Pembangunan Masjid SMPN 1 Dukuhturi: Pungli Berkedok Sumbangan Anak Yatim Jadi Korban

Diterbitkan oleh Redaksi pada Sabtu, 18 Oktober 2025 22:24 WIB dengan kategori Kota Tegal Tegal dan sudah 566 kali ditampilkan

TEGAL - TERKININEWS.COM - Diduga pungutan berkedok sumbangan masih sering dilakukan di sekolah-sekolah diwilayah kabupaten Tegal, kemungkinan besar hal itu dilatarbelakangi oleh ketidakcukupan biaya pendidikan yang tidak tercover oleh dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Lebih lanjut, belakangan ini tim media terkininews.com menerima informasi dari salah satu orang tua siswa yang bersekolah di SMP Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal tentang adanya dugaan pungutan tersebut.

Rencana pembangunan masjid di SMP Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal memicu perdebatan di kalangan wali murid. Di satu sisi, sekolah mengharapkan dukungan untuk meningkatkan fasilitas. Namun, di sisi lain, muncul keberatan terkait permintaan sumbangan yang dianggap memberatkan.
 
Seorang wali murid yang identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, "Pada Selasa (7/10/2025) kami diundang ke sekolah untuk menerima hasil belajar siswa. Namun, wali kelas menyampaikan rencana pembangunan masjid di belakang sekolah, menggabungkan mushola yang ada."
 
Wali murid tersebut menambahkan, sekolah meminta sumbangan antara Rp500 ribu hingga Rp900 ribu, dicicil selama 8 bulan mulai Oktober 2025. 

"Saya keberatan dengan nominal yang ditentukan. Sebagai keluarga kurang mampu dengan anak yatim, padahal pada saat itu juga dirinya sudah menyampaikan kepada gurunya keluarga saya kurang mampu dan anak saya yatim,tapi pihak guru tetap saja menyampaikan sudah mengisi formulir kesanggupan Rp500 ribu aja," ujarnya.
 
"Sumbangan seharusnya sukarela, tanpa paksaan nominal atau waktu. Mengapa anak yatim yang seharusnya dibantu, malah dimintai sumbangan dengan nominal?" tegasnya.
 
Menanggapi hal ini, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Dukuhturi Kabupaten Tegal Indit Undiarto, saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (18/10/2025), menyatakan, "Kami mengapresiasi dukungan alumni, wali murid, dan masyarakat. Sumbangan sukarela ini sangat berarti bagi kemajuan sekolah."
 
Indit Undiarto menjelaskan, dana sumbangan digunakan untuk pembangunan dan renovasi fasilitas, termasuk masjid. Tahap pertama selesai dengan anggaran Rp490 juta, sebagian besar dari alumni. Saat ini, tahap kedua meliputi pembangunan di belakang sekolah dengan perkiraan anggaran Rp300 juta.
 
"Tahap kedua meliputi peningkatan dan penyambungan fasilitas. Kami harapkan dukungan agar tahap ini segera selesai," tambahnya.
 
Indit Undiarto menegaskan, sekolah tidak menentukan nominal sumbangan. "Kami tidak menentukan nominal, semua disesuaikan kemampuan masing-masing. Yang terpenting adalah partisipasi dan dukungan," jelasnya.
 
Kepala Sekolah juga menekankan transparansi pengelolaan dana. "Dana tidak hanya untuk fisik, tetapi juga peningkatan kualitas pendidikan, termasuk penataan lingkungan sekolah. Kami berkomitmen menggunakan dana sebaik mungkin demi kemajuan sekolah dan melibatkan komite sekolah dalam setiap keputusan," tegasnya.
 
Sekolah juga memberikan perhatian khusus kepada siswa yatim melalui program PIP. "Saat ini, ada sekitar 40 siswa yatim yang menerima bantuan PIP. Kami berharap bantuan ini memotivasi mereka untuk terus belajar dan meraih cita-cita," pungkasnya.
 
Menanggapi keluhan wali murid, Indit Undiarto menjelaskan, "Sumbangan memang ada, namun nominal Rp500 ribu hingga Rp900 ribu bukanlah ketetapan sekolah, melainkan perhitungan RAB pembangunan masjid. Jangka waktu 8 bulan adalah estimasi waktu pembangunan, bukan batasan pembayaran."
 
Indit Undiarto menambahkan, sekolah tidak akan menagih wali murid yang sudah mengisi formulir. "Jika dalam formulir tertulis Rp500 ribu, namun hanya mampu memberi Rp100 ribu, itu tidak masalah. Kami tidak akan menagih kekurangannya, hanya menghimbau jika ada rezeki lebih," jelasnya.(Sholeh).