Aswandi : Pahami Tuhfat Al-Nafis dengan Memilah Cerita
TANJUNGPINANG -Tuhfat Al-Nafis demikian nama kitab sejarah karangan Raja Ali Haji yang menjadi kajian sejarah kerajaan Melayu tempo dulu.
TANJUNGPINANG -Tuhfat Al-Nafis demikian nama kitab sejarah karangan Raja Ali Haji yang menjadi kajian sejarah kerajaan Melayu tempo dulu.
Banyak kalangan akademisi dan budayawan yang mempelajari karya fenomenal ini, namun sayang tidak semua orang bisa mempelajarinya dan memahaminya walau sudah ada alih aksara dari tulisan Arab Melayu ke huruf latin.
Menurut Aswandi, sejarawan dan pengamat budaya di Propinsi Kepulauan Riau untuk mempelajari dan memahami kita ini perlu dilakukan pemetaan dan pemenggalan kisah secara runut sehingga masyarakat awam mudah untuk memahaminya.
"Memang banyak orang mengatakan sulit membacanya, Tapi saya fikir sekarang sangat mudah karena ada edisi alih aksaranya dalan huruf Latin, yang telah dimulai oleh Encik Munir bin Ali di Singapura pada tahun 1965," kata Aswandi Syahri.
Ditambahkannya, kalau membaca beberapa versi huruf Arab Melayu dalam bentuk naskah tulisan tangan atau edisi cetak pasti akan lebih membingungkan dan lebih sulit lagi. Karena ada yang ditulis bersambung terus tanpa titik koma dan pembagian kisah sama sekali.
"Kecuali naskah Tuhfat naskah Terengganu yang disalin di Karimun, sedikit lebih "mauju" karena telah memilah-milahnya dalam beberapa cerita yang diberi judul. Tapi sayang, Tuhfat naskah Terengganu ini masih dalam huruf Arab Melayu tulisan tangan, yang tak semua orang mampu membacanya," tambahnya.
Untuk itu, masih menurutnya, diperlukan pemilahan cerita sehingga orang yang membaca khususnya yang awam mudah untuk mengetahuinya. Dirinya pernah mencatat sekitar 346 cerita.
"Saya penah mencatat dan memilah-milah ada ada "346" cerita dalam Tuhfat, ditambah 1 Mukadimah dan 1 Khatimah. Dalam 346 cerita itu ada 10 buah pemaparan silsilah (susur galur) raja Melayu dan Bugis.
Setelah sedikit meninyinggung fase sejarah Melayu di Bukit Siguntang, Bintan, Tumasik, dan Melaka secara ringkas, dalam "346" cerita itu RAja Ali Haji mengisahkan peristiwa dalam setting waktu antara tahun 1699 hingga tahun 1864," jelas Aswandi.
Catatannya dimulai Sejak pembunuhan Sultan Mahmud di Kota Tinggi hingga mangkatnya Sultan Mahmud Muzafarsyah di Pahang dan menurutnya banyak pelajaran sejarah yang dapat diambil dari kitab tersebut.

