Mahasiswa UGM Buat Minuman Fermentasi Singkong

Diterbitkan oleh Redaksi pada Selasa, 25 Agustus 2009 00:00 WIB dengan kategori Teknologi dan sudah 1.625 kali ditampilkan


Mahasiswa peserta kuliah kerja nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan petani singkong di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengembangkan minuman fermentasi singkong "nata de cassava".

"Pengembangan minuman berbahan dasar singkong merupakan salah satu bukti pendampingan mahasiswa UGM untuk memberdayakan masyarakat pedesaan," kata Koordinator KKN UGM Unit 55 Desa Kemadang, Tony Prasetyo di Gunungkidul, Senin.

Ia mengatakan, ilmu yang didapatkan mahasiswa di bangku kuliah telah diaplikasikan di dalam masyarakat sehingga petani singkong merasakan langsung manfaat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Terobosan baru pembuatan minuman berbahan dasar singkong untuk meningkatkan pendapatan para petani singkong di Gunungkidul karena singkong dapat diubah menjadi produk lain yang lebih bernilai ekonomis," katanya.

Menurut dia, masyarakat selama ini hanya mengubah singkong menjadi gaplek sebelum dijual ke pasar. Namun, dengan mengubah singkong menjadi minuman segar "nata de cassava", maka petani akan mendapat keuntungan dua kali lipat dibandingkan menjual singkong dalam bentuk gaplek.

Tony mengatakan, mahasiswa melakukan pendampingan selama satu bulan, yaitu dengan memberikan pelatihan petani, pemberdayaan petani, penerapan teknologi, dan ilmu pengetahuan untuk mengolah singkong menjadi berbagai macam hasil olahan.

"Selain minuman, singkong juga dikembangkan menjadi tapai (penganan yang dibuat dari singkong) kualitas baik dan berbagai olahan makanan khas yang selama ini belum pernah diproduksi," katanya.

Menurut dia, singkong yang dijadikan minuman dapat meningkatkan nilai ekonomi dan menambah keterampilan petani. Jika singkong dibuat gaplek hanya laku dijual Rp500/kg, namun setelah dijadikan "nata de cassava" bisa terjual Rp1.250/botol.

"Dengan penerapan teknologi yang tepat, maka petani bisa meraup keuntungan sebesar Rp750 dibandingkan menjual dalam bentuk gaplek," katanya.

Sunarti, Warga Desa Kemadang mengatakan, warga berbahagia memperoleh keterampilan mengolah singkong menjadi berbagai aneka produk makanan dan minuman."Petani dapat menambah penghasilan melalui pengolahan nata de cassava. Warga sekarang mempunyai keterampilan untuk mengembangkan berbagai usaha pengolahan makanan berbahan baku singkong," katanya.

Sunarti mengatakan, petani kini tidak hanya menjual gaplek, namun berbagai macam olahan makanan, seperti minuman nata de cassava, nata de tela, tapai berkualitas, keripik singkong yang lebih tahan lama, dan hasil produksi lain yang dapat dikembangkan petani.

Selain pelatihan pengolahan singkong, mahasiswa juga memberikan pelatihan pembuatan ulva rumput laut menjadi keripik ulva. Selama ini ulva rumput laut merupakan sampah buangan setelah rumput laut dipilah.

"Ulva rumput laut memiliki protein tinggi sehingga potensial untuk terus dikembangkan. Pelatihan tersebut bekerja sama dengan konsorsium Mitra Bahari DIY," kata Tony. (kpl/cax/Kapanlagi.com)