SMS Jadi Penyebab Dominan Perceraian

Diterbitkan oleh Redaksi pada Ahad, 19 Juli 2009 00:00 WIB dengan kategori Teknologi dan sudah 653 kali ditampilkan


Dari 240 kasus perceraian yang terjadi selama 2008 di Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala (Batola),Provinsi Kalimantan Selatan, 80% disebabkan karena adanya pesan singkat melalui telepon genggam (HP).

Hal itu diungkapkan Drs. Hajizi, mantan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mandastana Kab. Batola kepada ANTARA ketika ditemui saat menghadiri pengajian di Banjarmasin, Kamis malam (16/7).

[Info untuk Anda: "Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com"]

Menurut Hajizi, banyak pasangan suami atau istri mengajukan cerai ke kantor KUA karena merasa cemburu setelah menerima telepon atau membaca pesan singkat (SMS) dari orang tidak kenal di HP pasangannya.

"Dari 240 angka kasus perceraian itu didominasi oleh sebab penggunaan HP yang memang marak dipakai lapisan warga Mandastana sebagai alat berkomunikasi zaman sekarang, sisanya sekitar 20% karena persoalan ekonomi dan lain-lain," katanya.

Menurut dia, dari data yang ada di KUA yang datang mengadukan persoalan rumah tangga sebenarnya hampir mencapai angka 300-an, namun setelah diberi nasihat dan pengertian sebagian ada yang rukun kembali.

"Kita selalu mencoba mencarikan jalan agar perceraian pasangan suami istri jangan sampai terjadi hanya gara-gara telepon nyasar atau SMS salah kirim serta mungkin ada yang iseng saja," ungkapnya.

Hajizi mengungkapkan sebenarnya ada perasaan tanda tanya juga melihat jumlah angka perceraian di daerah Mandastana yang terbilang masih belum jadi kota ramai, namun menunjukkan perilaku seperti kota besar.

"Ada sedikit penasaran dan tanda tanya atas kenyataan seperti itu, padahal Mandastana merupakan kota kecamatan yang tergolong masih jarang penduduk," katanya yang mengaku sekarang sudah jadi Kepala KUA Kecamatan Cerebon Kab. Batola sejak 13 Juli lalu.

Kepala kantor Departemen Agama Kabupaten Batola, H. Anang Rahmani ketika dihubungi untuk diminta tanggapannya mengenai kasus perceraian tersebut, tidak berani berkomentar banyak.

"Saya bertugas di Batola baru tiga bulan, jadi tidak mengetahui persis perkembangan kehidupan warga Mandastana," katanya.

Dia melanjutkan kalau memang angka perceraian di Mandastana tinggi akibat penggunaan alat komunikasi modern itu, maka hal tersebut tergantung oknumnya.

"Kita tak bisa berbuat banyak, paling diberi pengertian atau nasihat, walaupun perceraian itu boleh tetapi juga tidak disukai Allah," katanya. (kpl/roc/Kapanlagi.com)