Menolak Lupa Sejarah, Momen HPSN 2020, BBKSDA Sulsel Gerakkan Energi Positif

Diterbitkan oleh Admin pada Jumat, 21 Februari 2020 20:28 WIB dengan kategori Headline Makassar dan sudah 639 kali ditampilkan

Makassar, -- Menolak lupa kejadian 21 Februari yang terjadi 15 tahun yang lalu, saat musibah tempat pembuangan akhir sampah (TPA) Leuwigajah Cimahi longsor dan mengakibatkan 147 orang meninggal dunia.

Sekaitan momen tersebut dijadikan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) untuk menjadi pengingat dan titik awal komitmen secara nasional agar pengelolaan sampah lebih berwawasan lingkungan, seperti dengan terbitnya Undang - Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Telah banyak bencana pengelolaan sampah yang buruk, dan juga terjadi akhri tahun 2019 di Makassar Sulawesi Selatan, Selama kurang lebih 15 jam kebakaran melanda tempat penampungan akhir (TPA) Antang di Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, Makassar.

Kebakaran hebat ini menyisakan asap tebal yang mengitari permukiman dan ruas jalan sehingga mengganggu aktifitas masyarakat dan kesyukuran tidak ada korban jiwa dari bencana ini meski 10 Ekor sapi dilaporkan mati karena bencana ini. sebut Thomas Nifinluri

Dampak pengelololaan yang buruk apabila dibiarkan akan menimbulkan bencana yang tidak bisa dihindarkan dimanapun kita berada. Kata Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc Jum'at (21/2/2020) terkininews.com

Belajar sejarah kelam tersebut, BBKSDA Sulsel selaku UPT KLHK  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertugas mengelola
15 Kawasan Konservasi berupaya menggerakkan energi positif seluruh warga Kota Makassar sampai warga yang tinggal dekat dengan kawasan konservasi untuk berbuat lebih nyata, yaitu merubah paradigma terhadap sampah. Inbuhnya

Lanjut bekerjasama dengan Pemda dan Satker KLHK Sulawesi Selatan serta mitra membuat jadwal Street Campaign atau Kampanye Jalanan di lokasi strategis untuk lebih dekat dengan masyarakat guna mengedukasi konservasi dan pengelolaan sampah merupakan salah satunya.

“Awal Tahun 2020 ini kami
sudah rapat Bersama mitra-mitra kami, Pemda dan stakeholder lainnya untuk saling berkolaborasi satu sama lainnya untuk terjun ke masyarakat. Mulai dari pembagian bibit, kerja bakti aksi pilah sampah akan kita galakan di tiap street campaign dan Minggu 23 Februari kami akan ada di Car Free Day Jalan Ratulangi Lapangan Sudirman” Jelas Thomas.

Sementara itu seorang penulis buku akrab disapa Ellyana Said yang juga Kabag TU BBKSDA Sulsel mengatakan bahwa Street Campaign adalah salah satu contoh giat yang kami lakukan untuk mengubah paradigma berfikir warga kota terhadap sampah, dengan gerakan mengolah sampah mandiri (3 R) reduce, reuse, dan recycle.

“Merawat Bumi” mengatakan “Prinsip 3 R dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja, yang dibutuhkan adalah waktu dan kepedulian kita terhadap lingkungan, tindakan dan perilaku kita ,bagaimana mengubah perilaku dan cara kita mengatasi masalah sampah ini. Tandasnya

"Bila kita ke Pasar atau ke tempat belanja, membawa keranjang untuk mengurangi pemakaian kantong plastik, serta mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat (RECYCLE). Jadikan sampah sebagai kawan yang bisa mendatangkan
keuntungan", ujar Ellyana memberi contoh

Lantas bagaimana dengan warga yang tinggal di sekitaran Hutan atau perbatasan Kawasan konservasi, apakah sama pengelolaan sampahnya ?

Iya!, Sama. Penerapan 3R mandiri oleh masyarakat sekitar hutan dapat dilakukan. Pengelolaan sampah dan membuat sampah menguntungkan itu ada caranya, salah satunya inovasi yang dilakukan Bidang Wilayah II Pare - pare tepatnya di TWA Lejja, Bersama mitra Bank Sampah Mario binaan Seksi Konservasi Wilayah III di Launching akhir tahun 2019 lalu.

Di Bank Sampah Mario ini warga bisa menabung sampah, berbelanja, dan menjual sampahnya. (*/)