Sultan Abdul Rahman Syah juga membangun sejumlah benteng seperti benteng Kuala Daik, benteng di Bukit Cening dan benteng di Pulau Mepar. Ia juga berandil besar dalam mengembangkan usaha penambangan timah di Singkep.

Adapun Sultan Muhammad Syah II adalah Sultan Lingga Riau yang ke dua, memerintah dari tahun 1832 hingga 1841. Ia merupakan putra dari Sultan Abdul Rahman Syah dengan permaisyurinya Raja Fatimah. Sultan Muhammad Syah II ini dikenal sangat mencintai bidang seni, seperti seni ukir, tenun dan kerajinan tembaga. Bahkan ia sempat mendatangkan ahli emas dan perak dari pulau Jawa untuk meningkatkan pembangunan dibidang seni dan kerajinan itu. Karya lainnya dibidang pembangunan berwujud bilik 44 serta Istana Kedaton.

Mangkat di Daik Lingga pada tanggal 9 Januari 1841 dan diberi gelar "Marhum Kedaton/Keraton", Sultan Mahmud Syah II dimakamkan dibukit cengkeh dengan posisi makam tepat terletak di dalam sebuah bangunan tembok persegi delapan yang beratap dan bergubah.

Sementara itu, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II dari catatan yang ada disebut sebagai putra ke dua Sultan Abdul Rahman Syah atau adik dari Sultan Muhammad Syah II yang diangkat menjadi Sultan Lingga Riau IV di Daik (1857-1883) dan dimakamkan di bukit cengkeh.

Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II ini dikenal sebagai Sultan yang sangat memperhatikan perekonomian rakyat dan kerajaan seperti menggalakkan penanaman sagu dan gambir, memperkenalkan industri sagu, membangun sarana transportasi seperti kapal Sri Lanjut, Betara Bayu, Lelarum dan Gempita. Ia juga mengembangkan penambangan timah di Singkep dan membangun sekolah (kini SDN 001 Daik) yang dibangun pada tahun 1875, serta membangun Istana Damnah (1860).

Mesjid Jamik Sultan Lingga

Inilah mesjid tertua di Lingga bahkan yang tertua di Kepulauan Riau. Berada persis ditengah-tengah kota Daik, mesjid ini dibangun pada tahun 1800 oleh Sultan Mahmud Syah, Sultan yang dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang. Hingga kini mesjid tersebut masih berdiri kokoh dan digunakan sebagai pusat peribadatan umat islam di kota Daik Lingga dan sekitarnya.

Berbagai referensi menyebut, mesjid ini awal di bangun hanya mampu menampung 40 jemaah dengan bahan bangunan yang terbuat dari kayu dan beratapkan daun sagu. Namun kemudian pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1857-1883), sudah berlantai keramik yang diambil dari keramik istana. Perombakan terus dilakukan pada masa Sultan Abdurrahman Muazam Syah (1883-1911). Mesjid ini diperluas dan diperbesar sehingga kapasitasnya mampu menampung hingga 400 jamaah.

Kalau melongok ke dalam mesjid, anda akan terkesima dengan struktur bangunannya yang unik. Kubah masjid ini dibangun tanpa tiang penyangga, sehingga terkesan luas ketika berada ditengahnya. Penyangganya adalah balok kayu pilihan yang kuat dan berukuran besar. Didalam komplek mesjid ini juga terdapat beberapa makam, satu diantaranya adalah pendiri mesjid atau dikenal dengan sebutan marhum mesjid. Dia adalah Sultan Mahmud Syah III, Sultan Lingga pertama yang berkuasa pada tahun 1761 hingga 1812. Disampingnya makam istri dan para sahabatnya.