Inilah Tata Cara Salat Gerhana Matahari

Diterbitkan oleh Admin pada Kamis, 26 Desember 2019 11:43 WIB dengan kategori Headline Tanjungpinang dan sudah 2.129 kali ditampilkan

Fenomena alam gerhana matahari cincin akan melewati beberapa wilayah di Indonesia pada Kamis (26/12/2019) mendatang. Gerhana matahari cincin (GMC) terjadi ketika matahari, bulan, dan bumi tepat segaris. Ketika itu, piringan bulan yang teramati dari bumi lebih kecil dibandingkan piringan matahari. Oleh karena itu, saat puncak gerhana, matahari akan tampak seperti cincin, yakni gelap di bagian tengahnya dan terang di bagian pinggirnya.

Berdasarkan informasi dari kepala Biro Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) Gerhana Matahari Cinicin (GMC) akan melewati 25 kota dan kabupaten di Indonesia. Salah satu kota yang dilewati oleh Gerhana Matahari Cincin (GMC) adalah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Sebagai umat muslim, alangkah baiknya menyambut fenomena alam yang terjadi, salah satunya peristiwa Gerhana Matahari, sesuai dengan tuntunan dalam ajaran Islam. Dalam bahasa Arab, Gerhana Matahari disebut ‘kusuf’ yang bermaksud terlindung atau hilangnya cahaya matahari. 
Di zaman Rasulullah SAW, fenomena Gerhana Matahari pernah terjadi. Peristiwa Gerhana Matahari bukanlah bentuk kemurkaan Allah SWT, namun merupakan tanda kebesaran-Nya.  Dengan demikian, sudah sepatutnya kita sebagai umat muslim tak hanya menjadikan fenomena yang menakjubkan tersebut untuk pemandangan saja, tetapi juga dianjurkan untuk Solat Sunah Kusuf (Solat Gerhana).

Terdapat beberapa perkara sunnah yang dianjurkan saat peristiwa gerhana terjadi, di antaranya adalah melakukan solat dan berdoa. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. bahawa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo`alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah” (HR. Bukhari).

Selanjutnya, berdasarkan Riwayat H.R. Muslim, Aisyah radhiyallahu anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH (mari kita lakukan shalat berjamaah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku dan empat kali sujud dalam dua rakaat. (HR. Muslim no. 901)

Sumber: Baznas Tanjungpinang