LIPI Gelar Diskusi Bersama Nelayan Karimun
KARIMUN -Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta menggelar diskusi bersama sejumlah perwakilan nelayan Kundur, Kundur Utara dan Kundur Barat di Gedung Kesenian Pantai Sawang, Rabu (23/6).
KARIMUN -Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta menggelar diskusi bersama sejumlah perwakilan nelayan Kundur, Kundur Utara dan Kundur Barat di Gedung Kesenian Pantai Sawang, Rabu (23/6). Tiga orang tim peneliti dari LIPI ini mendengar keluhan masyarakat nelayan tentang berkurangnya hasil tangkapan
mereka saat ini.
Disikusi yang berjalan penuh nuansa kekeluargaan ini akan menjadi bahan penelitian kami yang nantinya akan kami sampaikan kepada kepada Dinas Kelautan dan
Perikanan (DKP) Pusat dan pihak-pihak lain yang dianggap punya peran penting untuk menyelamatkan kehidupan nelayan di Pulau Kundur.Ujar Indriana Kartini Salah seorang Peeliti LIPI.
Dalama disuki lebih banyak membicarakan permasalahan hasil tangkap yang berkurang saat ini, dan ini menyebabkan penghasilan mereka sangat sulit dan tidak cukup untuk bertahan hidup akibat menurunnya hasil tangkapan mereka.
Dari hasil diskusi ini kami mencatat paling tidak ada 3 hal yang terjadi saat ini yang membuat kehidupan nelayan semakin sulit.
Pertama adalah semakin menurunnya hasil tangkapan yang diduga akibat telah terjadinya pencemaran terutama di perairan Kundur Barat. Kedua, nelayan menginginkan perhatian yang lebih serius dari pemerintah maupun dari perusahaan yang melakukan penambangan di laut Kundur Barat untuk menyelamatkan kehidupan nelayan kedepan," kata Indriana.
Salah seorang nelayan mengatakan "Kami berharap kedatangan tim peneliti dari LIPI Jakarta ini memberikan sedikit harapan untuk nelayan.
Paling tidak kami mengharapkan agar LIPI bisa menjadi jembatan penyampaian aspirasi nelayan kepada pemerintah pusat. Kami ini butuh perhatian sebelum kondisi kami benar-benar parah. Kami tidak akan menghalangi siapapun melakukan usaha penambangan timah di laut kami asal sesuai dengan undang-unang dan aturan yang berlaku," tandas Karim.
Menurutnya, inilah yang selama ini menjadi permasalahan kami. Kalau begini terus anak cucu kami mau makan apa nantinya. Harapan untuk sekolah pun anak-anak kami sulit karena kami tidak ada biaya untuk mereka sekolah.

