Departemen Pertanian: Industri Pangan Lokal Tak Berkembang
Departemen Pertanian mengakui industri pengolahan berbasis pangan lokal saat ini tidak berkembang baik, karena budaya pangan bangsa Indonesia yang mulai berubah.
Dirjen Tanaman Pangan Sutarto Alimoeso di Jakarta, Jumat (2/10) menyatakan, di Kalimantan Timur setiap hari ekspor pisang dalam bentuk tandan langsung ke Malaysia, begitu juga coklat dalam bentuk gelondongan serta beras.
"Namun produk tersebut kemudian diimpor lagi dalam bentuk produk olahan sebagai made in Malaysia. Ini sangat menyedihkan," katanya.
Sutarto mengatakan, pada umumnya industri pengolahan berbasis pangan lokal yang kurang berkembang tersebut yang berskala kecil menengah.
Dia mengakui, adanya upaya dari agar industri pengolahan pangan di dalam negeri tidak berkembang dan Indonesia hanya menjadi pemasok bahan mentah yang nilai tambahnya rendah.
Padahal, lanjutnya, sejak dulu bangsa Indonesia telah memiliki kemampuan untuk mengolah komoditas pertanian menjadi produk pangan olahan seperti kedelai menjadi tempe dengan kualitas bagus.
Bahkan, tempe yang berkualitas tersebut berbahan baku kedelai produk dalam negeri namun kemudian dimunculkan pernyataan bahwa hanya kedelai impor yang bagus untuk pembuatan tempe.
"Selain itu agar industri pengolahan tempe dalam negeri tak berkembang juga dikatakan kedelai impor hanya cocok untuk bahan baku tahu," tandasnya. (kpl/bar/Kapanlagi.com)

