Tokoh Pendidikan Dukung Penghentian Kurikulum 2013

Diterbitkan oleh pada Kamis, 11 Desember 2014 21:57 WIB dengan kategori Karimun dan sudah 1.867 kali ditampilkan

KARIMUN - Kurikulum 2013 (K13) yang baru saja dihentikan oleh Menteri Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah (Menbud Dikdasmen) Anies Baswedan masih saja menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan.

 

Seorang tokoh pendidikan di Kundur yang enggan disebutkan namanya menyatakan dukungan terhadap penghentian K13 ini. Beliau mengungkapkan bahwa penghentian K13 merupakan keputusan yang cukup bijak walaupun ada juga pihak-pihak yang menentang keputusan itu.

 

"Saya sangat setuju, karena berdasarkan pengamatan, mendengar keluhan-keluhan dari rekan-rekan guru, dan mengikuti perkembangan dari media massa, keputusan Pak Anies itu bijak." ujarnya.

 

Lebih lanjut tokoh pendidikan yang sudah pensiun ini menyatakan bahwa K13 cukup merepotkan para guru. Walaupun barometer pendidikan Indonesia saat ini lebih pada pendekatan siswa-sentris, namun beban guru yang cukup merepotkan pada sisi evaluasi/penilaian menjadi kurikulum ini menjadi hambatan. "Dari sisi guru, proses penilaian yang lebih pada sektor kualitas itu yang berat. Waktu mengajar habis untuk menilai kualitas yang panjang dan banyak, kalau kita menilai kuantitas itu dari segi angka-angka, ada indikator dan perbedaannya." tuturnya.

 

Sementara itu, ia menilai beban bagi orang tua dan siswa ada pada ketersediaan buku pelajaran dan penunjang. "Kita tidak bisa samakan barometer Jakarta dengan wilayah kita. Kalau di Tanjungbalai atau Tanjungbatu mungkin lumayan. Kita lihat di Durai, Buru, Moro atau di pulau-pulau, ada wilayah yang listrik saja susah, apalagi jaringan. Walaupun Saya mendukung K13 ini, bagus kurikulum ini, tapi ya kita persiapan yang lebih matang lah. Masa uji coba itu yang diperpanjang, seperti kata Pak Jusuf Kalla. Pemerintah kalau mencanangkan peraturan, undang-undang harus sampai ke bawah melihatnya, bisa atau tidak." tandas beliau.

 

Menyinggung tentang peran instansi pendidikan, beliau menyatakan bahwa program pendidikan harus dibuat program kegiatan yang lebih efektif oleh dinas terkait, agar strategi pendidikan bisa maju tanpa didesak. Beliau juga menghimbau agar para guru tetap bersemangat dalam mengajar, dan lebih menitikberatkan pada pengembangan akhlak peserta didik. "Membuat anak berakhlak itu yang penting, Saya yakin para guru pasti ingin anaknya baik. Jangan terlalu berpikir soal simpang siur kurikulum ini, tetap saja mengajar. Tunggu perintah dari atasan, tapi yang penting anak didik jangan terlantar." beliau mengakhiri. (harja)