Disdikpora Lingga Kirim 3 Utusan dalam Pelatihan Pencegahan Masuknya Paham Radikalisme

Diterbitkan oleh Redaksi pada Rabu, 25 Mei 2016 23:48 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 1.134 kali ditampilkan

LINGGA - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Lingga melalui bidang pemuda dan olahraga mengirimkan 3 utusan pemuda ke provinsi Kepri di Tanjungpinang guna mengikuti pelatihan pencegahan paham Radikalisme dikalangan generasi muda provinsi kepri dari Kemenpora.

 Pelatihan ini dilakukan karena mengingat maraknya bermunculan paham-paham radikal yang cendrung merusak mental pemuda hingga sekaligus mengganggu sistem ketahanan negara Indonesia, khususnya di Kepri yang rawan dengan berbatasan langsung di beberapa negara luar menjadi tempat potensial keluar masuknya orang-orang berpaham radikalisme.

Misyana Ika Fitri Suryani,  salah satu pemuda utusan Lingga yang hadir dalam kegiatan tersebut mangatakan hadir mereka pada kegiatan provinsi itu atas surat tugas yang diberikan oleh Disdikpora Lingga yang mendapat mandat merekrut dari Dispora Kepri dengan jumlah peserta Lingga sebanyak 3 orang.

"Kami dapat kesini  dari Disdikpora diharuskan ke provinsi untuk ikut dalam pelatihan selama 3 hari yakni dari tanggal 23 sampai 26 Mei," paparnya ketika ditemui di ruangan Hotel Halim Tanjungpinang, Rabu (25/5).

Dia katakan, hadir dalam mengisi materi yakni Sekretaris Deputi I Kemenpora RI yakni I Gusti Ngurah Bagus Sucitra, Kesbangpolinmas Provinsi Kepri, BNPT Provinsi Kepri, KOREM 033 Wida Pratama, Polda Kepri, Kabid Pemuda dan Olahraga Provinsi Kepri, dan Drs H Razali Jaya sebagai tokoh agama denga materi peran tokoh agama dalam meredam perkembangan radikalisme di kalangan generasi muda.

Menurut pemaparannya apa yang disampaikan pemateri sangat memberikan banyak ilmu tentang paham-paham radikal yang akan merusak meadset generasi tanah air. Sebagai perwakilan yang diutus dari Lingga tentunya ilmu yang didapatkan dari pelatihan tersebut akan dimanfaatkan dan akan di salurkan kepada generasi muda di Lingga.

"Insyaallah, ini ilmu yang sangat berguna, apalagi sekarang sudah timbulnya lagi paham komunis, apalagi teroris. Tentunya sepulang ini kita akan berbagi sesama kawan-kawan di Lingga dengan bercerita santai," paparnya.

Sebagai seorang pemuda yang berkesempatan mendapatkan ilmu dalam pelatihan itu, ia merasa sangat bersyukur. Dia katakan tingginya angka pengguna media sosial tentunya menjadi pemicu mudahnya tersalur paham-paham terlarang. Apalagi pengguna media sosial banyak di kalangan pemuda-pemuda diusia pelajar yang pemikirannya masih mengambang hingga mudah terjerumus masuk ke paham-paham yang dibentuk oleh sekelompok orang demi kepentingan tertentu.

Menurutnya apa yang di sampaikan pemateri dari kementrian cara mudah masuk pemikiran-pemikiran radikalisme yakni dari kalangan agama. Dengan doktrin-doktrin paham keagamaan pemuda yang pemikirannya masih mengambang akan mudah di masuk dan direkrut jadi anggota mereka (red: radikal). Karena di kalangan agama Islam tidak semua beraliran sama yakni patuh dan turut pada sang khalik dan kitabnya. Seperti paham Syiah ia katakan apa yang disampaikan pemateri dari Kesbangpolinmas provinsi yakni Kabid Ideologi dan Wawasan Kebangsaan, Drs. Samsir  justru  aliran islam ini lebih memihak pada Yahudi, berbeda dengan paham Sunny yang benar-benar berpatokan pada Alqur'an.

Untuk itu pihak provinsi guna melakukan kebijakan dalam mencegah masuknya paham radikalisme dikalangan generasi muda Kepri melakukan beberapa hal yakni dengan membentuk 4 forum yang juga merambah sampai di tingkat Kabupaten/Kota terdiri dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Pembaruan Kebangsaan (FPK), dan Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK).

Ditengah hiruk pikuknya bermunculan paham-paham yang bertentangan dengan pancasila ini maka pemuda menjadi pintu utama kekuatan pendukung harus mampu menjadi contoh dan panutan masyarakat agar tidak ikut dalam pergerakan-pergerakan kelompok radikal.

Untuk itu ia menyarankan kepada setiap pemuda hendaknya bisa memahami 4 pilar kebangsaan agar tidak mudah goyah di kudeta pihak asing dengan paham-paham mereka. Karena Negara kita sudah rawan seperti apa yang disampaikan presiden Jokowi, 3 ancaman terbesar negeri ini adalah Radikalisme, Terorisme, dan Narkoba.

Apalagi sekarang sudah mencapai ranah Kepri. Apa yang disampaikan oleh Kolonel Inf. Agus Prasetyo Ari Wibowo dari Korem 033 Wirapratama menurutnya adalah fakta dimana sudah hitungan 1000 orang di Indonesia yang masuk dalam terorisme. Paham Gafatar saja, yang dipulangkan ke Kepri dulu mencapai 136 orang. Tidak hanya itu, menurutnya Korem Wirapratama juga katakan sudah ada paham yang bermukim di Lingga yakni Jamaah Islamiah yang bermukim disalah satu pulau. Begitu juga PKI, korbannya telah ada di Kepri, yakni Karimun, Tanjungpinang dan Batam.

Dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), ia katakan apa yang sampaikan Edy Akhyar, Ketua Bidang Sosial Budaya dan Hukum FKPT Kepri, berdasarkan data sudah banyak konflik yang bersifat radikal. Di Karimun Syiah sudah berkembang sudah sebanyak 1500 orang, di Bintan tepat di pulau Numbing dimana penduduk disitu beraliran Ahmadiyah terhitung sebanyak 60 orang. Sementara di batam yang teramat parah yakni konflik rumah ibadah dan sebagainya.

"Mari kita satukan tangan berbuat hal positif membangun pemuda Lingga menjadi bagian dari pemuda yang mampu mempertahankan keamanan, kondisi dan situasi terbaik yang membangun. Jangan nanti kita sampai berbaur oleh hal-hal radikal yang berakibat kerugian. Kita pemuda adalah generasi penerus kedaulatan negara ini, terkhusus kedaulatan Kabupaten Lingga yang kita cintai," tutup Misyana.