Semangat Reformasi dalam Pemberantasan Korupsi
"Sempena Memperingati Hari Anti Korupsi se-Dunia 9 Desember 2009)Pemerintahan yang bersih dari KKN alias berantas korupsi! Adalah salah satu point yang menjadi sorotan penting dari lima agenda yang lain (adili Soeharto dan kroni-kroninya, amandemen UUD 1"
(Sempena Memperingati Hari Anti Korupsi se-Dunia 9 Desember 2009)
Pemerintahan yang bersih dari KKN alias berantas korupsi! Adalah salah satu point yang menjadi sorotan penting dari lima agenda yang lain (adili Soeharto dan kroni-kroninya, amandemen UUD 1945, penghapusan dwi fungsi ABRI, otonomi daerah yang seluas-luasnya, supremasi hukum ketika era reformasi dikumandangkan.
Namun, sebelas tahun reformasi telah berjalan. Korupsi juga tak lekang dimakan zaman. Sebuah mimpi yang tak mungkin menjadi suatu kenyataan. Karena pemberantasan korupsi tidak bisa dijadikan sebuah impian. Mimpi tidak mungkin menjadi sebuah impian. Akan tetapi, impian bisa menjadi sebuah mimpi yang tak pernah terbayangkan.
Perlu diakui, reformasi lah yang membawa isu korupsi tumbuh dan berkembang di masyarakat. Isu tersebut menjadi sebuah daya tarik tersediri karena dengan adanya korupsi khususnya yang dilakukan oleh segelintir oknum pejabat menyebabkan kesejahteraan tidak dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat. Korupsi semakin merajalela. Bak virus yang memberontak dan tak mampu dibendung lagi gerak-geriknya.
Sulit untuk dilacak, karena yang melacak telah ternodai dan terserang virus yang sama. Kalau yang melacak sudah ternodai, apakah mungkin korupsi dapat diberantas? Akankah produk-produk anti virus, mampu menetralisir virus yang kian hari kian berkembang dan mengakar di setiap jenjang baik di sektor publik maupun sektor swasta yang kadang-kadang juga dapat mempengaruhi penderitaan rakyat. Seperti dugaan korupsi aliran listirk d sebuah perusahaan swasta di pulau Batam.
Korupsi: Budaya atau Bukan
Budaya sebagai wujud dari pola pikir mempunyai hubungan yang sangat erat dengan korupsi. Pasalnya, korupsi juga terwujud dari hasil pola pikir seseorang atau sekelompok orang untuk kaya dengan cepat melalui jalan yang salah. Hampir mirip dengan hartawan yang kekayaannya diperoleh dari hasil pesugihan atau memelihara tuyul.
Hal ini juga bisa disebabkan oleh sikap mental masyarakat Indonesia yang mayoritas suka menerabas, kurang berdisiplin murni, tidak percaya pada diri sendiri, tidak mempunyai tanggungjawab yang kokoh dan sikap meremehkan mutu. Demikian sikap mentalitas budaya bangsa Indonesia yang dikemukakan oleh Prof. Koenjtraningrat dalam buku karangannya yang berjudul,

