Akibat Kebebasan Tanpa Batas

Diterbitkan oleh Redaksi pada Senin, 16 Februari 2015 12:20 WIB dengan kategori Opini dan sudah 7.488 kali ditampilkan



Zaman modern telah menyumbangkan kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa batas dan telah masuk disetiap bagian dari kehidupan manusia. Pergaulan bebas antara dua jenis kelamin yang berakhir dengan seks bebas dan merajalelanya pornografi semakin memperparah keadaan. Hubungan seks bebas secara perlahan menjadi kemapanan dan kebiasaan di masa kini. Sebagai akibatnya, banyak sekali pemuda dan pemudi mulai hidup bersama tanpa nikah sehingga istilah “ pasangan tanpa nikah” sekarang dianggap sama sahnya dengan istilah “pasangan yang menikah”.


Hubungan seks yang dibentuk di luar ikatan pernikahan pada awalnya tampak sebagai hal yang biasa dan sepele. Namun, ketika seorang anak dilahirkan dalam situasi demikian, menjadi sangat jelas bahwa hal itu bukan masalah biasa dan sepele, tetapi itu adalah sebuah masalah yang sangat besar. Kejadian yang biasanya sangat diidamkan yaitu dengan kelahiran anak, tetapi justru berakibat sangat menyedihkan baik untuk anak itu maupun orang tuanya. Fakta berbicara, begitu banyak anak yang di bunuh di dalam kandungan (aborsi), bayi yang baru lahir di buang di tong sampah dan lain-lain. Dan masih banyak lagi perbuatan-perbuatan keji dan tidak berperikemanusiaan yang di lakukan untuk menghilangkan jejak si jabang bayi. Nauzubillah.


Akibat dari perbuatan yang bebas tanpa batas seperti binantang itu harus ditanggung oleh si anak yang tidak berdosa. Anak-anak yang dilahirkan di luar nikah harus memulai hidup mereka dengan sangat menyedihkan. Tanpa mengenali siapa ayah dan siapa ibu mereka. Mereka hidup dan besar dipanti-panti asuhan dari sejak kecil hingga dewasa, tanpa merasakan kasih sayang dan pelukan hangat dari ayah dan ibu. Sungguh malang nasib mu nak.


Kejadian seperti diatas sangat banyak terjadi di masyarakat perkotaan bahkan di perkampungan juga. Sebagai aktor utamanya adalah remaja. Begitu banyak kebebasan yang dilakukan remaja tanpa ada batasannya. Ini merupakan salah satu penyakit sosial yang paling menyusahkan dan meresahkan. Tentunya permasalahan seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Peranan pemerintah, orang tua,ulama, guru, tokoh masyarakat dan ormas sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini.

 

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini. Pertama, mencetak individu-invidu yang taat kepada agama seperti: akidahnya benar, ibadahnya benar, berdaya guna, mandiri, pandai mengatur waktu dan terakhir berguna bagi orang lain. Kedua, membangun keluarga yang agamais. Maksudnya adalah dengan menikahnya individu-individu yang taat, maka akan terbentuklah suatu keluarga yang mana masing-masing pasangan memiliki pemahaman agama yang lurus. Ketiga, menciptakan lingkungan masyarakat yang taat beragama. Point ketiga ini akan terwujud dengan sendirinya apabila pada poin pertama dan kedua sudah terwujud. (adie)