Siswa Sekolah Hinterland Masih Minim Perhatian
KARIMUN - Fasilitas di sekolah-sekolah wilayah hinterland Kabupaten Karimun masih sangat minim, dan ini berbanding terbalik dengan lajunya pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah.
Salah satu siswa di SMA Negeri 1 Buru yang berdomisili di Pulau Tanjungbatu Kecil mengaku untuk menuju ke sekolahnya setiap hari harus menyeberangi laut selama lebih kurang 15 menit menggunakan kapal laut. Belum lagi kondisi kapal laut milik masyarakat tersebut sangat memperihatinkan. Ini diungkaplah oleh Sofi salah seorang siswi SMAN 1 Buru. Ia menuturkan untuk setiap harinya ia harus berdesak-desakan didalam kapal kayu yang tidak cukup untuk mengangkut seluruh teman-temannya yang berjumlah sekitar 100 orang.
"Walau sekolah kami letaknya di Buru tapi kami tidak turun di Pelabuhan Buru, kami turun di Pelabuhan Pangkalan Balai, setelah itu kami harus berjalan kaki hampir 2 kilometer." ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan kalau turun di Pelabuhan Buru, mereka terpaksa berjalan kaki lebih jauh lagi. Dan resiko yang paling besar itu kondisi lautnya yang kurang bersahabat. "Gelombang laut besar membuat kami selalu was-was" ujarnya.
Ia mengaku prihatin terhadap kondisi transportasi mereka gunakan, sehingga ia berharap ada perhatian khusus dari pemerintah untuk memberikan bantuan kapal sebagai alat angkutan bagi dirinya dan teman-temannya. Ongkos kapal yang perlu dibayar oleh Sofi per bulannya sebesar sekitar Rp. 75.000 dan itu sudah sepaket dengan antar dan jemput.

