Separuh Aspirasi Dunia di Tangan Wanita
"(Catatan Sempena Hari Kartini 21 April 2010)Dari sekian banyak jumlah penduduk di Indonesia, hampir setengahnya adalah wanita."
(Catatan Sempena Hari Kartini 21 April 2010)
Dari sekian banyak jumlah penduduk di Indonesia, hampir setengahnya adalah wanita. Nemun demikian, partisipasinya dirasa masih sangat kurang. Sampai saat ini, wanita hanya perpartisipasi 40% saja ( Maswita Djaja Msc, Desember 2009). Kualitas hidup perempuan yang masih jauh tertinggal, menyebabkan hanya sedikit wanita yang bisa menikmati hasil pembangungan.
Berbicara soal wanita, tidak bisa terlepas dari permasalahan gender yang sering diusung oleh pakar wanita. Peminggiran kaum perempuan yang masih terjadi, sering diwarnai dengan kekerasan yang selalu menjadi bahasan utama di berbagai media. Selain masalah kekerasan, masih banyak persoalan wanita antara lain; kemiskinan, keterbelakangan dan marginalisasi (peminggiran).
Perempuan mungkin saja musnah dalam sebuah ketimpangan gender yang akut. Padahal separuh aspirasi dunia sekarang dan masa depan ada pada wanita. Oleh sebab itulah, seharusnya pemberdayaan masyarakat maupun penanggulangan kemiskinan harus tetap berbasis keadilan gender. Potensi terpendam yang ada pada wanita sering kali tidak disadari oleh pemiliknya sendiri. Marginalisasilah yang menyebabkan mereka enggan untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, karena mereka beranggapan bahwa potensi mereka tidak akan dianggap.
Hingga saat ini, banyak wanita yang terjebak kedalam sector informal.
Menurut studi UNESCAP, 2007 Indonesia setiap tahunnya mengalami kerugian sebesar US$ 2,4 M (Rp. 21,6 Triliun) karena adanya ketidaksamaan gender dalam bidang tenaga kerja. Ketenagakerjaan Indonesia saat ini memang belum sepenuhnya melibatkan potensi perempuan yang jumlahnya hampir setengah dari penduduk Indonesia (Per. Men. Tenaga)
Berdasarkan status, perempuan bekerja di sector formal sejumlah 9,1 juta (5,5% pengusaha dan sisanya 94,5% sebagai pekerja/ buruh). Sedangkan yang bekerja di sector informal sebanyak 26,3 juta (74,28%). Mereka antara lain; berusaha sendiri, pekerja bebas dari pertanian dan non-pertanian, serta pekerja tak dibayar. Banyak sebetulnya peranan wanita yang masih tersimpan dalam diri seorang wanita di kancah globalisasi ini. Tapi hal ini sering dianggap sepele oleh beberapa pihak termasuk wanita sendiri. Padahal jika kita perhatikan, kesejahteraan wanita berbanding lurus dengan pendidikan dan kesehatan anak. Mengapa demikian?
Sudah menjadi kodrat bahwa wanita diciptakan dengan segala kelembutan dan rasa welas asih. Wanita yang sejahtera dan berkecukupan tentu tanpa diminta mereka akan menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Dan wanita (ibu) yang tidak sedang mangalami kesulitan ekonomi, tentu akan memperhatikan pendidikan dan kesehatan anak. Ibu sebagai pelopor pendidikan pertama anak, sangat menentukan terciptanya pendidikan yang baik karena dirumah dan dengan ibulah anak memperoleh pendidikan pertamanya.
Dibalik diamnya wanita, sebenarnya masih tersimpan potensi dan setengah aspirasi dunia sekarang dan masa depan. Oleh karena itu, jangan biarkan perempuan hilang, jangan biarkan marginalisasi menggeser peran perempuan yang masih dibutuhkan dunia. Emansipasi demi emansipasi yang cukup panjang ini, marilah kita isi dengan gagasan-gagasan cemerlang demi memenuhi setengah aspirasi yang masing kita genggam.
Bendahara Umum KAMMI Komisariat Tanjungpinang dan Mahasiswi STAI Miftahul Ulum

