Potret Pengemis Berbingkai Buruk

Diterbitkan oleh Redaksi pada Rabu, 13 Februari 2008 00:00 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 1.825 kali ditampilkan

"TANJUNGPINANG - Rencana kenaikan tarif listrik yang kemudian disusul dengan meroketnnya harga minyak makan dan beberapa kebutuhan pokok rumah tangga lainnya, terasa kian mencekik kehidupan masyarakat."
Tanjungpinang - Rencana kenaikan tarif listrik yang kemudian disusul dengan meroketnnya harga minyak makan dan beberapa kebutuhan pokok rumah tangga lainnya, terasa kian mencekik kehidupan masyarakat. Rakyat yang hidup sejak lama dalam keprihatinan, kini harus menelan pil pahit akibat kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak kaum kusam.

Sementara lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan angka pengangguran. Ironisnya, perusahaan yang sudah memepekerjakan ratusan bahkan ribuan buruh, melakukan perampingan di sana-sini. Seperti PT Rotarindo di KM 7 Tanjungpinang. Akibatnya angka pengangguran menjadi tidak terkontrol dan angka kemiskinan membubung setinggi-tingginya.

Ditengah kondisi sulit dan tanpa pilihan inilah, seolah orang bebas melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Beban hidup yang semakin menghimpit, membuat banyak orang berpikiran pragmatis. Asal dapat makan jalan pintas pun ditempuh.

Mengemis dinilai menjadi jalan terbaik. Kita tidak bisa menyalahkan para pengemis apalagi pengemis itu orang pikun, cacat dan orang-orang yang memang sudah tak berdaya lagi secara fisik. Mereka pengemis bukan pilihan mereka sendiri, tapi terpaksa.

Hanya yang menjadi suatu masalah, banyak pengemis di Kota Gurindam yang secara fisik justru masih kuat bekerja untuk mencari nafkah. Apalagi para pengemis yang pura-pura cacat. Hingga orang lain iba dan memberi sedekah kepada mereka. Alasan untuk bertahan hidup inilah yang kemudian menjadi kambing hitam untuk melegalkan kepengemisannya. Jadi orang mengemis bukan karena terpaksa, tetapi merupakan profesi kesehariannya.

Sebut saja Inah, bukan nama sibenarnya, dia mengakui dengan mengemis penghasilannya lebih baik dari bekerja sebagai buruh di tempat lain. 50-80rb per hari bisa dikantonginya dengan mengemis. Padahal secara fisik Inah tidak apa apa. Hanya statusnya sebagai janda beranak empat yang membuatnya bertahan dengan profesi ini.

Sungguh memprihatinkan, tetapi kita tidak bisa menapik realitas ini. Berulang kali Pemko Tanjungpinang memberikan bantuan guna menekan jumlah kaum gepeng. Tetapi tetap saja tidak bisa menghapus keberadaan mereka, malahan bertambah banyak, apalagi ditambah dengan semaraknya orang-orang membagi angpou di awal tahun Tikus ini.

Padahal pengemis merupakan sesuatu hal yang tidak baik. Tidak saja dalam perspektif sosial tetapi juga agama. Sama sama kita ketahui, MUI pernah mengeluarkan fatwa untuk tidak memberikan sedekah di jalan. Karena kenyataanya mengemis di jalan menjadi motif pekerjaan dan bukan sekedar untuk makan. Secara tegas agama mengajarkan seorang ditunntut mempunyai etos kerja yang tinggi dan tidak bermalas-malasan dalam mencari rezeki. Hal ini sangat diharapkan meskipun dengan alasan sibuk beribadah atau tawakal kepada Allah sekalipun. Apalagi hanya menggantungkan hidupnya dari sedekah orang lain.

Dan Rasulullah pernah memperingatkan,