Minyak Jatuh Dari Posisi Tertinggi Tujuh Bulan

Diterbitkan oleh Kasmadi pada Selasa, 9 Juni 2009 00:00 WIB dengan kategori Bisnis dan sudah 778 kali ditampilkan


Harga minyak mentah jatuh dari posisi tertinggi tujuh bulan pada Rabu (3/6) waktu setempat, setelah cadangan minyak mentah Amerika secara mengejutkan melonjak yang mengindikasikan permintaan lebih lemah dari yang diperkirakan dan dolar AS berbalik naik (rebound), kata para pedagang.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Juli, merosot US$2,43 dari penutupan Selasa menjadi US$66,12 per barel. Kontrak telah melonjak menjadi US$69,05 pada Selasa.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli, jatuh US$2,29 menjadi US$65,88.

Harga minyak merosot akibat dolar AS berbalik naik setelah jatuh ke posisi terendah baru dan cadangan minyak di Amerika Serikat, konsumen energi terbesar dunia, melonjak.

Departemen Energi AS (DoE) Rabu mengumumkan, cadangan minyak mentah Amerika meningkat 2,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 29 Mei hingga mencapai 366 juta barel. Sebagian besar analis telah memperkirakan sebuah penurunan sebanyak 1,7 juta barel.

"Terus memburuknya permintaan, berlanjut membuat gambaran 'bearish' (lesu besar, menggarisbawahi bahwa kenaikan harga baru-baru ini tidak didukung oleh fundamental pasar," kata Antoine Halff, wakil kepala riset Newedge.

Naiknya stok berkaitan dengan meningkatnya kembali impor.

"Impor yang rendah dalam beberapa pekan --seperti kami katakan beberapa pekan lalu -- bukan akibat kurangnya minyak mentah tapi lebih daripada akibat kilang penyulingan minyak tidak membeli karena stok mereka banyak," kata Hussein Allidina dari Morgan Stanley Research.

"Prospek untuk harga minyak mungkin hanya peralihan signifikan dari kondisi terburuk," kata Nic Brown dari Natixis, menganalisa level cadangan baru AS.

Brown mengatakan, bahwa level cadangan minyak AS dan China strategis untuk dicermati.

Pekan ini, harga minyak telah mencapai puncak tertinggi tujuh bulan didukung oleh melemahnya mata uang AS, yang membuat minyak yang dihargakan dalam dolar lebih murah untuk para pemegang mata uang kuat dan menstimulus permintaan serta mendorong harga naik.

Sementara itu, pasar juga dipengaruhi oleh laporan bahwa beberapa negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) tidak menaati kesepakatan pengurangan produksi.

"Kami memperoleh beberapa laporan tentang produksi OPEC yang bergerak naik untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir," kata analis MF Global, John Kilduff pada Selasa.

OPEC, yang memproduksi 40% dari minyak mentah dunia, memangkas target produksinya tiga kali pada akhir tahun lalu untuk menstabilkan harga, yang jatuh dari rekor tertinggi di atas US$147 pada Juli menjadi US$32,40 pada Desember.

Grup yang pekan lalu memutuskan untuk mempertahankan produksinya tak berubah di tengah sinyal pemulihan ekonomi dan naiknya harga minyak mentah, berupaya mempengaruhi harga dengan merancang kuota produksi, dengan para anggota diberikan target individu.

Kabinet Saudi pada Senin mengatakan, bahwa pihaknya memandang US$75-80 per barel sebagai sebuah harga yang wajar untuk minyak mentah. Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, adalah pimpinan de facto dari grup produsen minyak OPEC. (kpl/meg/ Kapanlagi.com)