Membantah Mitos Etnisitas dalam Jiwa Pedagang (1)

Diterbitkan oleh pada Rabu, 16 Desember 2009 00:00 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 961 kali ditampilkan

TANJUNGPINANG -Seandainya persepsi dari judul di atas itu saya ubah sejak dulu, mungkin saya sudah sejak awal menggeluti dunia dagang-berdagang. Karena persepsi itu pula, saya tidak sadar ternyata moyang dan atok saya dulu itu adalah pedagang. Raja
TANJUNGPINANG -Seandainya persepsi dari judul di atas itu saya ubah sejak dulu, mungkin saya sudah sejak awal menggeluti dunia dagang-berdagang. Karena persepsi itu pula, saya tidak sadar ternyata moyang dan atok saya dulu itu adalah pedagang. Raja Hitam sang empunya beberapa perusahaan penerbitan di Malaysia dan pemilik kebun cengkeh di seantero bumi Natuna.

Demikian ungkap seorang budak Melayu yang menyesal baru menyadari pentingnya jiwa wirausah.

Hal ini dimaklumi oleh Herry Putra, praktisi bisnis Tanjungpinang. Dia menganggap kecenderungan orang berpikir mengggunakan otak kiri adalah salah satu penyebabnya dan mitos pedagang adalah milik etnis tertentu.

Ini tidak benar, menurutnya, berdagang bukan bakat. "Kalau orang Cina dikatakan berbakat dengan dagang buktinya waktu saya ke Cina tidak semuanya yang jadi pedagang, banyak yang jadi buruh juga," kata Herry Putra.

Jadi tidak ada istilah bakat dalam bisnis, semua masyarakat memiliki peluang yang sama terhadap masalah ini.