Gerakan Hemat Listrik Dicanangkan

Diterbitkan oleh Redaksi pada Senin, 16 Mei 2016 12:15 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 1.328 kali ditampilkan


”Dalam setahun penghematan 10 persen setara dengan menghemat Rp43 triliun. Kalau dibangun pembangkit listrik tenaga uap, itu setara dengan pembangunan pembangkit berkapasitas 3.500 megawatt (MW),” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said di sela kampanye gerakan ”Potong 10 persen” di Jakarta, Senin (16/5/2016).

Turut hadir dalam kampanye hemat energi tersebut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Ridha Mulyana, Direktur Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang serta sejumlah pejabat eselon I Kementerian ESDM.

Gerakan kampanye hemat energi tersebut dikampanyekan secara serentak di 20 kota besar di Indonesia, yakni Jabodetabek, Medan, Pekanbaru, Batam, Padang, Palembang, Lampung, Cilegon, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Sidoarjo, Surabaya, Denpasar, Makassar, dan Balikpapan. Kampanye hemat energi tersebut ditujukan untuk mengubah perilaku kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menghemat energi listrik.

”Sebab mengubah perilaku penghematan energi listrik tidak mudah, perlu kesadaran dan ditanamkan secara terusmenerus. Jika ditanamkan secara konsisten dan terus-menerus, keberhasilan penghematan 1 kWh (kilowatt hour ) listrik lebih mudah daripada memproduksi 1 kWh listrik. Penghematan dapat digunakan untuk melistriki daerah terpencil,” sebut Sudirman.

Dia mengatakan, ada tiga cara yang dapat dilakukan masyarakat dalam upaya penghematan listrik mulai sekarang. Pertama, mematikan lampu dan mencabut peralatan elektronik yang tidak sedang dipakai serta mencabut sakelar. Kedua, menahan temperatur (AC) di level 25 derajat.

Ketiga , menjadikan hemat energi sebagai gaya hidup sehari-hari. Gerakan mengajak hemat energi listrik tersebut tidak hanya menyasar rumah tangga, tetapi juga sektor industri dan bisnis. Sebab konsumsi energi dari ketiga golongan tersebut mendominasi hampir 90 persen dari konsumsi energi nasional. PT PLN (Persero) mencatat pada 2014 total energi terjual sebesar 200 terawatt hour atau 93 persen dari total energi tersebut berasal dari sektor rumah tangga, industri, dan bisnis.

”Penerapan tidak hanya didorong dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tapi juga pemerintah dengan penggerak sektor industri dan komersial merealisasi secara nyata aksiaksi konservasi dan efisiensi energi,” urainya. Gerakan konservasi energi ini telah terlaksana di sejumlah negara, di antaranya di Singapura dan Inggris.

Sudirman yakin gerakan konservasi dan efisiensi energi dapat berjalan sebagai budaya dan menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. ”Kendati di negara lain telah berjalan, tidak ada kata terlambat untuk kita mulai di sini demi pembangunan lebih baik, bersih, dan merata,” ujarnya.

Selain program konservasi energi, pemerintah juga secara masif telah melaksanakan program penghematan energi minyak dengan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas. Sudirman menegaskan, semua instansi di bawah Kementerian ESDM sudah sepantasnya menerapkan penghematan energi, termasuk juga BUMNBUMN.

Sudirman juga mengatakan, pihaknya sudah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM tentang Energi Service Company (ESCO) yang merupakan kemitraan antara pemerintah dan industri serta komersial untuk merealisasi konservasi energi.

Pada kesempatan itu, Dirut Pertamina Dwi Soetjipto menegaskan pihaknya sangat mendukung program penghematan yang dicanangkan pemerintah. ”Dari semua sisi, baik dari energi listrik, BBM ke gas dan menggerakkan energi bersih melalui energi baru terbarukan,” sebutnya. (okz)