IGI Apresiasi Dana BOS Untuk Kuota Data Siswa dan Guru Tapi Menunggu Aturan Tertulisnya

Admin Jumat, 10 April 2020 10:34 WIB
209x ditampilkan Headline Jakarta Pendidikan

JAKARTA, -- Mencermati video conference dalam bentuk bintang sore oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bersama Wartawan wartawan pendidikan nasional Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyampaikan apresiasi yang begitu tinggi kepada kementerian pendidikan dan kebudayaan yang telah membolehkan penggunaan dana BOS bukan hanya untuk guru tapi juga untuk siswa.

Proses pembelajaran kelas maya selama ini sudah berjalan selama tiga minggu dan satu persatu guru guru penggerak kita yang menggerakkan siswa dan guru-guru lainnya untuk menjalankan program kelas maya tetap menjalin komunikasi langsung antara guru dengan siswanya Dalam proses pembelajaran virtual class atau kelas maya. Memasuki minggu ke-4 satu persatu guru guru penggerak ini bertumbangan bahkan termasuk siswa yang juga satu persatu mengundurkan diri karena keterbatasan paket kuota data.

Solusi Mendikbud Nadiem Makarim ini seolah menjadi oase di tengah padang pasir dan bertumbangannya satu per satu guru-guru kita yang tengah menjalankan proses kelas maya. Kata Muhammad Ramli Rahim. Jum'at (10/4/202) terkininews.com

Lanjut meski demikian dibutuhkan segera Aturan tertulis yang dikeluarkan oleh Mendikbud. Permendikbud tentang perubahan juknis BOS atau aturan lain yang secara tertulis bisa menjadi dasar harus segera dikeluarkan Kemdikbud. 

Inspektorat di daerah tidak bisa menerima jika hanya sekedar omongan atau bincang-bincang seperti itu karena tidak bisa menjadi acuan, harus segera di buat produk hukum tertulis. Tambahnya 

Dikatakan Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim bahwa kepala sekolah tidak akan berani membuat kebijakan tanpa dasar hukum tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk itu Kemdikbud harus segera membuat acuan tersebut.

Terkait pembelajaran melalui televisi ini mungkin menjadi solusi untuk daerah-daerah yang tertinggal dan tidak mendapatkan jaringan internet karena Biar bagaimanapun dengan 12 jenjang dan begitu banyak mata pelajaran tentu saja televisi tidak efektif untuk diandalkan. Meskipun demikian Upaya ini tetap patut kita apresiasi. Sulawesi Selatan bahkan sudah bekerjasama dengan Radio Republik Indonesia untuk proses pembelajaran di daerah-daerah terpencil. Tutupnya (*/)