Begini Cara "USAID PRIORITAS" Perbanyak Buku di Sekolah Tanpa Dana BOS

Diterbitkan oleh pada Kamis, 25 Agustus 2016 13:25 WIB dengan kategori Pendidikan dan sudah 1.011 kali ditampilkan


Makassar, - budaya literasi yang banyak di terapkan saat dengan membuat taman baca, sudut baca dan memperindah perpustakaan agar menarik siswa mengunjunginya. Mereka juga membuat berbagai program budaya baca, membaca 15 menit sebelum pembelajaran, jam khusus  kegiatan membaca, orang tua siswa bercerita buku di sekolah dan sebagainya. Namun bagaimana kalau karena budaya baca sudah tumbuh, semua bahan bacaan habis terbaca oleh siswa?

Fadillah menuturkan bahwa salah satu kendala budaya baca adalah minimnya buku. Kalau buku sedikit, dan isinya tidak menarik, minat baca siswa juga akan turun. “Saya pernah pergi ke sekolah, banyak sekali buku yang diperuntukkan bagi siswa  tidak memancing siswa membaca yang tanpa ilustrasi, dicetak di kertas apa adanya dengan lay out yang sekedarnya saja. Padahal buku itu dibeli pakai dana BOS,” ungkap Fadiah, Spesialis Pengembangan Sekolah USAID PRIORITAS, (25/08/2016).

Agar koleksi buku-buku menarik di sekolah semakin bertambah, berikut ini adalah kiat-kiat yang bisa dipakai pihak sekolah.

Pertama: melakukan peminjaman buku pada orang tua siswa. Pada rapat bersama orang tua siswa diumumkan bahwa masing-masing orang tua siswa diminta kerelaannya untuk meminjamkan buku-buku yang menarik bagi siswa. Buku tersebut dipinjam selama satu semester atau satu tahun dan dibuatkan identitas agar diketahui siapa pemiliknya.

Agustina mantan kepala sekolah SDN Kompleks IKIP Makassar. “Kami pernah melakukan semacam ini, dan koleksi buku semakin banyak karena banyak orang tua tidak lagi mau mengambil buku-bukunya,“ ungkap dia.

Kedua: meminta alumni untuk menyumbangkan buku. Banyak sekolah  meminta siswa, dan sebelum pergi lulus dari sekolah, menyumbangkan buku untuk adik-adiknya. Bisa buku bekas atau buku baru. Bisa dua sampai tiga buku. “Koleksi buku kami bertambah kurang  60 buah lebih tiap tahun, karena program seperti ini,” papar ibu Siswati, guru SDN 5 Ballo Takalar Sulsel di tempat terpisah saat di konfirmasi.

Ketiga: hadiah ulang tahun siswa, untuk menggerakkan program literasi, hadiah ulang tahun semestinya berbentuk buku. Hadiah itu diberikan orang tua siswa di sekolah di hadapan teman-teman satu kelasnya. Buku hadiah tersebut tetap punya siswa yang berulang tahun, namun diberikan identitas dan diletakkan di sudut baca, atau taman baca sehingga siswa lain bisa ikut membacanya. Ingkap guru lainya “Buku-buku yang dibeli dan diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya adalah buku buku yang menarik dan sesuai dengan usia siswa,” ketus Debby, guru SDN 102 Makale 5 Tana Toraja yang telah melakukan ini.

Keempat: Alphian punya cara tersendiri dengan siswa membuat perpustakaan mini. Para siswa tiap kelas dibentuk kelompok terdiri dari 5 -7 orang. Masing-masing diminta membuat rak kecil sendiri dari bahan-bahan bekas. Bisa dari karton, dari triplek, atau apa saja. Mereka juga diminta mengisi rak mini tersebut dengan buku-buku dari rumah mereka sendiri yang sudah mereka berikan identitas. Mereka mengelola perpustakaan mini kelompok itu dan menawarkan koleksi bukunya kepada kelompok lain. “Buku-buku yang mereka bawa sangat menarik, karena buku-buku yang mereka suka,” ujar Alphian Sahruddin, guru SD Kompleks IKIP I Makassar yang telah menerapkan hal ini.

Kelima: sementara saran/masukan Mustadjib ialah dengan membuat proposal permintaan buku ke toko buku, instansi pemerintah, perpustakaan dan perusahaan - perusahaan. “Saya pernah melakukan ini. Semua dinas ternyata memberikan buku yang bagus yang kadang sesuai dengan bidang yang dikerjakan. Misalnya pertanian, banyak memberikan buku pertanian. Toko buku pun banyak memberikan buku-buku menarik yang biasa sudah tidak terjual,” ujar Mustajib, Communication Specialist USAID PRIORITAS yang pernah mendirikan perpustakan desa di salah satu desa di Bone, Sulawesi Selatan.