Survei Poltracking Indonesia Sebut Agus AN Salahsatu Figur Kuat Pilkada Sulsel 2018
MAKASSAR, -- Analisis Survei Poltracking Indonesia menyimpulkan Nama Nurdin Abdullah, Ichsan Yasin Limpo, Nurdin Halid dan Agus Arifin Nu'mang merupakan empat kandidat yang selalu unggul dalam berbagai simulasi.
Analisis temuan survei ini menyimpulkan bahwa Nurdin Abdullah, Ichsan Yasin Limpo, Nurdin Halid dan Agus Arifin Nu'mang merupakan figur-figur yang berpotensi menjadi kandidat kuat dalam pilkada Sulsel 2018 mendatang, terkininews.com selasa (13/06/2017).
Namun ketika simulasi 3 kandidat (nama Nurdin Abdullah tidak disertakan dalam simulasi), maka Agus Arifin Nu'mang (18.17%) mendapat perolehan lebih tinggi dibandingkan Ichsan Yasin Limpo dan Nurdin Halid (14.43%).
Sedangkan jika nama Agus Arifin Nu'mang tidak disertakan maka elektabilitas Nurdin Abdullah
(18.56%) unggul dibandingkan Ichsan Yasin Limpo (15,85%) dan Nurdin Halid (15.85%), dan jika nama Ichsan Yasin Limpo tidak disertakan maka Nurdin Abdullah (2010%) memimpin elektabilitas disusul Nurdin Halid (15.85%) dan Agus Arifin Nu'mang (13.40%).
Adapun jika nama Nurdin Halid tidak disertakan maka Nurdian Abdullah (24.87%) merupakan kandidat yang paling diinginkan publik, disusul Ichsan Yasin Limpo (15.59%) dan Agus Arifin Nu'mang (12.50%).
Nurdin Abdullah yang merupakan bupati Bantaeng dengan prestasi mentereng yang kini namanya
melambung tinggi di media, Ichsan Yasin Limpo mantan gupati Gowa yang punya pengaruh di Sulsel, Nurdin Halid merupakan pengurus teras
Golkar yang juga pengusaha dan mantan angota DPR RI, sementara Agus Arifin Nu'mang kandidat incumbent wakil gubernur Sulsel yang tingkat kepuasan kinerjanya dinilai relatif baik oleh publik.
Dengan jadwal pelaksanaan Pilkada Sulsel 2018 yang masih menyisakan 1 (satu) tahun lagi, tingkat kemantapan pilihan masih rendah, dinamika isu yang akan terus bergulir, dan undecided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan) masih
sangat tinggi, maka peta politik menjelang pilkada Sulawesi Selatan masih sangat dinamis (cair).
Artinya, menurut Ranta Yuda AR, potensi terjadinya peralihan dukungan publik dari yang semula memilih, berubah menjadi pemilih kandidat yang lain, sangat mungkin terjadi. Kata dia
Secara teoritis, potensi terjadinya perubahan elektabilitas para kandidat biasanya sangat tergantung pada 4 (empat) faktor, yakni kemampuan para kandidat dalam membangun personal branding (memperkuat magnet electoral kandidat), efektifitas kerja mesih politik, trend perilaku pemilih, dan dinamika isu yang begulir.
Empat faktor inilah yang nantinya akan ikut menentukan pergerakan elektabilitas kandidat, apakah akan naik, stagnan, atau bahkan turun. Ungkap Ranta Yuda AR Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia (*)

