Kluster Pesantren Merebak Lagi, FSGI Sebut Ribuan Santri Terkonfirmasi di 2020

Admin Selasa, 23 Februari 2021 15:45 WIB
32x ditampilkan Headline Jakarta

JAKARTA, -- Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) melakukan pemantauan kasus covid-19 di pondok pesantren yang usai liburan semester ganjil tahun ajaran 2020/2021 yaitu Januari 2021, di semester genap dimulai kembali dan para santri  kembali ke pondok untuk belajar tatap muka.

Namun hanya terhitung dalam waktu kurang dari 2 bulan, FSGI mencatat munculnya klaster baru pondok pesantren di sejumlah daerah, yaitu Tasikmalaya (Jawa Barat), Boyolali (Jawa Tengah), Bangka (Bangka Belitung), dan Pekanbaru (Riau). 

“Pada Januari sampai pertengahan Februari 2021, tercatat 632 santri dari 6 pondok pesantren terkonfirmasi covid 19 usai balik ke ponpes setelah liburan semester ganjil, yang terbanyak kasus adalah ponpes di Kota Tasikmalaya yang mencapai 375 kasus; di Boyolali 88 santri tertular covid-19; di Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, santri yang positif Covid mencapai 125 orang; dan sebanyak 44 orang di Ponpes Dar el Hikmah Pekanbaru, terpapar COVID-19,” ungkap Heru Purnomo, Sekjen FSGI. 

Heru menambahkan bahwa, Saking banyaknya santri yang terkonfirmasi covid-19, Pemerintah kota Tasikmalaya sampai menyediakan beberapa bangunan darurat isolasi di wilayahnya untuk menampung sebanyak 375 santri tersebut. Kata Heru

Namun karena ruang isolasi di pesantren tak mencukupi. Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya terpaksa memilah sesuai kondisi santri positif corona yang dirawat di ruang isolasi darurat dan isolasi mandiri terpusat di lingkungan pesantrennya.

Lanjut kata Heru bahwa dari hasil Pantauan Kluster Pesantren sejak Tahun 2020. Pondok Pesantren memiliki  potensi kuat menjadi kluster penularan covid 19, karena di pondok pesantren aktivitasnya cenderung bersama-sama (berkumpul) dalam waktu panjang, bahkan bisa dikatakan 24 jam.

Kalau infrastruktur dan protocol kesehatan/SOP adaptasi kebiasaan baru (AKB) tidak memadai dan rendahnya kedisiplinan untuk patuh pada protocol kesehatan, maka potensi penularan covid-19 menjadi tinggi. Di ponpes, biasanya para santri  setiap hari makan bareng, shalat berjamaah, bahkan kamar tindur santri pun diisi lebih dari satu orang yaitu antara 4-10 santri. Tandasnya

"Sebelumnya, hasil pemantauan FSGI pada bulan September 2020 menunjukkan ribuan santri terkonfirmasi covid-19. Pada September 2020, jumlah santri yang positif covid-19 mencapai ribuan, angka tepatnya 1449". Terang Heru

Lanjut sedangkan pada bulan Oktober 2020 tercatat 700 santri positif covid-19 dan pada bulan November 2020 mencapai 940 santri, Ada ponpes di kabupaten Banyumas angka kasus santri positif mencapai 328 orang, bahkan Ponpes di kabupaten Banyuwangi kasus santri positif covid paling banyak, yaitu mencapai 622 santri. 

“Dari jumlah tersebut, selain santri sudah termasuk pengelola, pegawai dan pimpinan pondok pesantren, hanya jumlahnya 99% didominasi santri. Total dari data yang dikumpulkan FSGI mencapai lebih dari 3.000 kasus covid 19 hanya dari kluster pondok pesantren dalam 3 bulan saja pada 20 pondok pesantren”. Ujarnya.

Sementara itu Fahriza Marta Tanjung, selaku Wakil Sekjen FSGI mengungkapkan wilayah mana saja yang jadi pantauan kluster pondok pesantren pada September-November 2020, meliputi 6 (enam) provinsi dan 18 kabupaten/kota dengan rincian, wilayah Provinsi Jawa Barat : Kabupaten Cianjur, Kota Tasikmalaya,  Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Cimahi, Kota Banjar, Kota Depok, kabupaten Sukabumi, dan  Kabupaten Kuningan. Provinsi Jawa Tengah : Kabupaten Tegal, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten  Kebumen. Provinsi Jawa Timur : Kota Malang, Kabupaten Banyuwangi, dan  Kabupaten Trengalek. Provinsi D.I. Yogjakarta : Kabupaten Bantul. Sulawesi Barat :  Kabupaten Polewali Mandar (Polman) dan Kepulauan Riau : Kabupaten Bintan.

Dari meningkatnya klausrer tersebut FSGI merekomendasi kepada pondok pesantren untuk mencegah kembali menjadi kluster baru maka FSGI mendorong Kementerian Agama memastikan dengan sungguh - sungguh infrastruktur Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) serta kepatuhan terhadap protocol kesehatan sesuai AKB, untuk semua aktivitas, mulai dari santri bangun tidur, ibadah, belajar, makan, mandi, piket dan sampai tidur kembali.

Pemerintah Daerah (Satgas Covid) dapat melakukan intervensi kedalam Ponpes terkait kesiapan infrastruktur fisik maupun kesanggupan penerapan protokol kesehatan Covid-19 melalui pendekatan dan komunikasi yang baik dengan Tokoh Masyarakat maupun pengelola ponpes.

Mansur menambahkan,”Pengelola Pondok Pesantren melakukan sosialisasi Protokol Kesehatan/SOP ke seluruh waga pesantren dan orangtua santri. Juga memasang protocol keseharan/SOP sesuai lokasinya, misalnya Protokol kesehatan/SOP makan ditempel di ruang makan, Protokol/SOP belajar ditempel di dalam kelas, dan seterusnya”.

Selain itu,” FSGI juga mendorong ponpes menerapkan kewajiban  tes antigen untuk seluruh santri, pengelola, pengajar maupun petugas masuk dan kebersihan lainnya. Ini untuk memastikan bahwa saat kembali ke ponpes para santri benar-benar dalam keadaan sehat,”pungkas Heru, yang juga merupakan Kepala SMPN 52 Jakarta.