Terduga Pelaku Diperlakukan Akrab, Korban Dikurung, Ada Apa dengan Polisi Medan?
MEDAN - TERKININEWS.COM - Rekonstruksi kasus pencurian di Hotel Kristal, Medan Tuntungan, pada 9 Februari lalu, menyisakan tanda tanya besar dan memantik amarah publik. Bukan karena detail kejahatannya, melainkan karena perlakuan aparat yang dinilai janggal dan mencederai rasa keadilan.
Dalam rekaman yang beredar luas, dua terduga pelaku pencurian terlihat santai bercengkerama dan merokok bersama petugas di luar mobil polisi. Mereka berdiri bebas tanpa borgol dan tanpa pengamanan ketat, sebuah pemandangan yang sulit diterima nalar publik.
Ironisnya, pada saat yang sama, Persadaan Putra Sembiring yang mengaku sebagai korban justru ditahan di dalam mobil polisi dan tidak diizinkan turun. Perlakuan ini memunculkan kesan terbalik, korban diperlakukan layaknya tersangka, sementara terduga pelaku tampak memperoleh perlakuan longgar.
Situasi semakin memilukan ketika ibu kandung Persadaan memohon agar anaknya diberi ruang dan diperlakukan lebih manusiawi, mengingat riwayat gangguan kesehatan yang dideritanya. Permohonan tersebut terekam jelas, namun tidak terlihat adanya respons empatik dari aparat di lokasi.
Peristiwa ini menyulut kemarahan publik. Warganet ramai mempertanyakan netralitas dan profesionalisme Polrestabes Medan. Banyak yang menilai rekonstruksi ini justru memperlihatkan wajah penegakan hukum yang timpang, ramah kepada terduga pelaku, namun keras terhadap pihak yang mengaku sebagai korban.
Pertanyaan pun mengemuka di tengah masyarakat, apakah perlakuan semacam ini benar merupakan prosedur standar kepolisian, atau justru menjadi contoh nyata ketidakadilan yang dipertontonkan di depan mata warga.
Gelombang kritik terus mengalir, menyuarakan kekhawatiran bahwa korban bisa diposisikan setara, bahkan lebih buruk, dibandingkan tersangka. Jika kondisi ini dibiarkan, publik pun bertanya, ke mana seharusnya keadilan berpihak.

