BNN Jateng Gagalkan Peredaran Tembakau Gorila di Batang

Diterbitkan oleh Tauhid pada Selasa, 2 Maret 2021 19:54 WIB dengan kategori Daerah Headline dan sudah 67 kali ditampilkan

BATANG -- Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah bersama tim gabungan yang terdiri dari BNK Batang, Kanwil Bea Cukai Jateng dan DIY berhasil menggagalkan peredaran gelap narkotika jenis Sintetyc Canabinoid atau yang dikenal dengan Tembakau Gorila di perusahaan jasa pengiriman Jalan dr. Wahidin Batang, Rabu (24/2) lalu. Tersangka AAK berhasil dibekuk berkat informasi dari Kanwil Bea dan Cukai Jateng dan DIY, yang selanjutnya dilakukan penyelidikan sejak Selasa (23/2).

“Kami mempunyai interdiksi terpadu yang ada di Provinsi Jawa Tengah, yang di dalamnya ada 12 institusi di antaranya Polda Jawa Tengah, TNI AD, TNI AU, Bea Cukai dan lainnya,” ungkap Kepala BNNK Jateng, Brigjen Pol Benny Gunawan, saat menggelar konferensi pers di Halaman Kantor BNNK Batang, Selasa (2/3/2021).

Dijelaskan, berdasarkan informasi akan ada pengiriman barang berupa paket, sekira pukul 13.00 WIB. Begitu ada seseorang yang dicurigai sebagai pengedar, lalu segera ditangkap. Tersangka merupakan karyawan pada perusahaan pengolahan ikan di Klidang Lor.
“Lalu dilakukan penggeledahan, terdapat 2 buah paket Tembakau Gorila,” bebernya.

Setelah dilakukan pengembangan, lanjut dia, dengan menginterogasi tersangka, ternyata ada 2 paket serupa sedang dalam perjalanan, dan segera dilakukan penyitaan pada Kamis (25/2). 4 paket tersebut berisi Tembakau Gorila seberat 58,86 gram.

Ia menerangkan, AAK merupakan pengedar narkotika yang beroperasi di wilayah Batang. “Tembakau tersebut dijual eceran dengan harga terjangkau Rp 50.000 - Rp100.000,- kepada remaja berusia antara 17-21 tahun,” ungkapnya.

Tersangka sudah melakukan aksinya selama 1 tahun, dengan modus dimasukkan atau disamarkan dalam pakaian dan sepatu bekas. “Setelah dilakukan uji laboratorium ternyata narkotika tersebut termasuk golongan 1 Jenis MDMB-4-en PINACA yang memiliki efek 4 kali lipat lebih berat dari ganja,” terangnya.

Saat ini tim sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut, karena tentu masih ada pengedar lain, sebab barang bukti berasal dari Kota Sukabumi, Bandung dan Jakarta. “Sementara ini tersangka bekerja sendiri. Tersangka dikenakan Undang-undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Pasal 114 (Primer), 112 (Subsider) Junto Peraturan Menteri No. 4 Tahun 2021 Tentang Perubahan atas Penggolongan Narkotika dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun,” tandasnya.

Bupati Batang Wihaji mengatakan, hal ini menjadi pembelajaran penting agar hal serupa tidak terjadi lagi di Batang. 12 institusi itu memiliki komitmen kuat untuk memberantas peredaran gelap narkotika. Pemda selalu mendukung untuk meminimalkan kejadian tersebut. “Ayo warga Batang jauhi narkoba, jangan coba-coba. Ini merusak generasi penerus bangsa, diri sendiri dan keluarganya serta berakibat fatal bagi masyarakat,” imbaunya.

Wihaji menegaskan, selama ini pencegahan terus-menerus dilakukan bersama BNNK Batang dengan programnya Desa Bersinar (Bersih dari Narkoba). “Saya pun sebelum pandemi mempunyai program Bupati Mengajar, agar para pelajar mendapat edukasi untuk menjauhi narkoba,” tegasnya.

Sementara itu, tersangka AAK menuturkan, untuk sekali mengedarkan dengan berat 5 gram dapat mencapai 2 hingga 3 hari.
“Kalau peredarannya sampai saat ini hanya di lingkungan sendiri, belum sampai merambah ke pembeli wilayah lain,” ungkapnya.

Selanjutnya Dandim Batang Letkol Arh Yan Eka Putra menyatakan, ''Sebagai aparat teritorial Kodim 0736/Batang akan bersinergi dengan Polres, Pemda dan BNNK Batang siap membantu memberantas peredaran Narkoba di Batang. 

Menurutnya, ''Dengan melalui para babinsa yang ada di wilayah, kita adakan sosialisasi kepada para remaja tentang bahaya narkoba, karena usia remaja sangat labil dan mudah sekali dipengaruhi oleh pengaruh yang tidak baik yang datangnya dari masyarakat atau dari lingkungan sekitar. Kemudian awasi dan jaga keluarga kita, terutama anak-anak dari bahaya narkoba, karena peredaran narkoba menyasar ke semua lapisan masyarakat dan tingkatan usia''. Pungkas Dandim.
Suroto Anto Saputro