Siswa SMP Takalar Temukan Tapai Berbahan Sukun, Ubi Jalar dan Jagung

Diterbitkan oleh Kasmadi pada Senin, 15 Agustus 2016 11:56 WIB dengan kategori Suara Pelajar dan sudah 877 kali ditampilkan


TAKALAR, -- Sulawesi Selatan- Pengolahan hasil bumi di daerah Takalar Sulawesi Selatan seperti padi, jagung, sukun dan lainnya untuk menjadi produk makanan masih banyak bersifat tradisional.

Agar bervariasi, metode bioteknologi  bisa dilakukan untuk menghasilkan produk-produk makanan yang baru, unik dan layak dijual. “Saya mencoba mengarahkan siswa dengan pembelajaran aktif untuk membuat percobaan bioteknologi menghasilkan tape dari berbagai macam bahan makanan yang mereka tentukan sendiri seperti sukun, pisang dan talas dan ternyata berhasil dengan baik,” ujar Mukhlis, guru IPA SMPN 2 Takalar kelas 9 (15/08/2016).

Sebagai langkah awal, para siswa dalam pelajaran IPA oleh pak Mukhlis diminta mengamati tekstur dan mencoba rasa masing-masing produk bioteknologi sederhana tapai yang sudah umum di masyarakat yaitu dari sinkong dan ketan.

Namun berbeda dengan saat ini, mereka diminta membuat tapai dari bahan-bahan makanan yang mereka pilih sendiri seperti jagung, kentang, sukun, talas, pisang tua, dan ubi jalar.

Dimana prosedur pembuatan tapai tersebut adalah sebagai berikut : setiap kelompok siswa memilih masing-masing bahan penganan yang akan dijadikan tapai yaitu ; pisang tua, jagung, sukun, talas, kentang dan ubi jalar. Bahan makanan tersebut dicuci sampai bersih dan kemudian dikukus menggunakan panci.

Setelah dikukus, bahan makanan tersebut dikupas dan dipotong sesuai selera sambil diamati tekstur dan rasanya, yang kemudian ditaburi ragi yang telah dihaluskan dan dibungkus daun pisang dengan rapat.

Setelah itu disimpan dalam plastik atau wadah lain yang tertutup rapat di laboratorium selama tiga hari untuk proses fermentasi. “Bahan harus tertutup rapat agar tidak ada bakteri lain yang bisa mencampuri proses-proses fermentasi dan menghasilkan rasa berbeda,” ujar Mukhlis, salah satu fasilitator daerah USAID PRIORITAS Takalar.

Namun setelah hari ketiga, ternyata semua bahan berhasil berubah menjadi tapai. “ setelah kami amati dan kami rasakan, rasanya berbeda-beda,” ujar  Fatriasi Amiruddin, salah satu siswa kelas 9 yang melakukan percobaan.

Kentang setelah menjadi tapai ternyata rasanya menjadi hambar dan penganan talas juga menjadi sama sekali tidak enak, dengan bau yang sangat menyengat. “Strukturnya menjadi gembur berair dengan warna kecoklatan dan tidak cocok jadi makanan,” ujar Buya Ibnu Fulqan, siswa lainnya.

Sementara sukun, pisang tua dan jagung rasanya berubah jadi unik, kecut-kecut manis dan enak. “Hasil percobaan untuk ketiga bahan ini, kami simpulkan bisa menjadi alternatif makanan yang bisa dijual,” tegas Mukhlis.

 Keberhasilan percobaan ini membuat beberapa siswa yang langsung melakukan percobaan berangan-angan memasarkannya suatu saat. “Agar jadi produk alternatif yang lebih menjual, seperti kue dan sebagainya, kita bisa campur dengan bahan-bahan lainnya,” ujar Fatriasi sambil mencicipi bahan makanan baru itu.

Sebelumnya Pak Mukhlis juga berhasil membimbing siswa-siswinya untuk menghasilkan energi baterai dari buah pare. Sebuah penemuan yang mendapatkan apresiasi luar biasa dari pemda Takalar dan USAID PRIORITAS. “Pembelajaran aktif yang kita lakukan memang merangsang siswa untuk banyak berkreasi,” ujar dia.