Warga Baloi Kolam Demo Kantor OB Tuntut Rekomendasi Pemasangan Listrik

Diterbitkan oleh Redaksi pada Rabu, 28 Juli 2010 00:00 WIB dengan kategori Kepri Terkini dan sudah 1.194 kali ditampilkan

BATAM - Ribuan warga mendatangi kantor Otorita Batam (OB) Rabu (28/7) pagi tadi. Pendemo menuntut kepada pihak OB agar segera merealisasikan penerbitan rekomendasi bagi sedikitnya 400 KK di kawasan pemukiman Baloi Kolam yang hingga kini masih bers
BATAM - Ribuan warga mendatangi kantor Otorita Batam (OB) Rabu (28/7) pagi tadi. Pendemo menuntut kepada pihak OB agar segera merealisasikan penerbitan rekomendasi bagi sedikitnya 400 KK di kawasan pemukiman Baloi Kolam yang hingga kini masih berstatus rumah liar (Ruli) itu.

Massa Pendemo terlihat bersemangat menuntut haknya untukmendapatkan sambungan listrik dengan berteriak mengikuti komando yel yel dari sang orator di atas mobil truk Mitsubishi yang memuat sound system berkekuatan 2000 watt sambil mengangkat-ngakat spanduk karton ukuran 50 X 50 cm bertuliskan " Kami Minta Hak Kami Mendapatkan Listrik di Penuhi".

Bundaran OB pun tak ayal padat dipenuhi massa pendemo yang berdatangan karena di pintu pagar kantor OB sudah penuh. Jalan protokol row 10 didepannya pun terpaksa di tutup oleh pihak kepolisian untuk memberi ruang keleluasaan bagi pendemo berkegiatan. Barikade polisi tampak rapat di depan pagar dan secara berkelompok di tiap sudut terlihat polisi berpakaian Satuan Lalu Lintas (Satlantas) berjaga-jaga di batas jalan.

Sebenarnya bukan kali ini saja, ada masyarakat yang menghuni lahan berstatus ruli mendatangi kantor OB untuk menuntut rekomendasi pemasangan listrik maupun air. namun kali ini, sepertinya masyarakat akan berusaha memperjuangkan hak-haknya mendapatkan pasokan air dan listrik seperti masyarakat mampu yang menghuni perumahan resmi. Setidaknya itulah semangat yang dikemukakan, Siti Maryati, (26) ibu muda yang juga turut dalam demo kali ini. Siti mengaku, terlalu berat bagi masyarakat untuk membeli listrik dari pengusaha yang menyewakan fasilitas listrik mesin genset karena selain mahal, jadwal lampu hidup pun dibatasi hanya untuk kebutuhan malam hari. Sedangkan, lanjut Siti pengeluaran untuk kebutuhan listrik setiap rumahnya jika dibandingkan dengan pengeluaran biaya listrik di perumahan yang dialiri listrik dari PT. Pelayanan Listrik Nasional (PLN) justru lebih murah.

Untuk itu, Siti bersama rekan-rekan satu pemukiman berharap OB dapat memberikan rekomendasi pemasangan listrik bagi warga ruli di Baloi Kolam yang kini berpenghuni sedikitnya 8000 orang itu.

Lembaga yang mengadvokasi keluhan warga Baloi Kolam, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Bersama Rakyat (Gebrak) berharap pemerintah baik OB maupun Pemko tidak tutup mata terhadap hak-hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang sama dengan masyarakat yang menghuni perumahan resmi dari sisi pelayanan listrik dan air.

Bahkan, Ketua LSM Gebrak, Uba Ingan Sigalinging menegaskan bahwa air dan listrik merupakan kekayaan yang merupakan kebutuhan dasar hak umat manusia. Jadi dengan adanya sikap mengabaikan han dasar tersebut berarti pemerintah telah melanggar Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 33 ayat 3 yang berbunyi, Bumi, Air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

"Kami tuntut hak kami mendapatkan listrik dan air," teriak Uba dari atas mobil truk yang disambut hangat massa pendemo lainnya dengan berteriak serentak "Lawan"