KPAI Minta Pemkot Jakarta Timur dan Pemprov DKI Sinergi Kebakaran Bidara Cina Trauma

Diterbitkan oleh Admin pada Selasa, 29 Mei 2018 14:41 WIB dengan kategori Jakarta dan sudah 648 kali ditampilkan

JAKARTA, -- Komisi perlindungan anak indonesia (KPAI) saat telah melakukan pengawasan ke lokasi kebakaran di jalan kebon sayur 2  RT 007 dan 008/RW 014 Keluarahan Bidara Cina Jatinegara Jakarta Timur.

KPAI telah menurunkan tim pengawasan Selasa (29/5/2018) yang terdiri dari dua komisioner, yaitu Susianah dan Retno Listyarti. yang telah mendapat temuan dan rekomendasi KPAI sebagai berikut bahwa ada korban usia anak A (13 tahun), kakinya terbakar. Dua orang korban lainnya Sadih (50 tahun) mengalami lukar bakar seluruh tubuh dan Muahana (60 tahun) mengalami luka bakar di muka dan tangan. Ketiganya adalah satu keluarga di dalamya rumahnya terdapat tabung gas yang meledak sebagai penyebab kebakaran. Ketiganya kini dirawat di Rumah Sakit Polri. 

Warga terdampak kebakaran sebanyak 221 jiwa dari 56 Kepala Keluarga dan 46 rumah. Dari pengawasan KPAI, anak-anak yang terdampak kebakaran sebanyak 57 jiwa dengan rincian anak  Usia SD 23 orang , anak usia SMP sebanyak 14 orang  dan anak usia SMA sebanyak  20 orang. 

KPAI meminta kepada Pemerintah Kota Jakarta Timur agar memberikan kemudahan kepada warga terdampak kebakaran dalam mengurus surat berharga dan penting seperti surat tanah, akte lahir, Kartu Keluarga, ijazah dan rapor anak. 

"KPAI  mengapresiasi inisiasi ibu-ibu Sekolah Perempuan yang didampingi oleh Institute Kapal Perempuan dalam mengamankan dokumen-dokumen penting dengan cara di scan,  sehingga ketika terjadi musibah kebakaran,  dokumen relatif dapat diselamatkan, "ujar Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan. 

Kebakaran tersebut menyebabkan anak-anak bersedih, karena kehilangan tempat tinggal yang selama ini melindungi mereka dari terik panas matahari dan hujan. Kondisi shock terjadi ketika orang tua membawa anak-anak mereka yg masih Balita meninggalkan rumahnya yang akan terbakar pada  dini hari dan semua warga panik. "Saat kejadian, anak-anak masih terlelap tidur, tapi langsung dibangunkan dan dibawa berlari keluar rumah, melewati ga sempit yang dijejali orang-orang yang panik menyelamatkan diri dengan disertai jeritan orang dewasa dan tangisan balita.  Situasi ini yang mengakibatkan anak-anak balita mengalami trauma, "ujar Susianah, Komisioner KPAI Bidang Sosial.

Susianah menambahkan, Indikasi trauma diantaranya anak kehilangan selera makan dan kerap memgigau dan menangis ketika tidur, terutama malam hari. 

Secara umum, anak-anak telah beradaptasi dengan bencana karena tempat tinggal mereka berada di samping sungai Ciliwung yang ketika curah hujan tinggi daerah berlangganan banjir. Traumatik anak-anak yang tempat tinggalnya sering dilanda bencana banjir menjadikan mereka beradabtasi dengan bencana. 

"Anak-anak usia 8-12 tahun yg kami temui mengaku menerima kejadian ini sebagai musibah sebab menurut mereka tak ada gunanya marah karena tak mengembalikan rumah dan barang-barang yg hangus terbakar",  urai Retno.  

Susianah menambahkan KPAI juga minta Pemkot Jakarta Timur dan Pemprov DKI untuk menyediakan sarana air bersih, fasilitas MCK (pengakuan warga baru ada 1 kamar mandi umum),  "Jumlah MCK satu dengan jumlah korban mencapai 221 jiwa jelas tidak memadai", tandasnya.

Berikut KPAI harap Pemkot menyediakan fasilitas pengungsian yang ramah anak. Saat ini ada 3 tenda pengungsian yang dibangun ala kadarnya, membuat banyak warga masyarakat tidak betah karena kondisinya yg panas. Warga terdampak banyak yang tinggal di rumah saudara dan keluarganya. Dalam konteks ini, tempat pengungsian seharusnya ramah anak, memberikan fasilitas yg nyaman bagi anak khususnya anak perempuan dalam menjaga privasinya. 

Terpenting urai Susianah Anak-anak harus mendapatkan trauma healing dan psiko sosial yang dapat mengembalikan keceriaan mereka seperti sebelum ternjadinya kebakaran.  Hal ini dapat dilakukan oleh Dinas Sosial DKI Jakarta dan Kemensos RI.  

Pemkot harus segera mencari jalan keluar bagi tempat hunian warga terdampak. Temuan KPAI, warga yg memiliki anak-anak kebingungan terhadap tempat tinggal mereka di masa depan. Karena tidak mungkin mereka berada di pengungsian ala kadarnya dalam jangka waktu lama. Saat ini warga terdampak mulai merencanakan kos atau ngontrak. Tutup Susianah Affandy. (*)