Kalau Dulu Menyerah, Mungkin Tidak Akan Kuliah di Sini

Diterbitkan oleh Redaksi pada Selasa, 3 Juni 2025 09:09 WIB dengan kategori Opini Suara Mahasiswa dan sudah 282 kali ditampilkan

OPINI:

Aliyyah Fayyaza Z.

Mahasiswa Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta

 

Saat pengumuman SNBT 2023 muncul di layar laptop, satu nama tak juga ditemukan. Bukan karena tak berusaha. Belajar sudah, doa pun tak putus. Dua pilihan utama, Psikologi UNPAD dan Ekonomi Sumberdaya IPB, tak satupun tercapai. Rasanya hampa. Bukan menangis, tapi kehilangan arah.

Padahal dari awal, peluang lewat SNBP pun sudah tertutup karena status sebagai siswa pindahan, meski punya peringkat dua paralel. Rasanya seperti ditolak bahkan sebelum punya kesempatan berjuang. Tapi waktu itu sempat berpikir, “Masih ada SNBT, masih bisa kejar.” Kenyataannya, tidak semudah itu.

Beberapa hari setelah pengumuman, tetap ikut bahagia melihat teman-teman lolos. Tapi saat malam datang dan hanya sendiri, rasa kecewa itu menyeruak. Bukan iri, tapi luka yang diam-diam tumbuh. Media sosial jadi tempat yang menyakitkan, bukan karena orang lain pamer, tapi karena diri ini belum sembuh.

Menurut psikolog Swinarti, dukungan sekitar sangat penting ketika seseorang gagal dalam seleksi perguruan tinggi. Dan benar, tanpa teman, keluarga, atau sekadar pelukan hangat, semua bisa terasa lebih berat.

Pelan-pelan, bangkit lagi. Mandiri jadi harapan baru. Mulai daftar ke banyak kampus seperti UNJ, UI, IPB, bahkan sekolah kedinasan. Tapi hasilnya belum berubah. Penolakan demi penolakan datang lagi. Sakit, tentu. Tapi tetap terus bangkit. Bukan hanya memperbaiki cara mengerjakan soal, tapi juga memperbaiki cara memandang diri sendiri.

Dari Positive Psychology, resiliensi adalah kemampuan untuk tetap bertahan di tengah tekanan dan mengembalikan kontrol atas hidup. Dan mungkin itulah yang sedang dilakukan, berusaha menjadikan luka sebagai bahan bakar, bukan penghalang.

Hingga akhirnya, diterima di Politeknik Negeri Jakarta. Awalnya ragu. Ini bukan kampus impian yang dulu selalu dibayangkan. Tapi perlahan disadari, tempat ini bukan cadangan, tapi sebuah kesempatan baru.

Di sinilah lembaran baru dimulai: belajar jurnalistik, ikut organisasi, bertemu teman-teman yang tulus, bahkan menulis kisah ini. Kalau dulu menyerah, mungkin tak akan pernah sampai di titik ini.

Faktanya, dari lebih dari 800 ribu pendaftar SNBT 2023, hanya 27 persen yang lolos. Artinya, 73 persen lainnya merasakan kegagalan yang sama. Dan itu bukan aib. Justru, di situlah banyak dari kita belajar tentang hidup.

Gagal masuk kampus impian bukan berarti gagal dalam hidup. Terkadang, jalan kita memang harus memutar, tapi itu bukan jalan yang salah.

Tulisan ini bukan untuk pamer telah berhasil, karena pada dasarnya, proses ini penuh jatuh-bangun. Ini untuk siapa pun yang saat ini sedang merasa kalah. Menangislah, kecewalah. Tapi jangan berhenti. Mungkin kamu belum sampai di tujuan, tapi kamu sedang menuju ke sana.

Kata Zig Ziglar, “Berpikir positif membuat kita bisa melakukan segalanya lebih baik daripada berpikir negatif.” Dan mungkin itu benar, karena kadang, kekuatan terbesar justru tumbuh di titik terendah, saat kita memilih untuk tetap berjalan.

Kalau dulu menyerah, mungkin tak akan ada cerita ini. Siapa tahu, justru inilah awalnya.