Pemerintah Dinilai Gagal Kendalikan Distributor Sembako
Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau menyatakan, pemerintah tidak mampu mengendalikan distributor sembako, sehingga menjelang hari besar agama harga barang kebutuhan masyarakat tersebut mengalami kenaikan.
Ketua Komisi II DPRD Kepulauan Riau, Andi Anhar Chalid, Rabu (12/8), di Tanjungpinang, mengemukakan, distributor sembako di Batam dominan menguasai pasar di Provinsi Kepulauan Riau.
"Ada sekitar 37 distributor sembako di Batam yang mengendalikan harga sembako yang dijual di pasar di seluruh Provinsi Kepulauan Riau," kata Andi yang juga Ketua DPW Partai Patriot Kepulauan Riau.
Mantan Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Riau (sekarang Kabupaten Bintan) itu menyatakan, distributor sembako mengambil keuntungan secara besar-besaran menjelang hari besar agama, seperti bulan suci ramadan dan Idul Fitri. Strategi yang digunakan adalah membuat pasar seolah-olah mengalami kelangkaan sembako.
"Kami menduga sebenarnya sembako tidak langka di pasaran menjelang puasa, melainkan disimpan dan baru dikeluarkan ketika tingkat kebutuhan masyarakat meningkat tajam," katanya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kata dia, harga sembako menjelang hari besar agama mengalami kenaikan cukup tinggi. Hal seperti itu sudah menjadi tradisi tahunan yang sulit dikendalikan pemerintah.
"Kami tidak yakin kalau harga sembako akan mengalami penurunan menjelang bulan puasa dan Idul Fitri," katanya.
Pola seperti itu digunakan distributor untuk menaikan harga sembako. Mereka memahami meski harga sembako meningkat, tingkat permintaan tetap tinggi menjelang puasa dan Idul Fitri. "Saat ini adalah masa panen mafia sembako," katanya.
Andi mengungkapkan, seluruh distributor sembako di Kepulauan Riau dikendalikan oleh pihak swasta, sementara pemerintah tak berdaya.
"Kondisi seperti itu berbahaya, karena pemerintah tidak berdaya mengendalikan harga sembako yang dijual di pasar," ujarnya. (kpl/bar/Kapanlagi.com)

