Dewan Kesenian Lingga Diharap Beri Perhatian
LINGGA -Dibalik kemegahan Acara Rampai Seni Budaya Melayu (RSBM) yang diadakan kan Oleh Dinas Pariwisata Kab.Lingga 30/11 - 07/12 /09 di Lingga dan di dabo singkep tersimpan berbagai pertanyan.
LINGGA -Dibalik kemegahan Acara Rampai Seni Budaya Melayu (RSBM) yang diadakan kan Oleh Dinas Pariwisata Kab.Lingga 30/11 - 07/12 /09 di Lingga dan di dabo singkep tersimpan berbagai pertanyan.
Acara yang juga melibatkan dewan kesenian lingga ini dilombakan dari berbagai jenis seperti nyanyian melayu hingga tarian baik tradisi maupun kreasi, yang melibatkan hamper 400 peserta yang kebanyakan didominasi oleh kaum pelajar.
Namun timbul beberapa persepsi di bidang tarian apakah yang diperlombakan adalah hanya untuk mengejar gengsi atau pencarian bibit , karena melihat dari hasil yang di umumkan dewan juri.
Sanggar yang mendapatkan juara dan seterusnya akan mendapat kan perhatian dari pemerintah dalam hal bantuan pengembangan adalah sanggar sanggar yang sudah exsis dan memiliki talenta namun sanggar sanggar yang memiliki unsure pembibitan atau regenerasi seakan disingkirkan.
Hal ini terjadi dari awal pendaftaran seperti yang dikatakan Nurjali ketua umum Sanggar Midani bertuah, kenapa pada saat technical meiting nama Sanggar midani tidak terdaftar padahal menurut nya melalui Herry selaku Pembina sanggar sudah mengantar kan berkas formulir ke Pihak kecamatan.
Dan Juga beberapa hari sebelum technical meiting Nurjali telah mengembalikan formulir ke Dewan kesenian namun kenapa tidak juga terdaftar sebagai peserta tari, Beruntung pihak panitia bias mentolerir situasi yang terjadi.
Sehingga sanggar midani dan juga sanggar mega swara yang juga mengalami hal yang serupa diizinkan untuk ikut berpartisipasi dalam RSBM yang diadakan setiap satu tahun sekali itu.
Bukan hanya itu menurut Herry Pembina sanggar Midani yang menaungi sanggar Mega Swara juga mengatakan bahwa juri memberikan yang terbaik dan para peserta juga begitu buktinya koreografer tarian dari perwakilan sanggar berhak dinobatkan sebagai koreografer terbaik.
Namun kekurangan ada pada tidak adanya kekompakan antar penari hal ini di karena kan para penari baru pertama kali mengikuti event setingkat kabupaten dan juga para penari rata rat berusia 12 tahun kebawah.

