Kepri Layak Jadi Poros Maritim Indonesia

Diterbitkan oleh Redaksi pada Ahad, 23 Juli 2017 09:16 WIB dengan kategori Headline Tanjungpinang dan sudah 1.255 kali ditampilkan

TANJUNGPINANG - Di kelilingi wilayah laut yang sangat potensi dan luas, rasanya tak salah menjadikan Kepulauan Riau sebagai wilayah atau propinsi yang menjadi poros maritim Indonesia.

Hal itu diungkapkan Prof Dr. Siti Zuhro peneliti LIPI ketika menjadi narasumber di Seminar Nasional Sinergi Pembangunan Daerah Mewujudkan Kepri Poros Maritim Indonesia di Hotel CK Tanjungpinang beberapa hari yang lalu Kamis (20/7).

Prof Siti Zuhro peneliti LIPI yang kebetulan menjadi narasumber dalam kegiatan itu menyampaikan Kepri memang harus menjadi poros maritim atau model bagi pemberdayaan potensi laut di Indonesia. Menurutnya ada tiga alasan mengapa Kepri layak untuk menjadi Poros Maritim Indonesia yakni pertama Kepulauan Riau mendapat anugrah potensi kelautan yang melimpah ruah. Selain itu bukan hanya memiliki potensi perikanan saja, tapi juga tambang gas dan minyak yang relatif besar, disamping itu dalam konteks ekonomi kemaritiman, pertahanan dan ketahanan wilayah, posisi Kepri sangat strategis karena menjadi pitu masuk ke Indonesia.

Kedua, Kepri memiliki Batam sebuah kawasan ekonomi yang sudah berkembang pesat, sudah menyerap triliunan dana pembangunan nasional, memiliki keistimewaan sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas atau FTZ. Batam memiliki infrastruktur ekonomi kemaritiman yang memadai dianggap Sinagpura atau Hongkong-nya Indonesia. Sebuah pelabuhan bebas yang sudah berkembang, memiliki pelabuhan laut yang ukup dan industry kemaritiman terbesar di Indonesia, industry lepas pantai dan memproduksi ratusan buah rig lepas pantai yang kini bertaburan di Laut Cina Selatan.

Ketiga, meskipun kemampuan dana pembangunan Kepri terbatas dan kebijakan kemaritiman yang belum konsisten dan masih parsial, Kepri relatif mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis maritim. Paling tidak ada tujuh daerah pertumbuhan yang ekonomonya berbasis maritime dan itu ada di kabupaten dan daerah-daerah kepulauan yang dalam masa reformasi dan era otonoi ini tumbuh dan berkembang cukup pesat dengan memanfaatkan potensi kemaritimannya yakni Tanjungpinang sebagai ibukota, Batam pusat ekonomi Bintan, Karimun, Lingga, Anambas dan Natuna.

Masih menurut Prof Siti Zuhro ada beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan untuk mewujudkan Kepri poros maritim Indonesia yakni sosialisasi yang dilakukan secara massif baik oleh semua jenjang pemerintahan, stakeholders terkait nasional dan lokal maupun komunitas, ormas, organisasi professional, kampus, sekolah, LSM dan media baik elektronik maupun cetak. Kedua, peningkatan kualitas SDM khususnya birokrasi. Kita memerlukan kelembagaan dan pemerintah yang taat hukum, tidak partisan dan professional. Ketiga, reformasi iklim investasi melalui perbaikan infrastruktur ekonomi, menciptakan stabilitas makro ekonomi, serta kepastian hukum, kebijakan, dan mengurani ekonomi biaya tinggi.

Keempat, perbaikan infrastruktur berupa saran dan prasarana seperti logistic, listrik, telekomunikasi, revitalisasi transportasi, jalan raya, rel kereta api, pelabuhan dan bandara. Kelima, kegaduhan politik di pemerintahan dan parlemen atau parpol perlu dihentikan. Pada intinya, memang kita harus mengenal potensi apa yang kita miliki dan Kepri sebenarnya harus sadar-sesadarnya bahwa potensi terbesar yang dimiliki adalah potensi kemaritiman.