BC Gagalkan Penyeludupan 30 Ton Bawang

Diterbitkan oleh Redaksi pada Jumat, 12 September 2014 11:48 WIB dengan kategori Karimun dan sudah 1.839 kali ditampilkan

KARIMUN--Bea Cukai Kepulauan Riau menggagalkan penyelundupan sebanyak 3.100 karung atau sekitar 30 ton bawang merah impor tujuan Dumai, Riau. Dugaan barang selundupan itu berasal dari luar negeri dari Kuala Linggi, Malaysia, yang diangkut Kapal KM Baruna GT 7.

 

Mengenai modus yang dilakukan, nakhoda kapal mengangkut barang larangan dan pembatasan impor tidak sesuai ketentuan, apalagi impor bawang merah diatur secara khusus oleh Kementerian Perdagangan dan termasuk komoditas yang harus melalui pemeriksaan petugas karantina. Aparat Bea Cukai Kepulauan Riau berkoordinasi dengan satuan karantina mengingat bawang merah termasuk komoditas yang impornya diatur secara khusus oleh pemerintah. Menggunakan kapal patroli BC 1602 dikomandani Sofyat melakukan penangkapan di perairan Tanjung Lebang, Selasa (9/9) sekitar pukul 04.40 WIB.

 

Kepala Bidang Penindakan dan Sarana Operasi Kantor Wilayah Ditjen Bea Cukai Khusus Kepulauan Riau R Evy Suhartantyo di Kanwil BC Kepri, Meral, Kabupaten Karimun, membenarkan adanya penagkapan terhadap peneyludupan bawah merah impor sebanyak 3.100 karung atau sekitar 30 ton, yang diangkut menggunakan kapal KM Baruna GT 7 di perairan Tanjung Lebang.

 

"Saat dicegat, kapal itu sudah tidak ada ABK-nya. Ketika petugas BC 1602 melakukan penyisiran, diketahui nahkoda dan dua ABK-nya sudah terjun kelaut. kini kedua ABK-nya yang terjun ke laut berhasil kami selamatkan," katanya.

 

Kapal beserta muatan dan dua ABK yang berhasil diselamatkan, menurut dia sudah ditarik dan sandar di dermaga Ketapang Kanwil BC Kepri di Meral, Kabupaten Karimun. Berdasarkan keterangan awak kapal, jumlah bawang merah yang diangkut sekitar 3.100 karung atau 30 ton yang ditaksir senilai Rp600 juta dengan asumsi per kilogram seharga Rp20.000.

 

Kerugian material yang dialami negara, menurut dia adalah hilangnya pendapatan pajak dengan nilai diperkirakan Rp174 juta. Sedangkan kerugian immateriil adalah mengganggu perekonomian, perdagangan dan kesehatan dalam negeri. Pemasukan bawang merah asal Malaysia itu melanggar Pasal 102 huruf (a) Undang-undang No 17 tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan dengan ancaman pidana paling singkat satu tahun dan paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp5 miliar. (Zuren)