Lamban Deteksi Teroris, Jokowi : Kinerja Intelijen Perlu Dikaji

Diterbitkan oleh pada Jumat, 15 Januari 2016 08:44 WIB dengan kategori Liputan Khusus dan sudah 1.243 kali ditampilkan

Teror bom yang terjadi di kawasan gedung Sarinah Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis (14/1) kemarin dinilai The Jokowi Institute sebagai kegagalan kinerja intelijen Negara. Sebab aksi yang dilakukan para teroris dekat dengan Istana Negara yang merupakan lambang Kedaulatan Negara.

 

“Kami turut berbela sungkawa kepada korban yang mengalami penderitaan baik fisik maupun secara psikis. The Jokowi Institute punya catatan pada kinerja intelijen Negara, karena apa yang terjadi merupakan ujian terbuka buat institusi ini, dan penilaian langsungnya disuguhkan di depan publik. Kalau seperti itu efeknya, pola kerja intelijen kita perlu dikaji ulang,” ujar peneliti utamaThe Jokowi Institute, Amir Hamzah kepada wartawan, di Jakarta, Kamis malam.

 

Pihaknya menilai badan intelijen negara yang dipimpin Sutiyoso gagal mendeteksi gangguan keamanan di Jakarta. Karena justru di tempat yang merupakan Ibu Kota Republik Indonesia, para teroris bisa leluasa mempertontonkan kejahatannya.

 

“Kami menyayangkan peristiwa ini. Untung saja ada aparat kepolisian yang memang sudah menetapkan wilayah itu harus dijaga sejak puluhan tahun lalu. Personil mereka rutin disana. Jadi, yang berhasil itu justru Polri. Bukan intelijen,” ujarnya.

 

Menurut Amir Hamzah, akibat kegagalan intelijen mendeteksi dan bahkan menanganinya, masyarakat yang menjadi korban. "Bayangkan saja bagaimana kalau keluarga kita sendiri yang menjadi korban dalam aksi terorisme yang jahat itu. Masa kita harus mengalami kepahitan baru menyadari ada kelalaian instrumen intelijen?" kata dia.

 

The Jokowi Insitute masih menurut Amir, mengutuk keras aksi teroris yang dilakukan oleh kelompok jahat beraliran radikal itu."Apapun alasannya aksi pemboman itu tidak dibenarkan," ungkapkanya.

 

Sumber