Kepri Alami Deflasi Terendah di Sumatera Pada Januari 2023

Diterbitkan oleh Saiful pada Sabtu, 4 Februari 2023 08:22 WIB dengan kategori Bisnis Kepri Terkini Nasional dan sudah 1.088 kali ditampilkan

KEPRI - Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,24% month to month (mtm) pada Januari 2023. Jika dibandingkan dengan Desember 2022 yang mengalami inflasi sebesar 1,10% (mtm) inflasi awal tahun ini jauh lebih rendah. Beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya deflasi pada Januari 2023 adalah: 
1)    Penurunan harga komoditas angkutan udara seiring normalisasi permintaan pasca HBKN akhir tahun; 
2)    Penurunan harga sayuran seperti bayam, kangkung dan sawi hijau yang diakibatkan oleh semakin membaiknya pasokan sayuran dari petani juga sejalan dengan kondisi cuaca yang kian membaik; 
3)    Penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya BBM non subsidi yang sejalan dengan penurunan harga migas global. Selain itu, IHK Nasional mengalami inflasi sebesar 0,34% (mtm), atau 5,28% (yoy).  

Untuk wilayah Kota Batam dan Kota Tanjungpinang mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,26% (mtm) dan 0,11% (mtm). Hal ini mengakibatkan secara year on year /yoy, Inflasi IHK gabungan kota IHK di Provinsi Kepri tercatat sebesar 4,85% (yoy). Tingkat inflasi di Provinsi Kepri berada pada posisi ke-10 dan menjadi yang terendah di antara Provinsi di Pulau Sumatera. Namun, inflasi masih di atas target sasaran inflasi nasional sebesar 3 ± 1% (yoy).  

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna mengendalikan inflasi agar tetap rendah dan stabil. Beberapa upaya diantaranya dengan melaksanakan monitoring ke klaster pangan untuk mengidentifikasi dampak potensi risiko gangguan cuaca. Selain itu, koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah juga dilakukan secara intensif guna mendorong pemantau dan pengawasan intensif terhadap kondisi pasokan dan kewajaran harga. 

Untuk jangka panjang, Tim Pengendalian Inflasi Daerah akan melanjutkan upaya dalam meningkatkan kapasitas produksi lokal dengan penguatan kelembagaan nelayan/petani, perluasan lahan, dan implementasi teknik budidaya yang lebih baik seperti Program Lipat Ganda dan penerapan integrated farming untuk menekan biaya produksi. Selain itu, penjualan produk pangan secara online yang diintegrasikan dengan pembayaran secara digital melalui QRIS akan terus didorong guna efisiensi rantai distribusi. 

Pada Februari 2023, risiko tekanan inflasi diperkirakan akan sedikit meningkat. Namun, terdapat beberapa risiko inflasi yang harus tetap diwaspadai, diantaranya : 
1.    Potensi peningkatan curah hujan dan dampak musim angin utara yang berpotensi dapat mendorong kenaikan harga komoditas bahan pangan terutama komoditas cabai, sayur, dan ikan; 
2.    Pencabutan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat yang mengakibatkan kenaikan mobilitas dan permintaan jasa angkutan; 
3.    Dampak penyesuaian harga rokok seiring dengan kenaikan cukai tembakau dan rokok elektrik. Sehubungan dengan itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah di Provinsi Kepri akan terus memperkuat koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) melalui pertemuan mingguan yang akan dilaksanakan untuk mengantisipasi kenaikan inflasi ke depannya.  

Upaya untuk mengendalikan inflasi pada tahun ini juga akan dilakukan dengan perluasan dan penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang telah dimulai sejak tahun lalu.