Idza, PPKM Mampu Menurunkan Kasus Covid-19 Di Brebes

Diterbitkan oleh Sholeh pada Jumat, 30 Juli 2021 16:43 WIB dengan kategori Headline dan sudah 105 kali ditampilkan

BREBES - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kabupaten Brebes mampu menurunkan kasus Covid-19. Meski demikian, dampak lain dirasakan masyarakat sehingga perlu penanganan konfehensif. Kunjungan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian diharapkan bisa memberi solusi, sehingga Covid-19 segera berakhir.

Demikian disampaikan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH saat Rapat Kordinasi dengan Mendagri dan jajaran Forkopimda di Pendopo Bupati, Kamis (29/7). 

Idza melaporkan, penerapan PPKM pada 3-28 Juli 2021 menunjukan hasil penurunan kasus aktif, penambahan kasus baru dan kenaikan angka kesembuhan pasien covid-19. Tercatat kasus aktif sebanyak 369 dengan rincian Isoman 213, rawat rumah sakit Brebes 91, rawat diluar rumah sakit Brebes 64. Sembuh 24, kasus baru 28 dan meninggal dunia 11. 

“Kasus tertinggi di Kecamatan Brebes sebanyak 87 kasus dan terendah di Kecamatan Salem 2 kasus,” papar Idza. 

Adapun upaya yang dilakukan Pemkab, lanjutnya, antara lain menyediakan tempat perawatan pada 2 RS pemkab dan 12 RS Swasta dan lokasi lain dengan kapasitas total mencapai 854 bed.

Untuk perawatan Pasien Covid-19 di Kabupaten Brebes menempati ruang Bed Occupancy Rate (BOR) ICU RS Brebes sebanyak 24 bed ICU terisi 17 pasien atau 70 persen. BOR Perawatan COVID-19 RS Pemkab 272 ben perawatan terisi 91 pasien atau 33 persen, RS Swasta 319 bed perawatan terisi 64 pasien atau 20 persen. Sedangkan tempat perawatan cadangan yakni Islamic Center, Hotel Kencana dan Gedung Guru tersedia 263 bed perawatan namun tidak terisi pasien alias nol persen. 

Idza juga menerangkan perkembangan vaksinasi di Kabupaten Brebes, dengan jumlah populasi penduduk mencapai 2.190.724 jiwa dengan sasaran vaksinasi usia di atas 17 tahun sebanyak 1.518.546 jiwa. Jumlah masyarakat yang sudah suntik vaksin 1 sebanyak 157.815 jiwa dan suntik vaksin 2 sebanyak 72.711 jiwa.

“Jumlah masyarakat yang belum divaksin sebanyak 1.360.731 jiwa,” ungkap Idza. 

Sedangkan untuk junlah vaksin yang diterima Kabupaten Brebes sebanyak 238.210 dosis. Jumlah yang digunakan sebanyak 236.943 dosis, dengan jumlah vaksin rusak 78 dosis, jumlah vaksin yang belum digunakan sebanyak 1.267 dosis. 

“Khusus jumlah vaksinasi untuk ASN, TNI dan Polri sebanyak 670 orang,” terang Idza.
Ada beberapa hal kebutuhan mendesak yakni oksigen, dan obat-obatan yang stocknya makin menipis. Diantaranya, untuk RSUD Brebes kekurangan oksigen untuk 1 minggu, ukuran 1 m3 sebanyak 70 buah dan ukuran liquid 14.000 m3.

Kemudian untuk RSUD Bumiayu kekurangan untuk kebutuhan harian/mingguan oksigen 1 m3 sebanyak 21 buah dan 6 m3 sebanyak 280 buah.
Sedangkan obat-obatan yang dibutuhkan antara lain Favipiravir (anti virus) sebanyak 20.000 tablet, Azytromysin 15.000 tablet, Acetylcystein 20.000 tablet, TseudoEfedrin 20.000 tablet, dan Multivitamin 50.000 tablet.

Langkah refokusing anggaran yang dilakukan dalam APBD 2021 sebanyak 8 persen dari Dana Alokasi Umum yakni Rp 99,08 miliar dengan perincian untuk penanganan penanggulangan covid 19 Rp 21,1 miliar, Vaksinasi covid-19 sebanyak Rp 1,01 miliar, insentif Tenaga Kesehatan Rp 15 miliar dan belanja tidak terduga Rp 61 miliar. Sedangkan untuk pemulihan ekonomi daerah sebesar Rp 5,08 dengan rincian untuk bantuan sosial Rp 4,4 miliar, pemberian makanan tambahan Rp 50,2 juta dan pemberdayaan UMKM Rp 566 juta. 

Bantuan sosial, kata Idza, diberikan untuk masyarakat miskin dan terdampak Pandemi sebanyak 664.805 Keluarga. 

Dalam penanganan pandemi Covid-19, Pemkab Brebes tidak bekerja sendirian, tetapi disokong berbagai pihak seperti TNI, Polri, aparatur desa hingga RT/RW, Corporate Social Responsibility (CSR) instansi, lembaga dan perusahaan serta organisasi sosial kemasyarakatan. 

“Ikhtiar kami tak pernah putus ataupun padam untuk itu, kami mohon arahan Pa Menteri untuk perbaikan dalam menangani pandemi ini,” pungkas Idza. 

Menteri Dalam Negeri, Mohammad Tito Karnavian menegaskan, pelaksaan PPKM Darurat di Indonesia telah berjalan dengan baik. Hal ini ditandai dengan penurunan semua indikator.

"PPKM  berjalan cukup bagus, ini ditandai dengan penurunan semua indikator, termsuk kasus COVID-19 trennya menurun," ungkap Tito Karnavian kepada awak media.

Beberapa indikator yang menurun itu, kata Tito antara lain BOR, angka kematian dan positive rate. Khusus angka kesembuhan, Mendagri mengatakan mengalami peningkatan.

Selama PPKM, Bed Occupancy Rate (BOR) yang semula tinggi hingga 100 persen turun mrnjadi 68 persen. Tito berharap BOR ini bisa terus ditekan hingga di bawah angka 50 persen.

"Kemudian BOR itu sekarang turun, sudah 68 persen. Tapi kalau mau aman harus dibawah 50 persen, biar masyarakat yang akan dirawat karena COVID bisa mendapatkan tempat tidur. Kalau mendapat tempat perawatan maka potensi sembuhnya akan tinggi," bebernya.

Kemudian, lanjut Mendagri, angka kematian (mortality rate) turun, yakni 4 persen. Sedangkan angka kesembuhan naik menjadi 79 persen. Tito meminta pemerintah kabupaten kota bekerja keras untuk menekan angka kematian hingga di bawah 4 persen dan meningkatkan recovery rate menjadi 90 persen.

"Kita perlu kerja keras lagi untuk menekan angka kematian. Meski sudah turun menjadi 4 persen, saya minta bisa ditekan lagi menjadi di bawah 3 persen. Saya pernah melihat di Sulawesi Selatan itu angka kematian 1,7 persen," Tito menambahkan.

Kemudian angka kesembuhan, Tito menjelaskan, terus mengalami peningkatan. Saat ini angkanya sudah 79 persen, namun Mendagri berharap bisa terus dinaikkan menjadi 90 persen.
Menteri juga menekankan untuk penerapan 5 M kepada seluruh masyarakat, jangan sampai kendur.