100 hari Nadiem Makarim dan Kecemburuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Diterbitkan oleh Admin pada Kamis, 30 Januari 2020 13:59 WIB dengan kategori Headline Opini Pendidikan dan sudah 841 kali ditampilkan

Sehari sebelum pemaparan kampus merdeka, saya mendapat informasi tentang apa yang akan dipaparkan oleh Mendikbud tapi jujur ekspektasi saya tidak begitu tinggi mengingat hampir 100 hari Nadiem Makarim tanpa gebrakan yang berarti.

Bahkan Ketika saya ngumpul-ngumpul dengan kawan-kawan wartawan pendidikan saya pun mengatakan tak ada gebrakan bagus dari nadiem Makarim. Curhat Muhammad Ramli Rahim Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia Kamis (30/1/2020) kepada terkininews.com

Tetapi setelah membaca dengan cermat dan menonton video tentang apa yang dipaparkan oleh Nadiem Makarim yang disebutnya sebagai Kampus Merdeka maka di saat itulah saya menyadari bahwa konsep tersebut jauh dari apa yang kita pikirkan selama ini.

Ditambahkn Konsep itu sangat baik dan sesungguhnya mampu memacu perguruan tinggi untuk bisa lebih baik, demikian pula akan memicu mahasiswa untuk bisa lebih baik, tentu saja hal ini hanya berlaku bagi perguruan tinggi yang mau lebih baik dan bagi mahasiswa yang mau lebih maju.

Kampus Merdeka menumbuhkan banyak harapan dan sejujurnya saya sebagai ketua umum Ikatan Guru Indonesia sangat cemburu dengan konsep Kampus Merdeka yang jauh lebih maju dibanding Merdeka Belajar yang ditujukan untuk pendidikan dasar dan menengah.

Sehingga tampaklah di hadapan kita bahwa 100 hari Nadiem Makarim lebih banyak memberikan konsep dan harapan pada pendidikan tinggi dibanding pendidikan dasar dan menengah. Jelasnya

Kembali kepada konsep Merdeka Belajar yang sampai hari ini definisinya pun belum lengkap maka di sanalah pangkal kecemburuan kami melihat konsep Kampus Merdeka untuk pendidikan tinggi.

Konsep Merdeka Belajar justru Menurut kami adalah sebuah kemunduran karena dibukanya 30% jalur prestasi pada PPDB 2020 akan mengembalikan kasta-kasta sekolah dan menjauhkan cita-cita menjadikan semua sekolah sama baiknya. Konsep Merdeka belajar yang mundur setahun penghapusan ujian nasional juga adalah bentuk keragu-raguan Nadiem Makarim dalam menerapkan pendidikan yang lebih baik mengingat Ujian Nasional lebih banyak keburukannya dibanding sisi manfaatnya.

Satu-satunya hal baik dari konsep Merdeka belajar adalah penyederhanaan RPP yang merupakan bagian dari usulan (IGI) Ikatan Guru Indonesia pada 10 konsep revolusi pendidikan Indonesia pada bidang pendidikan dasar dan menengah. Tetapi Nadiem Makarim harus tahu bahwa perubahan konsep tersebut bukan mengubah pendidikan Tetapi hanya mengurangi dosa-dosa guru karena sebelumnya pun sangat jarang guru yang membuat sendiri RPP - nya, lebih banyak merupakan copy paste atau menyontek langsung pada RPP yang sudah ada sebelumnya dengan penyederhanaan ini guru-guru kita tidak perlu menyontek lagi dan guru-guru kita tidak perlu copy paste lagi tetapi cukup membuatnya karena bentuknya sudah sangat sederhana sehingga hal itu tidak mengubah pendidikan kita tetapi hanya sekedar mengurangi dosa-dosa guru.

Karena itu kami berharap konsep Merdeka belajar ini bisa sesegera mungkin dibuat perubahannya atau disempurnakan keberadaannya dengan banyak perubahan pada pendidikan dasar, menengah dan PAUD. Memang memikirkan secara serius pendidikan dasar dan menengah apalagi PAUD tidak banyak berpengaruh terhadap kinerja Kementerian karena hasilnya akan terlihat bukan dalam waktu dekat tetapi dalam jangka waktu yang masih sangat lama. Tentu saja Ini sangat berbeda dengan pendidikan tinggi yang dapat langsung dirasakan dalam beberapa waktu ke depan.

Karena itu setelah 100 hari Nadiem Makarim, ada dua pilihan yang perlu dipikirkan oleh Presiden Jokowi, yang pertama dengan konsep Kampus Merdeka yang dilontarkan Nadiem Makarim menunjukkan keseriusan beliau untuk mengurusi dengan baik pendidikan tinggi dan karena itu akan jauh lebih baik jika Presiden Jokowi mengembalikan pembagian pendidikan dasar dan menengah terpisah dengan pendidikan tinggi atau memilih hal kedua dengan menunjuk wakil menteri pendidikan yang khusus menangani pendidikan dasar dan menengah sehingga ketimpangan konsep antara pendidikan dasar dan menengah dengan pendidikan tinggi mampu dituntaskan

Pendidikan dasar dan menengah selama ini adalah bagian yang paling besar masalahnya di Kemdikbud dan Pendidikan kita secara utuh dan sangat berpotensi, masalah-masalah tersebut tertutupi oleh isu dan kebijakan pada pendidikan tinggi yang jauh lebih baik, karena itu berikan kesempatan kepada Nadiem Makarim untuk secara serius membuat perubahan besar dalam pendidikan tinggi dan Urusan pendidikan dasar dan menengah diserahkan kepada yang lain apakah dalam bentuk pemisahan Kementerian atau menunjuk wakil menteri pendidikan yang khusus menangani pendidikan dasar dan menengah

Sekilas Tentang Kata Merdeka

Tak ada yang salah dengan istilah merdeka. Apalagi hanya belajar merdeka. Lalu kampus (pun) merdeka. Anak-anak merdeka. Orang tua merdeka. Guru pun ikut merdeka. Pendidikan merdeka menjadi arus utama pendidikan nasional.

Nadiem lahir dari buah kemerdekaan. Ia tidak pernah ikut berjuang bagaimana menegakkan kata merdeka. Apalagi ikut berlumuran darah untuk “sekadar” memekikkan kata “Merdeka!!!”.

Nadiem sama sekali tak punya masa lalu heroisme menenteng senjata demi mengusung satu kata ini. Bahkan ketika proklamasi dikumandangkan, Nadiem juga tak memiliki pengalaman bagaimana mempertahankan kemerdekaan setelah pasukan Gurkha menggeruduk Surabaya.

Mungkin terlalu jauh bacaan sejarah kebangsaan ini jika disandingkan dengan era Nadiem. Baiklah. Kita bicara PRRI Permesta, DII TII hingga G30S PKI. Kali ini kita bicara bagaimana mempertahankan kebangsaan yang satu, kenegaraan yang satu dan kemerdekaan yang satu, yaitu dalam genggaman NKRI.

Jika masih terlalu jadul,marilah kita tengok bagaimana perjuangan menguatkan kebangsaan dan kenegaraan dalam NKRI ini. Timor Timur dan GAM lalu disusul Papua, Papua Barat dan RMS. Nadiem tinggal googling saja untuk membaca itu semua. Timor Timur sudah lepas menjadi negara baru bernama Timor Leste.

Nadiem mungkin mewakili generasi “Buta Membaca” seperti yang dituturkan Taufik Ismail. Buta membaca sejarah bangsanya sendiri. Upss..saya lupa. Nadiem hidup dan besar di Singapura. Jangan- jangan ia juga tak mengerti singkatan GAM dan RMS. Tenang, Nadiem tak sendirian. Ada jutaan lainnya yang sama.

Mari kita tengok tahun kekinian sebelum Nadiem dilantik sebagai menteri. Papua Merdeka bergolak. Tentara tewas. Belasan pekerja konstruksi digorok. Mereka pulang tinggal nama. Bintang Kejora bahkan dikibarkan di Amerika pada MLK Day di Amerika, bulan Januari 2020. Semua peristiwa ini demi mengusung satu kata: MERDEKA. Mereka tak ingin menjadi Indonesia. Negeri tempat Nadiem menjadi menteri.

Sejak lahir Nadiem memang tak pernah mengenal kata “merdeka” ini. Meski, kabarnya ia masih keturunan para pejuang. Mungkin para tetuanya lupa tidak menceritakan sejarah bangsa ini kepadanya. Mereka sibuk “mengungsikan” ke Singapura dan besar di Harvard, Amerika .

Lantas apa salahnya kebijakan “belajar merdeka dan kampus merdeka.” Tidak ada yang salah Nadiem. Ini ekspresi milenialmu. Seolah kata merdeka ini satu-satunya diksi yang mengekspresikan kebebasan belajar. Bebas mengeluarkan pendapat, bebas berkata-kata, dan menuliskannya dalam semangkuk “perjuangan kemerdekaan?”

Mungkin juga sebaliknya, diksi ini seolah tak mewakili apapun sehingga mudah saja digunakan dalam kebijakan pendidikan nasional. Mirup puisi Sutarji yang ingin membebaskan kata dari makna yang membelenggunya. Sutarji ingin memerdekaan “negeri” kata-kata.

Semoga nomenklatur baru dalam arus kebijakan pemerintah ini bukan bagian dari propaganda disintegrasi bangsa Indonesia. Saya teringat film Naga Bonar dan Serangan Fajar. Pekik merdeka adalah roh perjuangan yang tak pernah surut hingga tetes darah penghabisan.

Hari ini kata merdeka begitu ringan diucapkan bahkan ketika tentara di perbatasan tewas disergap gerilyawan. Kata merdeka hanya ekspresi keseharian seolah tanpa makna, konteks peristiwa, bahkan menjadi tagline resmi kabinet ini.

Mungkin Nadiem sedang ingin membangkitkan roh heroisme ini untuk pendidikan di Indonesia. Entahlah. Yang pasti, Nadiem tentu tidak ingin meniup bara dalam sekam, dengan mendoktrin generasi muda untuk belajar merdeka untuk anak-anak Sulawesi, Papua, Aceh, Maluku, Sumatera, Bali, dan anak-anak lainnya, termasuk DKI Jakarta yang sebentar lagi ditinggal “ibu kota.”

Indonesia lahir bukan tanpa sejarah. Bukan tanpa peristiwa. Bukan tanpa kata-kata. Indonesia lahir dari serangkaian kata dan darah. Simbol dan makna. ** (/)