Jombang Darurat DBD, ACT Lakukan Fogging

Diterbitkan oleh pada Selasa, 2 Februari 2016 20:58 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 631 kali ditampilkan



Kepala Desa Bongkot,  Hj.Khoiriyah mensyukuri kehadiran tim fogging ACT ke desanya. Menurutnya, Bongkot sangat memerlukan pengasapan karena sudah banyak korban berjatuhan. ”Ini untuk menekan penyebaran nyamuk aedes aegypty, minimal bisa menghentikan siklusnya,” ujar Kades Khoiriyyah. Selain Kades Bongkot, Camat Peterongan Hj. Aminatur Rokhiyah pun tampak ikut mendampingi tim pengasan ACT.
 
Camat Hj.Aminatur sangat mengapresiasi langkah cepat tim ACT untuk melakukan pengasapan di Desa Bongkot. ”Hampir seluruh wilayah Kabupaten Jombang dalam kondisi darurat DBD. Kami berharap ACT mendatangi juga desa yang lain karena saat ini kasus DBD di Kecamatan Peterongan semakin meningkat dan mengkhawatirkan. Apalagi,sudah ada warga kami yang meninggal dunia akibat DBD beberapa hari lalu,” ujar Aminatur.
 
Dari data yang berhasil ACT himpun di lokasi, wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jombang tercatat cukup tinggi.  Tahun 2015 lalu, Dinas Kesehatan setempat mencatat sekitar 640 kasus dengan angka kematian mencapai 15 orang. Sedangkan di awal tahun atau sampai pertengahan bulan Januari ini tercatat sekitar 143 kasus dengan total angka kematian sebanyak 6 orang. Ironisnya, seluruh korban berasal dari rerata usia 15 tahun ke bawah. Jumlah korban dan kasus pada awal tahun ini pun tak jauh berbeda dengan bulan Januari tahun kemarin, yang tercatat sekitar 154 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 7 kasus.
 
“Bupati Nyono harus segera menetapkan status KLB-DBD agar tidak jatuh korban lebih banyak. Kondisi saat ini sudah mengarah pada keadaan yang sangat mengkhawatirkan”ujar pegawai Dinkes yang engan disebutkan namanya. Seperti diberitakan sebelumnya, Bupati Jombang, Nyono Suharli Wihandoko, enggan menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) terhadap DBD. Dia beralasan, penetapan status KLB bukan satu-satunya jalan keluar untuk menanggulangi kasus demam berdarah di Jombang. Menurutnya, status KLB membutuhkan anggaran yang cukup besar  sedangkan saat ini Pemkab belum memiliki cadangan dana untuk menanggulangi kasus DBD.
 
Korban tewas terus berjatuhan akibat serangan DBD di Jombang. Nikmatur Rosyidah, bocah 6 tahun asal Desa Ngrawe Morosunggingan Kecamatan Peterongan, meregang nyawa di RSUD Jombang. Artinya sudah enam anak meninggal dunia karena DBD. Saat dirujuk, kondisi Nikmatur sudah dalam kondisi kritis atau dengue shock syndrome. Kondisi pasien saat dirawat sempat membaik tetapi saat akan dipindah dari ruang ICU Seruni, kondisi pasien memburuk dan mengalami sesak nafas. Dokter spesialis anak berusaha memberikan pertolongan namun kondisi pasien tak tertolong lagi. Nikmatur dinyatakan meninggal dunia Senin lalu (25/1) pukul 08.00 WIB.
 
Sebelumnya pada tanggal Sabtu (23/1) lalu di rumah sakit yang sama juga meninggal dunia korban kelima atas anama M IKhsan Baihaqi (15), warga Dusun Sanan, Desa Puton, Kecamatan Diwe. Tercatat ada 139 pasien penderita DBD yang dirawat di RSUD mencapai 139 orang dan diperkirakan terus bertambah hingga Februari mendatang. Pasalnya, fase penyebaran DBD biasanya ada pada bulan Oktober sampai dengan pertengahan atau akhir bulan Maret. 
 
Empat korban tewas lainnya adalah Alisa Aqila Rafa (3), asal Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek, yang meninggal di RSUD Jombang pada Minggu (10/1). Selanjutnya Andik, asal Dusun Dayangan, Desa Genukwatu, Kecamatan Ngoro, meninggal pada Selasa (12/1). Korban ketiga adalah Diki Abrizal Saputra (8), warga Dusun Ngrandu, Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan meninggal pada Jumat (15/1), serta Kismullah Abdul Hakim (9), warga Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben. 
 
Kusmayadi Komandan Disaster Emergency & Relief Management (DERM)-ACT berharap pemerintah Kabupaten Jombang bisa bersinergi dengan berbagai stakeholders agar penanganan kasus DBD di Kota Santri ini segera teratasi. ”Kami berharap, kasus DBD Jombang yang terus berulang-ulang setiap tahunnya bisa diatasi dengan baik dan benar.Sinergi pemerintah dengan berbagai pihak swasta akan banyak membantu proses penanganan. ACT siap mendampingi proses penanganannya.” tegas Kusmayadi.
[]
 
Penulis: Ading Fachruddin