IGI : Jangan Cabut Jalinan Pembelajaran Siswa Dan Gurunya Karena Corona

Admin Jumat, 3 April 2020 19:23 WIB
230x ditampilkan Headline Jakarta Pendidikan

JAKARTA, -- Aturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama beberapa pemerintah daerah di hampir seluruh daerah di Indonesia berupa program belajar di rumah dalam pandangan kami (IGI) ikatan guru Indonesia mayoritas telah mencabut jalinan pembelajaran antara guru dan siswanya karena program pembelajaran yang berjalan dan diarahkan Kemdikbud adalah pembelajaran dari guru tertentu untuk banyak siswa di seluruh Indonesia termasuk melibatkan portal atau platform pendidikan seperti ruang guru, zenius dan lain-lainnya.

Sistem Belajar seperti ini sesungguhnya telah menghilangkan proses pembelajaran antara guru dan siswa secara langsung walaupun harus melalui dunia maya, maka itu seharusnya yang dipikirkan bukan bagaimana start-up pendidikan atau platform pendidikan tersebut didorong untuk membantu siswa dalam kondisi Covid 19 tapi yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana guru-guru tersebut tetap menyelenggarakan proses pembelajaran dengan siswa-siswa mereka dengan tatap muka secara langsung melalui dunia maya.

Hasil pantauan kami dari ikatan guru Indonesia masalah kuota data adalah masalah utama dalam pembelajaran kelas jauh di dunia maya. Selain itu masalah rendahnya kemampuan guru juga menjadi problem utama dalam penyelenggaraan kelas maya ini. Terang Ketua Umum Ikatan Guru. Jum'at (3/4/2020) kepada terkininews com

Lanjut masalah kedua sesungguhnya adalah fakta yang membuka mata kita Betapa program program Kemendikbud selama ini untuk meningkatkan kompetensi guru kita tidak begitu berarti dan tidak banyak mengubah pendidikan kita. Jelasnya

"Kita tentu saja bertanya dimana hasil PPG dan PLPG yang selama ini ini lebih dari 10 tahun dijalankan oleh Kemdikbud, lalu kita pun tentu bertanya anggaran ratusan miliar yang setiap tahun digelontorkan Kemdikbud dengan berbagai macam pelatihan-pelatihan buat guru juga tidak mampu membantu guru-guru kita memiliki kemampuan yang lebih tinggi terutama dalam menghadapi masalah mendadak seperti Pandemi Covid 19 ini. Kata dia

Terkait masalah pertama tentang ketersediaan kuota data yang seharusnya dimiliki oleh siswa dan guru dalam kondisi diharuskan menggunakan pembelajaran kelas jauh di dunia maya maka seharusnya anggaran Kemdikbud sebaiknya diarahkan untuk memenuhi kuota data baik untuk siswa maupun untuk gurunya. Tambahnya

Kami sesungguhnya menyesalkan kerjasama antara Telkomsel sebagai BUMN dengan ruang guru yang notabene pendirinya adalah salah satu staf khusus presiden. Telkomsel menggratiskan penggunaan kuota data untuk ruang guru yang sebenarnya mencabut interaksi antara guru dengan siswanya dan mengalihkannya menjadi interaksi antara siswa dengan ruang guru atau platform pendidikan lain. Tandas Muhammad Ramli Rahim

"Seharusnya yang dilakukan Telkomsel jika ingin membantu siswa-siswa di seluruh Indonesia adalah dengan cara menggratiskan kuota data untuk siswa dan guru dengan cara menggunakan nomor induk siswa dan NUPTK guru sebagai password masuknya. Kata Muhammad Ramli Rahim

Namun jika Telkomsel sebagai BUMN tidak mampu melakukan itu maka sebaiknya Kemendikbud turun tangan untuk menyediakan kuota data sehingga guru-guru kita dan siswa-siswa kita mampu secara bersemangat tetap menyelenggarakan proses pembelajaran tatap muka melalui dunia maya tidak dengan pembelajaran yang terkoordinir dari satu portal pendidikan tertentu yang sesungguhnya mencabut komunikasi antara guru dengan siswanya.

Lebih jauh Ketua Umum IGI mengatakan bahwa Batalkan Organisasi Penggerak, Alihkan Anggarannya.

Jika kemudian pemerintah kesulitan dengan anggaran maka ikatan guru Indonesia mengusulkan untuk menggunakan anggaran organisasi penggerak atau guru penggerak yang jumlahnya lebih dari Rp.595 miliar itu untuk digunakan menyediakan kuota data untuk guru dan siswa karena kami pun sesungguhnya yakin program ini tidak akan mampu meningkatkan kemampuan guru secara signifikan secara merata di seluruh Indonesia.

Menurut IGI, Kompetensi guru hanya akan bisa dimaksimalkan peningkatannya dengan cara mendorong guru untuk meningkatkan kemampuannya secara mandiri dan itu tidak membutuhkan anggaran dari Kemdikbud. Jika Kemdikbud memberikan kepercayaan kepada ikatan guru Indonesia untuk meningkatkan kemampuan guru secara mandiri maka sesungguhnya ikatan guru Indonesia sangat siap untuk menjalankan itu Syaratnya hanya satu berikan legalitas itu kepada ikatan guru Indonesia.

Selama masa penanggulangan Covid 19 ratusan pengurus dan anggota IGI di seluruh Indonesia tanpa pamrih memberikan pelatihan baik kepada guru maupun siswa dalam membekali diri dalam pembelajaran kelas maya dan itu tanpa harus diberi anggaran oleh Kemdikbud. (*/)