Kepri Perlu Kurikulum Muatan Lokal

Diterbitkan oleh Redaksi pada Kamis, 7 Januari 2010 00:00 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 1.280 kali ditampilkan

TANJUNGPINANG -Dalam Seminar "Praktikum Bahasa dan Sastra Indonesia" di FKIP UMRAH Tanjungpinang tanggal 5 Januari 2010, Drs. H. Said Barak Bah Ali menggagas Kurikulum muatan lokal segera diadakan dalam pendidikan di Provinsi Kepri.
TANJUNGPINANG -Dalam Seminar "Praktikum Bahasa dan Sastra Indonesia" di FKIP UMRAH Tanjungpinang tanggal 5 Januari 2010, Drs. H. Said Barak Bah Ali menggagas Kurikulum muatan lokal segera diadakan dalam pendidikan di Provinsi Kepri.

Telah 5 tahun Provinsi Kepri berdiri hingga saat ini, namun belum memiliki kurikulum bagi mata pelajaran muatan lokal, sehingga tidak memiliki acuan bagi mata pelajaran seperti Arab Melayu, Kebudayaan Daerah, juga pertanian, perikanan, komputer dan elektro, Bahasa Ingris, dan Kerajinan Tangan.

"Hingga saat ini Prov. Kepri belum memiliki Kurikulum Muatan Lokal dan Masih mengadopsi Kurikulum Muatan Lokal Provinsi Riau. Bahkan kini telah ada beberapa Sekolah Dasar yang tidak lagi mengajarkan Arab Melayu bagi siswa-siswa nya karena belum ada Kurikulum yang mengatur Muatan Lokal." Ungkap Drs. Said yang juga pernah bergabung dalam Tim Penyusun Kurikulum Muatan Lokal Provinsi Riau.

Telah banyak usaha yang beliau lakukan demi terwujudnya hal ini, mulai dari mengajukan gagasan kepada pejabat-pejabat setempat dan dinas-dinas terkait, hingga beberapa kali menulis di koran Batam Pos. Namun meskipun mendapat banyak tanggapan baik, bahkan dari Dinas Provinsi, belum satupun pelaksanaannya yang jelas.

"Saya memiliki pengalaman dalam bidang ini, saya juga memiliki buku-buku panduan dan hal-hal lainnya yang dibutuhkan, Saat ini saya ingin mengajak mahasiswa bersama-sama menyusun Kurikulum Muatan Lokal dalam sebuah tim yang dapat kita sebut Tim Pengembang Kurikulum Nasional dan Muatan Lokal.

Kemudian kita adakan seminar yang membahas Kurikulum Pemprov. Kepri dengan mengundang Dinas Pendidikan Kepri dan pihak-pihak lain terkait, dan kita teruskan dengan upaya seperti workshop, lokakarya, dan sebagainya." ujar Drs. Said dalam pembahasannya.