Sajadah asal Turki Lebih Diminati di Indonesia
Sajadah impor asal Turki diperkirakan menguasai 80% pasar penjualan sajadah di tanah air, yang kemudian disusul sajadah produk China.
"Sajadah impor dari Turki paling banyak laku di pasar. Saya memperkirakan sekitar 80 persen sajadah impor yang ada di pasar dikuasai produk Turki," kata Hamdani, salah seorang pedagang busana muslim di Cipadu, Tangerang, Banten, Selasa (12/5).
[Info untuk Anda: "Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com"]
Hamdani yang sudah delapan tahun menggeluti bisnis penjualan pakaian muslim tersebut mengatakan, sejadah asal Turki tersebut laku di pasaran hingga ke berbagai daerah.
"Langganan saya ada yang dari Sumatera dan sebagian juga dari Jawa. Mereka membeli borongan lalu dijual kembali di daerahnya," kata Hamdani menceritakan akses penjualan sajadah asal Turki tersebut.
Menurutnya, jika dibanding harga jual sejadah di Mekah, sajadah di Indonesia lebih murah. Pasalnya sejadah yang dijual di Mekah juga sebagian sajadah impor dari Turki.
"Dari biaya pengiriman saja satu kilogram sudah mencapai 12 real atau sekitar Rp35 ribu. Itu belum masuk harga barangnya," katanya. Sementara, sejadah impor dari Turki di Indonesia harganya relatif terjangkau antara Rp35 ribu sampai Rp100 ribu per lembar.
Yonri juga seorang pedagang pakaian muslim di Cipadu mengatakan, sajadah asal Turki masih mendominasi pasar sejadah dalam negeri. Sajadah asal Turki ini laris hingga dijual ke berbagai daerah di tanah air. "Harga per koli bervariasi tergantung dari kualitas barangnya. Ada yang Rp600 ribu sampai Rp1 juta lebih per koli," kata Yonri.
Sementara, harga eceran juga bervariasi tergantung dari jenis dan kualitas barangnya yakni antara Rp35 ribu sampai Rp75 ribu per lembar. Merek-merek sejadah asal Turki yang cukup laris antara lain Kano, Kodifatck, Al-Arabia dan Muraso.
Sejadah tersebut dipasok oleh importir ke toko-toko penjualan pakaian muslim di berbagai tempat termasuk di kawasan perdagangan tekstil Cipadu, Tangerang.
Kawasan Cipadu merupakan salah satu pusat bisnis perdagangan kain grosiran dan kiloan, pakaian jadi, serta usaha konveksi. Ratusan kios dan rumah toko (ruko), baik yang didirikan oleh pemodal kecil maupun investor kelas menengah, bermunculan di kawasan ini. (kpl/bar/ Kapanlagi.com)***

