BI Optimis Inflasi 2020 Tetap terkendali Dalam Target Sasaran Strategi Pengendalian

Admin Sabtu, 6 Juni 2020 22:49 WIB
108x ditampilkan Headline Makassar Nasional

MAKASSAR, -- Perkembangan Inflasi bulanan Sulsel pada Mei 2020 tercatat masih sesuai dengan sasaran target dan lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan secara bulanan inflasi Sulsel tercatat 0,50%(mtm) lebih rendah dibandingkan inflasi pada Mei 2019 (0,76%, mtm). Inflasi tersebut khususnya disebabkan kenaikan harga pada kelompok transportasi dengan andil bulanan mencapai 0,37% atau meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan andil bulanan pada bulan sebelumnya yang sebesar -0,01%.

Kondisi tersebut sejalan dengan kenaikan tarif angkutan udara setelah diterbitkannya Keputusan Menteri Perhubungan No. 88 tahun 2020 yang mengatur sementara tarif batas atas penumpang angkutan udara kelas ekonomi selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan COVID-19. Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok sandang juga memberi sumbangan pada inflasi bulan berjalan masing-masing sebesar 0,05% dan 0,03%.

Sementara inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau disumbang oleh kenaikan harga komoditas bawang merah, roti manis, ikan layang/benggol yang kenaikanya dipengaruhi pola konsumsi yang lebih tinggi menjelang HBKN Idul Fitri. Sementara, komoditas cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras menahan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada bulan berjalan.

Menjelang momen HBKN, harga sandang juga terpantau lebih tinggi, khususnya untuk komoditas baju muslim wanita dan baju muslim anak inflasi tahunan Sulsel lebih rendah dibandingkan pola historisnya. Inflasi tahunan Sulsel pada Mei 2020 tercatat 2,37%(yoy) berada dalam sasaran target 3,0±1% serta lebih rendah dibandingkan rata-rata 3 tahun sebelumnya (3,95%, yoy) walaupun lebih tinggi daripada inflasi Nasional (2,10%, yoy).

Bahkan inflasi tahunan juga dipicu kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau (3,57%, yoy) serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (6,90%, yoy). Secara tahunan, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga signifikan pada kelompok makanan, minuman dan tembakau adalah gula pasir, beras, rokok kretek filter, minyak goreng dan bawang merah.

Adapun untuk komoditas perawatan pribadi dan jasa lainnya dipicu oleh kenaikan harga pada emas perhiasan. Secara spasial, Inflasi di seluruh Kab/Kota IHK Sulsel tetap terkendali dan berada dalam target inflasi dengan Inflasi tahunan tertinggi di Kabupaten Bulukumba dan Kota Makassar. 

BI optimis inflasi tahun 2020 akan tetap terkendali dan berada dalam target sasaran. Strategi pengendalian inflasi akan tetap difokuskan pada aspek 4K yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif serta didukung dengan kerjasama antar daerah. Fokus pengendalian inflasi yang dilaksanakan TPID pada Bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H adalah menjaga kelancaran distribusi dan keterjangkauan harga melalui pengembangan platform digital dalam berbelanja. Dimana beberapa upaya pengendalian inflasi kedepan yang akan dilakukan antara lain melalui:

Penguatan koordinasi untuk menjaga keterjangkauan harga melalui pengawasan jalur distribusi yang melibatkan rantai perdagangan yang cukup panjang dan merupakan komoditas pangan yang sensitif seperti bawang putih dan gula pasir;

Menjaga ketersediaan pasokan melalui koordinasi perdagangan antar daerah (kabupaten/kota) yang efektif, utamanya untuk komoditas bawang merah (Kabupaten Enrekang) dan daging ayam ras (Kabupaten Sidrap) dan perdagangan antar wilayah lingkup provinsi melalui inisiasi pelaksanaan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) TPID se-Sulampua;

Ditengah pandemi COVID-19, TPID berupaya untuk meningkatkan koordinasi dan melakukan komunikasi yang efektif. TPID berupaya untuk mendukung implementasi Instruksi Gubernur Sulawesi Selatan No.188.554/2204/BIRO HKM tentang Kewaspadaan dan Pencegahan Penularan Corona Virus Disease 19 (COVID-19).

Dukungan dilakukan melalui penguatan komunikasi agar masyarakat melakukan belanja kebutuhan pangan secara bijak melalui media cetak dan media sosial. Selain itu, ketersediaan pasokan bahan pangan juga terus dijaga melalui koordinasi intensif dan pertukaran data serta informasi bersama Dinas Perdagangan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan serta Dinas Ketahanan Pangan.

Dengan upaya tersebut, inflasi Sulsel pada tahun 2020 diperkirakan dapat tetap dijaga dalam kisaran yang ditetapkan 3±1%.
Perkembangan Sistem Pembayaran Tunai
Pada Mei 2020, transaksi tunai (uang kartal) KPw Bank Indonesia Provinsi Sulsel tercatat net outflow (Rp2,53 triliun).

Sememtara jumlah uang kartal yang masuk (cash inflow) tercatat sebesar Rp1,13 triliun sementara uang kartal yang keluar (cash outflow) sebesar Rp3,67 triliun. Tercatat penarikan perbankan sebesar Rp 2,51 triliun atau 68,5% dari cash outflow sedangkan sisanya 31,5% adalah untuk pemenuhan 4 (empat) kas titipan dan transaksi lainnya. Adapun 2 (dua) aktivitas yang mempengaruhi terjadinya cash outflow yaitu momen Bulan Ramadhan dan penarikan bansos bagi masyarakat terdampak COVID-19. 

Realisasi pemenuhan uang tunai untuk kebutuhan Bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H (24 April 2020 - 20 Mei 2020) adalah sebesar Rp3,59 triliun. Realisasi tersebut seiring dengan menurunnya penarikan oleh perbankan dan kas titipan yang tidak dapat berjalan maksimal sebagai dampak dari pandemik COVID-19.

Adapun serapan Uang Pecahan Besar dan Uang Pecahan Kecil terbesar berasal dari penarikan perbankan, kas titipan Kota Palopo dan Kas titipan Kabupaten Bulukumba yang selama Bulan Ramadhan terdapat 37 bank yang melayani penukaran uang di 79 kantor cabang.

Perkembangan Sistem Pembayaran Non Tunai di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi, penyelenggaraan sistem pembayaran non tunai melalui RTGS pada bulan April 2020 tercatat masih mengalami peningkatan baik secara nominal dan volume. Secara nominal, RTGS tercatat meningkat sebesar 25,7% (mtm) mencapai Rp12,9 triliun, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp10,3 triliun. Demikian pula dengan volume RTGS pada bulan April 2020, tercatat sebanyak 4.712 transaksi, atau meningkat sebesar 3,1% (mtm) dari 4.571 transaksi pada Maret 2020. 

Di sisi lain, transaksi kliring transfer dana melalui SKNBI di Provinsi Sulsel mengalami penurunan pada bulan April 2020, baik nominal maupun jumlah warkat. Nilai transaksi kliring pada bulan April 2020 menurun sebesar 11,5% (mtm) menjadi Rp2,2 triliun dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat Rp2,5 triliun. Walaupun demikian, volume transaksinya mengalami peningkatan sebesar 10,3% (mtm) atau naik menjadi sebanyak 48.923 warkat, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 44.376 warkat. 

Bersamaan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya, nilai transaksi pembayaran non tunai menggunakan kartu ATM/D tercatat mengalami penurunan seiring dengan melemahnya konsumsi RT. Dari sisi nominal, transaksi kartu ATM/D pada triwulan I 2020 tercatat mencapai Rp45,8 triliun, turun sebesar 8,1% (yoy). Di sisi lain, volume transaksi kartu ATM/D tercatat mencapai 40,9 juta transaksi pada triwulan berjalan, mengalami peningkatan sebesar 8,7% (yoy). Peningkatan secara volume ini diperkirakan dipengaruhi pemberlakukan PSBB yang mendorong behaviour shifting masyarakat untuk berbelanja secara non tunai/online.

Pada transaksi e-Commerce, 60% transaksinya dilakukan secara non tunai (transfer bank; 39,2% dan uang elektronik; 20,2%). Dilihat dari perkembangan jumlah kartu, terdapat peningkatan sebesar 18,1% (yoy) dari 13,9 juta kartu menjadi 16,4 juta kartu.

Sejalan dengan transaksi ATM/D, transaksi kartu kredit secara nominal dan volume mengalami penurunan. Nominal transaksi menggunakan kartu kredit pada triwulan I 2020 tercatat sebanyak Rp977 miliar, turun sebesar 22,6% (yoy) dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Begitupun juga dari sisi volumenya, transaksi kartu kredit turun sebesar 23,4% (yoy) dari 1,2 juta menjadi 910 ribu. Hal ini disebabkan oleh penurunan aktivitas sejalan dengan himbauan physical distancing dan penurunan pendapatan masyarakat sebagai dampak langsung wabah COVID-19. Di sisi lain, NPL kartu kredit mengalami perbaikan yakni pada angka 2,7% pada triwulan I 2020 dari 3,3% pada triwulan I 2019.

Dari Desember 2019 hingga Mei 2020, jumlah merchant yang menggunakan QRIS di Sulsel mencapai 88.226 atau tumbuh sebesar 161,8%. Tingkat pertumbuhan jumlah merchant di Sulsel tersebut berada diatas pertumbuhan nasional dan juga menempati posisi ke-5 sebagai salah satu daerah dengan tingkat pertumbuhan tertinggi diantara wilayah kerja Bank Indonesia.

Dari sisi volumenya, transaksi e-Commerce menunjukkan peningkatan pada bulan April 2020 walaupun secara nominalnya sedikit menurun. Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, secara nominal transaksi e-Commerce tercatat sebesar Rp230,6 miliar atau menurun 0,01% (mtm).

Secara volume, jumlah transaksi e-Commerce tercatat 718 ribu transaksi atau meningkat 9,6% (mtm). Dilihat dari metode pembayarannya, 38% transaksi dilakukan via transfer bank dan 25,4% transaksi dilakukan via uang elektronik. Hal ini menunjukkan transaksi e-Commerce yang didominasi oleh penggunaan non tunai untuk metode pembayarannya. Pada April 2020, jumlah pembeli tercatat sebanyak 257.011 dan penjual sebanyak 7.424. Berdasarkan kategori produk yang dibeli, fashion (24%), personal care & kosmetik (21%) dan handphone & aksesoris (13%) mendominasi. (*/)