Prioritaskan Siswa Quadran IV, Ikatan Guru Indonesia Apresiasi Disdik DKI

Admin Senin, 15 Juni 2020 14:14 WIB
134x ditampilkan Headline Jakarta Pendidikan

JAKARTA, -- Siswa pintar, anak orang kaya, berpenampilan menarik sudah tentu menjadi berkah yang luar biasa, kelompok siswa seperti ini akan mendapatkan tempat terbaik di manapun berada, mereka bisa pintar karena makan makanan bergizi hasil dari kerja keras orang tuanya, mereka berpenampilan menarik karena dukungan perawatan dari orang tuanya, anak-anak ini sebenarnya tak perlu dipikirkan oleh negara karena mereka pasti bisa mengurus dirinya sendiri dan punya kemampuan untuk mengelola dirinya sendiri dan atas bantuan orang tuanya

Lalu ada siswa yang miskin tapi pintar, anak seperti ini biasanya akan dengan mudah mendapatkan belas kasihan orang lain bahkan perhatian dari banyak orang.

Mengapa, karena meskipun hidupnya sulit, dia memiliki kecerdasan yang cukup dalam artian kecerdasan yang dinilai oleh sekolah.

Anak-anak seperti ini menurut Muhammad Ramli Rahim Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia. Senin (15/6/2020) kepada terkininews.com, bahwa mereka lebih mudah mendapatkan tempat bahkan lebih mudah mendapatkan bantuan dari banyak pihak.

Lalu ada pula siswa yang bodoh, kemampuannya sangat rendah tetapi orang tuanya kaya raya, anak seperti ini hidupnya masih lebih nyaman karena meskipun otaknya tumpul dia bisa sekolah di sekolah-sekolah favorit bahkan di sekolah-sekolah elite karena orang tuanya mampu membayar apapun yang berada di luar kemampuan anak tersebut.

Namun ada satu kelompok siswa yang sebenarnya berbahaya, kelompok ini justru membutuhkan perhatian khusus. Mereka adalah siswa yang sudah bodoh, miskin pula yang jika dibuat kuadrannya maka dia berada pada kuadran ke-4.

Kelompok siswa ini ini sebenarnya bukan 100% kesalahan mereka. Jika mereka bisa memilih, mereka bisa memilih lahir dari rahim orang kaya. Jika mereka bisa memilih, mereka akan memilih lahir dari orang tua yang cerdas sehingga kecerdasan orang tuanya menurun ke dirinya.

Dan kemiskinan ini terstruktur, tidak banyak orang yang mampu bangkit dan menjadi manusia kaya raya tapi berasal dari keluarga miskin sekeras apapun dia bekerja. Tentu saja hal ini terkecualikan pada mereka yang punya kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih baik atau karena keberuntungan. Namun mendapatkan pendidikan yang baik tentu saja sangat kecil peluangnya bagi mereka yang miskin dan bodoh. Karena peluang mendapatkan pendidikan yang baik hanya milik mereka yang pintar meskipun miskin atau bodoh tapi kaya. Padahal bisa jadi mereka yang saat ini miskin dan bodoh akan jauh lebih baik di masa depan jika diberikan ruang untuk tumbuh dan berkembang terutama di dunia pendidikan.

Jika kelompok siswa miskin dan bodoh ini diabaikan maka sesungguhnya pemerintah secara sadar telah melestarikan kemiskinan kepada mereka.

Nah, dalam PPDB 2020 DKI Jakarta, kami melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang dijalankan di tempat lain. Di sana ada satu jalur yang mengakomodir mereka yang miskin meskipun berkemampuan rendah serta usianya lebih tua yaitu :

  • Anak Asuh Panti
  • Pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) atau Kartu Jakarta Pintar Plus (KJP Plus)
  • Anak dari Pemegang Kartu Pekerja Jakarta
  • Anak dari Pengemudi Jak Lingko
  • Anak Pembinaan Olahraga Prestasi Berkelanjutan
  • Anak yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari Dinas Sosial; dan
  • Anak Para Tenaga Kesehatan yang meninggal dunia dalam penanganan Covid-19 di DKI Jakarta.

Kuotanya pun lumayan besar bahkan sampai 35% dan dilakukan proses seleksinya lebih awal.

Hal ini menunjukkan keseriusan Pemprov DKI Jakarta menjadikan pendidikan sebagai eskalator menaikan tarap hidup anak didik kuadran ke-4 ke arah yang lebih baik.

Hal lain yang tentu saja patut diapreseasi adalah perlakukan khusus bagi anak-anak tenaga kesehatan yang meninggal dalam penanganan Covid-19.

Menjadikan usia sebagai penentu akhir jalur afirmasi dan zonasi juga perlu mendapat apresiasi, mengingat mereka yang berada pada kuadran ke-4 ini boleh jadi usianya lebih tua karena tidak mampu melanjutkan pendidikan sementara waktu di masa lalu karena faktor ekonomi dan faktor keterbatasan kemampuan akademik.