Nelayan, Terumbukarang dan Kapal Isap di Pekajang

Diterbitkan oleh Redaksi pada Senin, 15 Agustus 2016 07:43 WIB dengan kategori Opini dan sudah 765 kali ditampilkan

Pulau Pekajang Kecil merupakan salah satu gugusan 7 pulau yaitu 1). Pulau Batu Kembung / Sarang Burung, 2). Pulau Batu Tukongyu, 3). Pulau Lalang, 4). Pulau Pasir Keliling, 5). Pulau Penyaman, 6). Pulau Pekajang Besar dan 7). Pulau Pekajang Kecil secara administrasi wilayahnya masuk ke dalam pemerintah Kabupaten Lingga yang terbentuk berdasarkan UU No. 31 tahun 2003 dengan Luas wilayah daratan dan lautan mencapai 45.456.7162 Km2 dengan luasan daratan 2.117.72 Km2 dan lautan 43.388.9962 Km2.

 Pengamatan terumbu karang di Perairan Pulau Pekajang Kecik berdasarkan benthic life form didapatkan karang dengan bentuk Acropora/AC (rerata 34.83%) dan Non-Acropora /Non-AC (rerata 31,50%) mendominasi bentuk karang pada Perairan Pulau Pekajang Kecik. Kondisi terumbu karang di Pulau Pekajang Kecik berdasarkan persen tutupan secara umum hampir sama, karang hidup (AC dan Non-AC) merupakan bentuk pertumbuhan yang mendominasi.

Berdasarkan kategori karang hidup dan karang mati, rerata persen tutupan karang hidup di Pulau Pekajang Kecik dalam kondisi baik (71,07%). Stasiun 3 kategori persen tutupan karang hidup sangat baik (76.40%). Pengamatan dilakukan pada kisaran kedalaman 7-10 m menggunakan metode LIT (Line Intercept Transect). Terumbukarang yang terdapat di pulau Pekajang merupakan tipe terumbu karang tepi pulau(fringing reef) yang terdapat hampir di keliling pulau dengan kondisi tubir yang landai.

Secara umum kondisi terumbu karang di pulau Pekajang masih terjaga.Hasil pengamatan mendapatkan rerata persentase tutupan karang yang tertinggi adalah persentase karang hidup yaitu 71,1 % yang terdiri dari berbagai macam bentuk pertumbuhan (life form) yaitu Acropora branching (ACB), Acropora tabulate (ACT), Acroporadigitate (ACD), Acroporasubmasif (ACS), Acroporaencrusting (ACE), coral foliose (CF), coral massif (CM), mushroom (CMR) dan karang lunak (soft coral/SC) (Gambar 13.3). Sedangkan persentase karang mati adalah 11,3 % yang terdiri karang mati (dead coral/DC), karang mati yang sudah ditumbuhi alga (dead coral with algae/DCA ), selain hewan karang, di ekosistem ini juga terdapat beberapa biota laut yang hidup di dasar perairan atau benthos seperti bulu babi hitam(Diademasetosum), kima, anemones, akar bahar dan sponges. (Berdasarkan Data Dari Direktori Pulau-Pulau kecil Indonesia )

Itulah sedikit definisi mengenai pulau pekajang dan hasil pengamatan terumbu karangnya, namun statusnya sebagai karang yang masih terjaga di pulau tersebut kini terancam punah.

Ancaman tersebut datang karena adanya aktivitas penambangan timah di perairan tersebut dengan menggunakan kapal predator bagi laut dan terumbu karang di sana yaitu Kapal Isap.

Kapal Isap adalah alat penyedot timah di dasar laut dengan menggunakan belalainya yang berbentuk seperti bor yang menghisap apapun yang ada di bawahnya ( pasir, batu, karang ) menjadi hancur lebur hingga menjadi debu.

 Sumber yang sama menilai, dampak penambang biji timah dengan sistem hisap lebih merusak lingkungan jika dibandingkan dengan sistem keruk.”Kalau kapal hisap, semua terumbu karang dihancurkan jadi pasir dan disedot tanpa ampun. Terumbu karang dihancurkan dan dihisap oleh mesin penghisap dengan belalainya yang besarnya dua kali tong. Ditambahkan, jika sistem keruk, kapal yang mengeruk hanya bergerak lamban dan tidak merusak terumbu karang seperti sistem hisap.

  Aktifitas tambang dengan sistem hisap ini juga akan membuat pantai di seluruh gugusan Pekajang akan hancur lebur karena lumpur bercampur pasir itu dibuah kelaut. Dengan adanya persetujuan masyarakat di gugus pulau Pekajang itu, dikarena warga tidak mengetahui dampak penambangan biji timah di laut sekitar. Kerusakan terumbu karang dan limbah yang ditimbulkan tidak akan pernah bisa dipulihkan.

Perusahaan ini tentu tidak mengantongi ijin Amdal karena dampak yang di timbul dalam jangka panjang akan merusak ekosistem yang ada di laut melalui limbah yang di buang ke laut tersebut, salain itu perusahaan ini merupakan perusahaan swasta murni.

 Masyarakat pekajang berharap aparat penegak hukum yang ada di kabupaten maupun provinsi segera menindaklanjuti kasus seperti ini karena ini menyangkut kesejahteraan masyarakat di pulau pekajang mengingat rata rata mata pencarian mereka adalah nelayan. Dengan tercemarnya limbah di laut mereka maka para nelayan di sana akan kesulitan memperoleh ikan di laut itu. Sedangkan kompensasi yang di janjikan untuk masyarakat sampai sekarang belum juga di realisasikan oleh pihak perusahaan terkait.